Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_66


__ADS_3

Keesokan harinya, Rio bertanya ke beberapa karyawan bagian office girl yang bekerja di Dirgantara Group. dia menanyakan siapa teman terdekat Rara saat dia bekerja disana. sebagian besar dari mereka mengatakan jawaban yang sama.


satu-satunya teman terdekat Rara itu Bu Susan. yang sekaligus atasan mereka dibagian cleaning service.


Rio langsung memanggil Bu Susan agar menemui dia diruangannya.


Beberapa saat kemudian Bu Susan sudah berada diruangan Asisten pribadi atasannya.


mereka saling duduk berhadapan.


"Maaf Pak, ada apa bapak memanggil saya?" Bu Susan bertanya kepada Rio.


"Iya, ada yang ingin saya tanyakan kepada Ibu." ucap Rio yang sudah menatap Bu Susan.


"Silahkan Pak." Bu Susan mempersilahkan Rio untuk bertanya.


"Apa Ibu teman terdekat Rara saat dia bekerja disini?" tanya Rio


"Iya Pak, memangnya kenapa?"


"Saya hanya pernah mendengar jika Rara sudah menikah. apa itu memang benar?" tanya Rio


"Memangnya kenapa Bapak tiba-tiba menanyakan Rara?"


"Saya hanya tertarik saja kepada dia. saya beberapa hari ini terus memikirkannya.


entahlah, mungkin saya merindukannya karena sudah lama tidak melihatnya." Rio berucap sambil sedikit membayangkan wajah cantik Rara. sehingga dia terus tersenyum mengembang.


Bu Susan melihat atasannya yang tampak sumringah membicarakan Rara. dia berpikiran jika Rio belum mengetahui Rara mantan istri dari Juna.


"Apa Pak Rio mencintai Rara?"


"Mungkin, saat itu saya ingin mendekatinya. tapi saya melihat Pak Rey yang sepertinya dekat sekali dengan dia. saya kira mereka pasangan." ucapnya


"Maaf Pak, Rara sudah menikah." ucap Bu Susan


Arah pandang Rey masih menatap Bu Susan.


"Tapi sudah berpisah dengan suaminya." ucapnya lagi.


"Berpisah? emm bagus kalau begitu saya bisa mendekatinya. apa ibu punya nomor ponselnya yang bisa dihubungi? saya ingin pendekatan dengan dia." ucap Rio


"Ada, tapi itu privasi, maaf saya tidak bisa memberitahukan ke sembarang orang." ucap Bu Susan

__ADS_1


"Lah terus saya gimana Bu, mau pendekatan masa tidak punya nomor ponselnya." rengek Rio


"Pak Rio berjuang sendiri lah, kalau tidak ada hal penting yang ingin Bapak bicarakan lagi, saya pamit." Bu Susan segera pergi meninggalkan ruangan itu. karena menurutnya, hal yang Rio bicarakan itu tidak penting sekali. tadinya dia mengira jika atasannya itu akan membahas masalah pekerjaan.


Sebenarnya Rio sengaja berbicara seperti itu agar Bu Susan tidak curiga kepadanya yang tiba-tiba menanyakan Rara. Rio mengingat lagi saat Bu Susan mengatakan jika Rara sudah bercerai. itu berarti dia tahu masalah pribadi Rara. Rio berniat akan menyelidiki Bu Susan.


Sore harinya semua karyawan bersiap-siap untuk pulang. Rio memilih untuk pulang belakangangan karena dia akan mengikuti


Bu Susan.


Rio yang sudah berada di dalam mobil masih memantau Bu Susan yang sedang berdiri menunggu jemputan. tak lama kemudian, suami Bu Susan datang. lalu Bu Susan segera naik ke atas motor.


Rio membuntuti motor yang di kendarai Bu Susan dan suaminya. hingga motor itu berhenti disebuah toko kue. Pak Sam masuk ke dalam toko sedangkan Bu Susan pergi menuju Mess karyawan.


Rio yang baru turun dari mobil tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.


Bugh


"Eh sorry, saya tidak sengaja" ucap Rio lalu dia menatap orang yang ditabraknya.


"Loh Pak Rey ngapain disini?" tanya Rio


"Kamu sendiri ngapain?"tanya Rey


"Biasa, tugas negara."


"Eh mau kemana?" tanya Rey


"Loh, kok Pak Rey ngikutin saya?"


"Saya yang harusnya nanya seperti itu, kenapa kamu juga jalan lewat sini?" tanya Rey


"Sstt, pelankan suaramu Pak Rey." ucap Rio saat dia melihat Rara dari jarak kejauhan.


Rey melihat arah pandang Rio. ternyata Rio sedang menatap Rara.


"Oh, jadi Anda kesini mau nyamperin Rara?" tanya Rey


"Siapa bilang saya mau nyamperin Nona Mutiara? kenal juga tidak."


"Katanya tidak kenal tapi tahu kalau namanya Mutiara." selidik Rey


"Terus Pak Rey sendiri ngapain disini?" tanya Rio mengalihkan pembicaraannya.

__ADS_1


Belum juga Rey menjawab, tiba-tiba terdengar suara tangisan Baby Zie sangat kencang. Rara yang sedang duduk di teras segera masuk ke dalam.


"Itu suara anaknya siapa?"tanya Rio kepada Rey


"Anaknya Rara lah" ucap Rey


"Memangnya Nona Mutiara sudah punya anak?" tanya Rio


"Sudah, tapi bodoh sekali itu suaminya sudah menyia-nyiakan wanita secantik Rara." ucap Rey yang sudah geram


"Maksudnya?" tanya Rio


"Ngapain nanya-nanya? sepertinya Anda sangat kepo dengan kehidupan Rara."


Belum sempat Rio menjawab, mereka merasa ada yang menepuk bahunya.


"Ngapain kalian sembunyi dibalik tembok rumah orang? kalian mau maling yah?" tanya salah satu warga yang melihat gerak-gerik mereka yang tampak mencurigakan.


"Tidak Kok Pak, Kami hanya mau mampir tempat saudara." jawab Rey


"Ngaku saja deh, lalu kenapa kalian ngumpet disini?" tanyanya lagi


"Tidak ngumpet kok, saya hanya bersembunyi." ucap Rio


Sebelum orang itu membuat warga yang lain berlkumpul, Rey mengajak Rio untuk pergi dari sana.


kini keduanya sudah sampai di dekat mobil mereka. mereka segera memasuki mobil masing-masing dan beranjak pergi.


Rara yang sudah masuk ke dalam Mess melihat Baby Zie yang menangis di gendongan Bu Susan.


"Loh kok Baby Zie nangis Bu?"tanya Rara


"Pipis Ra" kata Bu Susan


Rara melihat Baju Bu Susan yang sudah basah.


"Aduh ibu jadi basah deh, turunin Baby Zie Bu, biar Rara pakaikan pampersnya." pinta Rara


Bu Susan menurunkan Baby Zie dari gendongannya lalu Rara segera melepas celana yang basah. Rara segera memakaikan pampers kepada Baby Zie.


"Maaf yah Bu, ibu jadi basah deh bajunya. tadi siang saat Baby Zie pup, Rara lupa pakaikan pampers lagi." Rara merasa tidak enak hati kepada Bu Susan.


"Tidak apa-apa, ya sudah Ra, saya pulang dulu." Bu Susan langsung pamit pulang karena dia tidak membawa baju ganti.

__ADS_1


"Hati-hati Bu, sekali lagi saya minta maaf."


"Iya Ra" Bu Susan terlebih dahulu mencium kedua pipi Baby Zie sebelum dia beranjak pergi.


__ADS_2