
Zivana terus mengikuti kemana Sela membawa suaminya. kini Zivana menghentikan langkahnya saat dia melihat Sela membuka sebuah pintu kamar hotel. Zivana segera mendekati mereka namun keburu Sela masuk dan mengunci pintu itu.
Sial, mau ngapain dia? apa mau menjebak suamiku? bagaimana jika nanti ada berita perselingkuhan antara mereka berdua. jika itu masuk media pasti akan mempengaruhi bisnis Papah. aku harus mengusir wanita itu." batin Zivana lalu dia berjalan terburu-buru menuju ke resepsionis untuk meminta kunci cadangan. dia juga memperlihatkan foto pernikahannya dan Alvin agar kedua resepsionis itu percaya. kini Zivana sudah mendapatkan kunci itu. dia berjalan cepat menuju ke kamar dimana Sela mengajak suaminya masuk.
Kini Zivana sudah berada di depan kamar. dia menarik nafas panjang sebelum dia masuk ke dalam.
Cklek
Pintu itu terbuka lalu Zivana segera masuk ke dalam. dia melihat Sela yang sudah tanpa busana. namun Alvin masih berpakaian lengkap.
"Hey j*lang, lepaskan suamiku!" teriak Zivana saat melihat Sela yang sedang berusaha membuka kancing kemeja Alvin.
"Suamimu? kamu yakin jika dia mencintaimu?"
"Cepat pergi! atau mau aku panggilkan keamanan biar kamu malu," ucap Zivana mengusir Sela.
Zivana melihat Sela yang mulai memakai pakaiannya kembali.
Sela berjalan meninggalkan kamar itu dengan menghentak-hentakan kakinya. rencananya untuk menjerat Alvin telah gagal karena kedatangan Zivana.
Zivana mendekati suaminya dan akan membantu memapah keluar kamar. kini Zivana mulai mengancingkan lagi kancing baju suaminya yang terbuka. namun Alvin menahan tangannya dengan kuat.
"Lepas! aku mau kancingkan bajumu," ucap Zivana kepada suaminya.
Namun Alvin malah mendorong Istrinya sehingga saat ini posisinya tidur terlentang di atas kasur. Alvin melanjutkan membuka kancing kemejanya. Zivana hendak berajak dari kasur, namun keburu Alvin mengunci pergerakannya. kini Alvin berada di atas Istrinya. Zivana memberontak meminta di lepaskan. namun itu hanya sia-sia. bahkan kini tubuhnya polos tak memakai apapun.
Alvin yang setengah sadar menatap tubuh polos Istrinya. dia buru-buru menyerang Zivana. saat ini gairahnya menggebu-gebu dan harus di tuntaskan.
Zivana mulai menangis saat suaminya menyentuhnya. dia memeberontak namun tenaganya kalah dengan Alvin.
__ADS_1
Aku menyesal, kenapa aku tadi berfikiran jika keberadaan Mas Alvin dan Sela disini akan menyebabkan reputasi perusahaan Papah jelek, harusnya aku biarkan saja. tapi kenapa aku malah masuk dan menghentikan mereka? apa aku cemburu? tapi, untuk apa aku cemburu kepada lelaki yang hanya berniat jahat kepadaku." batin Zivana hingga dia tak menyadari jika saat ini Alvin hendak memasukan miliknya.
"Aww sakit," Zivana meringis saat merasakan miliknya seperti di hantam sesuatu yang menyakitkan.
"Sttt, kenapa jadi susah sekali Sel?"Alvin mengira jika wanita yang saat ini ada di bawahnya itu Sela.
Alvin kembali mencobanya dan kali ini berhasil. dia melakukannya dengan kasar karena baginya saat ini Sela berbeda. dia masih belum menyadari jika wanita itu Zivana bukan Sela.
"Kenapa kali ini kamu sangat nikmat," racau Alvin yang masih fokus melakukan aksinya.
"Aww sakit hiks hiks, Papah aku ternoda hiks hiks," Zivana terus menangis karena merasakan sakit yang luar biasa. apalagi Alvin melakukannya tanpa henti.
Hingga kini Zivana sudah kelelahan tak bertenaga. Alvin melihat wanita di bawahnya diam tak bersuara. dia memilih untuk menyudahi aksinya. Alvin merebahkan diri di samping Istrinya. dia sangat puas karena baginya saat ini pertama kalinya dia merasakan nikmat yang luar biasa.
Tengah malam Zivana tersadar. dia merasa sakit di sekujur tubuhnya. Zivana memilih untuk turun dari atas ranjang. dengan sedikit menyeret kakinya dia memasuki kamar mandi. dia menangis di bawah guyuran air sower. ada rasa tak rela saat harta paling berharga miliknya di renggut paksa. walaupun itu oleh suaminya sendiri.
Zivana keluar dari kamar mandi. dia memakai kembali pakaiannya lalu segera keluar dari kamar itu.
Taxi itu berhenti namun ternyata membawa penumpang.
"Ayo masuk!" ucap seorang lelaki tampan yang duduk di kursi penumpang.
Lelaki itu masih menatap Zivana dari jendela mobil.
"Ayo masuk! aku bukan orang jahat kok," ucapnya lagi
Akhirnya Zivana memilih untuk masuk ke dalam mobil itu. dia duduk di sebelah lelaki itu.
"Mau saya antar kemana?" tanya lelaki itu
__ADS_1
Zivana masih diam dan terlihat melamun.
"Kamu sakit?" lelaki itu menepuk pelan bahu Zivana.
"Eh" Zivana tersadar dari lamunannya.
"Aku tidak apa-apa kok, antar ke Perumahan Indah Permai nomor 12, tolong yah," ucap Zivana
"Baiklah," ucap lelaki itu lalu dia menyuruh supir taxi terlebih dahulu mengantarkan Zivana.
Kini taxi itu sudah sampai di depan rumah Alvin. Zivana mengucapkan terima kasih kepada lelaki itu. lalu dia memberikan uang ratus ribuan kepada lelaki itu.
"Ini untuk tambahan membayar taxi," Zivana menyodorkan uang kepada lelaki di sampingnya.
"Tidak usah, biar dari aku saja uangnya," ucap lelaki itu
"Makasih," ucap Zivana
Zivana hendak turun namun lelaki itu menahan tangannya.
"Siapa namamu?"
"Aku Zivana," jawab Zivana
"Aku Aldo, salam kenal," kini Aldo saling berjabat tangan dengan Zivana.
Setelah berkenalan dengan Aldo, Zivana segera turun dari taxi.
Cantik juga Zivana, tapi sepertinya dia sedang ada masalah." batin Aldo sambil menatap Zivana yang sedang berjalan menjauh.
__ADS_1
°°°