
Pak Juna dan Eza sudah membicarakan penawaran mereka kepada Sela dan Bu Luna. Ternyata Bu Luna menyetujuinya. Sebenarnya Bu Luna sempat menolak tawaran itu karena merasa tidak enak kepada Juna dan keluarganya. Dia tidak mau ada masalah lagi dengan keluarga Dirgantara. Namun, dia menyetujuinya demi Sela dan anak yang di kandungnya.
Saat ini Eza dan Farizki mengantar Sela untuk tinggal di Vila milik keluarga Dirgantara yang ada di puncak. Sela akan tinggal disana untuk sementara waktu. Itu semua agar tidak ada orang yang tahu, bahkan publik tidak boleh mengetahui kehamilan Sela. Apalagi jika nama keluarga Dirgantara di sorot media, bisa-bisa bisnis yang sudah Pak Juna bangun selama ini akan hancur dalam sekejap mata.
"Akhirnya sampai juga," gumam Eza sambil menatap bangunan Vila yang sangat indah.
Ketiganya keluar dari dalam mobil. Eza hanya bicara seperlunya saja kepada Sela. Itu juga karena ada Farizki yang mengawasinya.
Eza menaruh koper milik Sela di depan Vila. Lalu dia mengambil kunci untuk membuka pintu.
"Za, apa kita langsung pulang?" tanya Farizki
"Tunggu sebentar dulu, kita tunggu Lina dulu."
"Siapa Lina?" tanya Farizki
"Yang bertugas membersihkan vila ini, sebelumnya aku sama Kak Zie pernah menginap disini loh. Terus kami ketemu sama Lina."
Tok tok
Mereka bertiga mendengar ketukan pintu.
Eza keluar dan melihat Lina bersama dengan seorang wanita paruh baya sedang berdiri disana.
"Eh Lina," Eza menatap Lina yang sedang berdiri di depan pintu. "Ini siapa?" Eza beralih menatap wanita paruh baya yang berdiri di samping Lina.
"Ini Ibuku, namanya Bi Asih."
"Oh, yang pernah kamu ceritakan itu yah," ucap Eza lalu dia kembali menatap Bi Asih. "Kenalin Bu, Saya Eza anaknya Pak Juna."
"Wah jadi putranya Pak Juna sudah sebesar ini? Saya lihat Den Eza, itu dulu saat masih kecil. Pak Juna dan Bu Rara sering sekali mengajak anak-anaknya menginap disini."
"Iya Bu, kami sibuk juga sih. Jadi jarang berlibur. oh iya Lin, Bi Asih, mari masuk!"
"Makasih Den," ucap Bi Asih
Keduanya masuk ke dalam mengikuti Eza.
Eza meminta Bi Asih dan Lina untuk tinggal di Vila menemani Sela. Dia juga memberitahu jika Sela sedang hamil. Namun tidak mengatakan jika anak yang sedang Sela kandung itu anaknya.
Sela menghampiri Eza yang akan keluar dari Vila. Kebetulan tadi Eza dan Farizki sudah berpamitan untuk pulang.
__ADS_1
"Sayang, kamu tidak akan menginap semalam dulu disini?" tanya Sela sambil memeluk Eza dari belakang.
"Tidak, nanti aku kena marah sama Mamah," Eza melepaskan pelukan Sela.
Dia membalikan badannya sehingga kini berhadapan dengan Sela.
"Maaf yah, aku harus pulang," Eza menatap Sela yang terlihat sedih.
"Kalau kangen tidak ketemu dong."
"Aku akan datang jika kamu akan melakukan pemeriksaan. Aku akan menemanimu." kata Eza
"Terima kasih," ucap Sela lalu mengecup sekilas bibir Eza.
"Sama-sama," Eza mengusap sudut bibir Sela.
Dari kejauhan, Lina melihat kedekatan Eza dan Sela.
Kok Kak Eza dan Non Sela sedekat itu, bukankah Kak Sela sedang hamil. atau jangan-jangan anak yang ada di kandungannya itu anak Kak Eza.' batin Lina yang sedang memperhatikan mereka.
Lina kembali mengingat kedekatannya dengan Eza, saat Eza menginap di vila beberapa saat yang lalu. Bahkan Eza mengajaknya jalan bareng.
°°
Saat ini Lina sedang melayani Sela yang sedang sarapan.
"Non, ini susunya di minum dulu," Lina menaruh gelas berisi susu ibu hamil di depan Sela.
"Terima kasih, Lin."
"Sama-sama Non, saya pamit ke belakang lagi."
"Iya Lin,"
Tring tring
Sela mendengar ponselnya berdering. Ternyata Eza yang menelfonnya.
📞"Hallo, sayang," ucap Sela
📞"Hallo Sel, aku lagi di jalan nih mau ke vila. Nanti aku temani kamu periksa."
__ADS_1
📞"Makasih sayang, kamu selalu perhatian sama aku."
📞"Ini sudah menjadi tugasku," jawab Eza
Tiba-tiba Sela merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya.
📞"Sayang sudah dulu yah, aku mau ke belakang." Sela mematikan panggilan telfonnya begitu saja.
"Aww sakit, aduh sakit sekali," Sela memegangi kepalanya.
"Non Sela, Non kenapa?" Lina menghampiri Sela.
"Kepalaku sakit sekali, Lin." setelah mengatakan itu, Sela langsung pingsan.
Lina berteriak memanggil Ibunya. Terlihat Bi Asih datang menghampirinya. Dia dan Ibunya membantu memapah Sela hingga ke kamarnya. Saat ini Sela di tidurkan di atas ranjang. Lina mengoleskan minyak kayu putih ke hidung Sela. Namun belum ada reaksi apa pun.
"Bu, apa Ibu bisa membantu Lina?" Lina menatap Ibunya yang sedang berdiri di dekat ranjang.
"Iya Nak, apa Ibu perlu panggilkan Dokter?"
"Sepertinya kita bawa Non Sela ke rumah sakit saja, Bu. Lina khawatir dengan keadaannya."
"Biar Ibu cari kendaraan dulu, Lin. sebentar yah," Bi Asih berlalu pergi dari kamar itu.
Bi Asih sudah menyewa kendaraan untuk mengantar mereka ke rumah sakit. Kini mereka sudah di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit terdekat.
Sela di bawa ke ruang pemeriksaan. Bi Asih dan Lina masih menunggu Sela selesai di tangani oleh Dokter.
Terlihat Dokter keluar dari ruangan.
"Pak, bagaimana dengan kondisi Non Sela?" Bi Asih bertanya kepada Dokter.
"Maaf sebelumnya, tapi saya harus mengatakan hal yang sangat serius ini. Nona Sela mengalami kanker otak stadium awal. Tentu ini sangat berbahaya untuk kandungannya jika Nona Sela melakukan pengobatan untuk penyakitnya." jelas Pak Dokter
"Lalu, apa yang harus di lakukan?"
"Satu-satunya jalan harus menggugurkan kandungannya. Barulah melakukan pengobatan untuk penyakitnya. Karena jika di biarkan saja, penyakitnya akan semakin parah."
"Nanti kami bicarakan dulu sama Non Sela, Apa kami sudah bisa menengoknya?"
"Bisa Bu, silahkan masuk!"
__ADS_1
Bu Asih dan Lina masuk ke ruang pemeriksaan untuk melihat keadaan Sela saat ini.
°°°