
Setelah pulang dari Yogyakarta, Alvin dan Zivana hanya bersantai di rumah. Bahkan Alvin sengaja meliburkan diri dengan tidak pergi ke kantor.
Alvin melihat Istrinya sedang membuka kantong berisi oleh-oleh yang mereka beli kemarin.
"Sayang, kamu lagi ngapain?" Alvin mendekati Istrinya lalu duduk di sebelahnya.
"Ini loh aku lagi memisahkan oleh-oleh yang kita beli. Zie bungkusin satu-satu." ucap Zivana tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Mau kamu bagiin kapan?"
"Nanti saja yuk," ucap Zivana.
"Boleh sih, tapi kita pergi sebentar saja yah. Setelah membagikan oleh-oleh, kita langsung pulang." kata Alvin
"Baiklah," jawab Zivana.
Zivana melihat jam yang menempel di dinding.
"Mas, sepertinya kita pergi setelah jam makan siang saja deh. Nanggung nih sudah jam segini." ucap Zivana
"Terserah kamu saja, sayang." ucap Alvin
Tok tok
Mereka mendengar pintu kamarnya di ketuk. Zivana membuka pintu kamar dan melihat Bi Salma sedang berdiri disana.
"Ada apa, Bi?" tanya Zivana.
"Bibi cuma mau memberitahu jika makan siang sudah siap, Neng." ucap Bi Salma
"Baik, Bi. Nanti Zie langsung makan siang sama Mas Alvin."
"Kalau begitu bibi permisi dulu," Bi Salma pergi dari hadapan Zivana.
Zivana kembali menutup pintu kamarnya. Dia menghampiri suaminya yang sedang duduk sendirian.
"Mas, tadi kata bibi makan siang kita sudah siap," ucap Zivana kepada suaminya.
"Ya sudah, sekarang saja kita makan siangnya." ucap Alvin lalu beranjak dari duduknya.
Kini mereka keluar dari kamar untuk makan siang.
Setelah selesai makan siang, Zivana menghampiri Desi. Dia menanyakan jika anaknya sudah di kasih makan apa belum. Ternyata Baby Rayan sudah makan siang juga. Zivana menitipkan Baby Rayan kepada Desi. Karena dia tidak akan mengajak anaknya. Lagian dia hanya pergi sebentar saja.
__ADS_1
Setelah istirahat sebentar, kini Alvin dan Zivana memilih untuk pergi. Mereka membawa oleh-oleh yang akan di bagikan kepada keluarganya. Bukan hanya orang tua dan adiknya saja yang di belikan oleh-oleh, namun Zivana juga akan memberikan oleh-oleh untuk Alana dan Bu Luna juga.
Kini mereka sedang ada di perjalanan menuju ke rumah orang tuanya.
Tak terasa sudah cukup lama mengemudi. Kini mobil yang di kendarai Alvin sudah sampai di depan kediaman Dirgantara. Keduanya langsung keluar dari mobil.
Bu Rara membuka pintu rumah. Karena kebetulan akan keluar sebentar. Namun Bu Rara melihat kedatangan niatnya.
"Zie, Alvin, kalian sudah pulang?" tanya Bu Rara yang kini sedang berdiri di depan rumah.
"Iya, Mah. Mamah mau kemana?" tanya Zivana.
"Mau pergi nih, tapi kalian datang. Ya sudah nanti saja perginya."
Bu Rara mempersilahkan Alvin dan Zivana untuk masuk ke rumah.
Kini mereka duduk di ruang keluarga.
"Ini Mah, Zie bawakan oleh-oleh untuk Mamah, Papah, Eza dan Iki," ucap Zivana
"Wah, oleh-oleh apa nih?" Bu Rara membuka paper bag yang di kasih oleh anaknya.
"Ada baju batik, ada tas juga untuk Mamah, coba deh di buka pasti Mamah suka."
"Wah, iya nih bagus. Makasih yah sayang." Bu Rara terlihat senang mendapatkan oleh-oleh dari anaknya.
Hanya sebentar Zivana di rumah orang tuanya. Dia dan Alvin langsung berpamitan untuk pulang. Padahal Bu Rara masih ingin mengobrol berlama-lama dengan anaknya. Namun karena tahu jika anaknya pasti masih merasa cape karena baru pulang kemarin, jadi Bu Rara membiarkan anaknya untuk pergi.
Setelah kepergian Alvin dan Zivana, Bu Rara juga pergi. Memang tadi juga akan pergi karena ada urusan di luar.
°°°
°°°
Alvin dan Zivana sudah kembali pulang. Namun mereka heran saat melihat pintu rumahnya yang terbuka lebar.
"Mas, kok tumben yah bibi tidak menutup pintunya?"
"Mas juga tidak tahu, sayang." jawab Alvin
Alvin dan Zivana melangkah masuk ke rumah. Namun ternyata di dalam terlihat sepi.
"Bi Salma, Kak Desi," Zivana berteriak memanggil pembantu dan Baby Sister anaknya.
__ADS_1
Ternyata tidak ada dari mereka yang menghampiri Zivana.
"Mas, ini penghuni rumah pada kemana sih?" tanya Zivana.
"Mas juga tidak tahu, sayang." jawab Alvin
"Masa rumah di tinggal pergi dengan keadaan pintu terbuka, kalau ada maling bisa gawat loh."
Terlihat Bi Salma memasuki rumah dari pintu belakang. Bi Salma menghampiri majikannya.
"Neng Zie memanggil Bibi? Maaf Neng, tadi Bibi ada di taman belakang rumah."
"Habis ngapain Bi? Terus kenapa pintu depan terbuka lebar?"
"Habis mencari Den Rayan," jawab Bi Salma.
"Rayan? Memangnya kemana? Bukannya sama Kak Desi yah?"
"Tadi Desi mengajak Den Rayan bermain di depan rumah, namun di tinggal sebentar karena Desi mengambil botol berisi susu punya Rayan yang di taruh di meja ruang keluarga. Saat Desi kembali, ternyata Den Rayan sudah tidak ada." jelas Bi Salma
"Kok bisa? Maksud Bibi, depan rumah itu dimana?" Zivana sudah merasa panik saat tahu jika anaknya hilang.
"Disitu Neng, di depan pintu masuk."
"Dari sini kesitu dekat loh, paling lima langkah? Kenapa Rayan bisa hilang? Kak Desi gimana sih jagainnya?"
"Iya Neng, itu juga yang membuat bibi bingung. Tapi sepertinya memang ada orang yang memang dari awal berniat menculik Den Rayan." ucap Bi Marni
Zivana tampak terdiam memikirkan sesuatu.
Kira-kira siapa yang menculik Rayan,' batin Zivana
Alvin menepuk bahu Istrinya, karena sejak tadi Zivana hanya diam.
"Sayang, ayo kita cari Rayan!" ucap Alvin
"Iya Mas, tapi tunggu dulu," ucap Zivana lalu menatap Bi Salma. "Bi, Kak Desi kemana?"
"Desi sedang mencari Den Rayan, Neng." jawab Bi Salma
"Bi, Bibi di rumah saja yah. Tutup semua pintu, kita mau pergi cari Rayan." ucap Alvin kepada Bi Salma.
"Baik Tuan," jawab Bi Salma.
__ADS_1
Alvin dan Zivana kembali pergi dari rumah. Mereka akan mencari anaknya yang tiba-tiba hilang.
°°°°