Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 96


__ADS_3

Eza dan Lina sudah sampai di rumah. Bu Luna dan Bu Asih menyambut hangat pasangan pengantin yang baru sah itu.


"Aduh, Kalian sudah pulang nih, bagaimana malam pertamanya?" tanya Bu Luna sambil menyalami keduanya.


"Lancar, Bu." jawab Eza dengan sedikit tersenyum.


Lina menunduk malu mendengar ucapan suaminya.


"Bu, Lina mau ke kamar dulu yah," ucap Lina sambil menatap Bu Luna dan Bu Asih.


"Iya Nak, kamu pasti cape semalam begadang," ucap Bu Luna


Lina hanya tersenyum saja, lalu dia melangkah masuk ke rumah.


Hanya sebentar Eza mengobrol dengan Bu Luna dan Bu Asih. Sekarang dia sudah menyusul istrinya ke kamar.


Eza membuka pintu kamar, dia melihat istrinya yang sedang duduk di sofa. Eza mendekati istrinya lalu duduk di sebelahnya.


"Lin, semalam aku mimpi jika Sela---" Eza tak melanjutkan perkataannya saat melihat istrinya beranjak dari duduknya. Lalu Lina menyibukan diri dengan membereskan pakaian mereka dan barang-barang lainnya yang ada di dalam koper.


"Lin," Eza memanggil Lina.


"Hm," Lina hanya menjawab seperlunya saja. Bahkan saat bicara dia tidak menoleh ke suaminya.


"Kamu kok mendadak aneh?"


"Tidak kok, biasa saja."


Eza memilih untuk duduk di sofa. Dia memperhatikan Lina yang terlihat masih sibuk.


Setelah membereskan semuanya, kini Lina melangkah keluar kamar.


Eza masih menatap Lina dengan tatapan bingung. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa Lina terlihat mendiaminya.


Apa mungkin dia menyesal telah melakukan malam pertama denganku,' batin Eza.


Bu Luna melihat Lina yang kini menghampiri Alana.


"Lin, kamu kenapa tidak istirahat saja di kamar?"

__ADS_1


"Masih pagi, Bu. Lagian ngapain pagi-pagi di kamar?"


"Temani suami kamu dong, kalian kan pasangan yang baru menikah. Pasti lagi asyik-asyiknya berduaan." kata Bu Luna


"Nanti saja, Bu." ucap Lina


Eza merasa bosan di kamarnya. Dia memilih untuk pergi ke bengkel.


Eza menghampiri Bu Luna yang sedang duduk bersama Lina dan Alana.


"Lin, Bu, aku mau pamit ke bengkel," ucap Eza.


"Kok ke bengkel sih, kamu itu baru menikah loh. Lebih baik di kamar saja biar Alana cepat dapat adik," ucap Bu Luna.


"Bosan kalau di kamar terus, lagian ada waktu nanti malam," ucap Eza lalu dia mendekati Bu Luna dan berbisik. "Kasihan milik Lina pasti masih perih."


Bu Luna tersenyum mendengar perkataan Eza.


"Tenang, Za. Nanti ibu kasih salep."


"Nah Ibu nih pengertian sekali, ya sudah Eza pamit dulu," Eza berjabat tangan dengan Bu Luna. Lalu dia juga berjabat tangan dengan Lina.


°°°


°°°


Terlihat Zivana baru keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamar pribadi suaminya. Saat ini dia hanya menggunakan handuk saja. Zivana menghampiri suaminya yang sedang tiduran di atas kasur.


"Mas, baju aku mana?"


"Nanti, sayang. Tio belum nyampai."


Zivana mendudukan dirinya di pinggiran ranjang.


Alvin mengambil handuk yang menutupi kepala istrinya. Dia membantu mengeringkan rambut istrinya.


"Mas, disini tidak ada hair drayer yah?"


"Tidak ada, sayang. Tapi nanti Mas beli deh biar kamu gampang kalau mau mengeringkan rambut."

__ADS_1


"Sekalian nanti Zie bawa beberapa pakaian untuk di taruh disini."


"Nah kamu pintar, berarti boleh nih kalau tiap hari kita melakukannya di kantor," ucap Alvin.


"Ya tidak setiap hari juga, Mas. Nanti pekerjaan kita malah terbengkalai."


"Kan ada Tio," ucap Alvin.


"Kasihan kalau dia kerja sendiri nanti keteteran."


"Nanti Mas carikan sekretaris deh untuk dia."


"Jangan, Mas! Biarkan saja Kak Tio kerja sendiri. Kalau nanti punya sekretaris malah repot jika mereka cinlok. Gagal dong usaha kita mendekatkan Kak Tio dan Kak Desi."


"Benar juga sih, ya sudah deh tidak jadi."


"Mas Alvin keluar dulu dong tungguin Kak Tio," pinta Zivana.


"Baiklah, kalau tidak datang-datang juga biar Mas potong gajinya." Alvin melangkah keluar dari kamar pribadinya.


Alvin membuka pintu ruang kerjanya. Dia melihat Asisten Tio sudah berdiri disana.


"Baru datang?" tanya Alvin.


"Sudah sejak tadi, tapi saya ketuk pintu tidak di bukain," jawab Asisten Tio.


"Maaf, saya kira kamu belum datang. Tadinya mau di potong gaji."


"Jangan, Pak!"


"Tidak kok, oh iya, saya tidak jadi mencarikan kamu sekretaris. Kamu bekerja sendiri saja."


"Loh kenapa, Pak?"


"Itu permintaan istri saya, ya sudah saya masuk lagi." Alvin kembali masuk dan menutup pintu ruangannya.


Semakin lama Pak Alvin sama Nona Zivana semakin aneh saja," gumam Asisten Tio. Lalu dia pergi dari tempatnya berdiri.


°°°°

__ADS_1


__ADS_2