
Zivana mengerjapkan kedua matanya. Dia menatap tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya. Dia melepaskan pelukan suaminya. Lalu dia berbalik menghadap ke suaminya. Zivana memandang wajah suaminya. Sesekali dia membelai wajah tampan itu.
Alvin merasa terusik saat merasakan ada yang memegang wajahnya. Dia membuka kedua matanya dan melihat istrinya sedang memegang wajahnya dan memandanginya.
"Kamu ngapain lihatin Mas seperti itu?" tanya Zivana.
"Mas Alvin terlihat sangat tampan," ucap Zivana.
"Kamu juga sangat cantik, sayang." Alvin hendak mendekatkan wajahnya dengan istrinya. Namun baru juga menempelkan bibirnya, mereka mendengar suara ponsel berdering.
Stt mengganggu saja," gumam Alvin namun masih terdengar oleh istrinya.
"Sabar, Mas." ucap Zivana
Zivana mengambil ponsel miliknya yang berbunyi. Ternyata itu panggilan masuk dari ibunya.
📞"Hallo, Mah." ucap Zivana
📞"Sayang, kamu baru bangun yah? Mamah telfon dari tadi tapi kamu baru mengangkatnya," ucap Bu Rara.
📞"Iya, Mah. Tumben pagi-pagi Mamah menelfon Zie?" tanya Zivana.
📞"Mamah mau memberitahu kamu jika Lina sudah lahiran," ucap Bu Rara.
📞" Tadi jam empat pagi, ini Mamah juga baru pergi ke rumah sakit." ucapnya
📞"Wah jadi Lina sudah lahiran? Zie senang nih mendengarnya. Kalau begitu Zie juga mau bersiap dulu untuk pergi ke rumah sakit."
📞" Iya, sayang. Ya sudah yah Mamah matikan dulu telfonnya. Nih Mamah sudah sampai di depan rumah sakit."
📞"Oke,Mah."
Kini keduanya sudah selesai bertelfonan.
Alvin melihat istrinya yang baru selesai bertelfonan.
"Siapa yang menelfon kamu, sayang?" tanya Alvin.
"Mamah, tadi Mamah bicara sama aku jika Lina sudah lahiran. Ayo kita siap-siap, Mas! Kita harus pergi ke rumah sakit."
"Iya, sayang." ucap Alvin.
Mereka berdua turun dari atas tempat tidur. Mereka memilih untuk mandi bersama. Tidak ada yang terjadi di antara keduanya. Mereka benar-benar hanya mandi. Setelah selesai mandi, Alvin membantu mengeringkan rambut istrinya.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas."
"Sama-sama, sayang. Kamu pakai baju dulu sanah," kata Alvin.
"Tapi rambut Mas Alvin belum di keringkan," ucap Zivana.
"Mas bisa sendiri kok," ucapnya.
Cup
Zivana mengecup singkat bibir suaminya. Lalu dia berlalu pergi begitu saja dari hadapan suaminya.
Manis," gumam Alvin sambil memegang bibirnya.
Setelah selesai memakai pakaian, Zivana keluar kamarnya untuk meminta Asila dan Bi Salma untuk memandikan Azel dan Rayan.
Alvin menghampiri istrinya yang sudah keluar kamar duluan.
"Sayang, anak-anak mana?" tanya Alvin.
"Lagi mandi, Mas." ucap Zivana.
"Ya sudah kita tungguin saja. Tapi kita ajak Asila atau tidak?"
"Baiklah," ucapnya.
Asila dan Bi Salma menghampiri mereka dengan membawa Baby Rayan dan Baby Azela yang sudah wangi.
"Wah, anak-anak Mamah sudah wangi nih," Zivana mengambil Baby Azela yang ada di gendongan Asila. "Sila, kamu siap-siap dulu yah, Ikut sama kami!" pinta Zivana.
"Baik Kak," jawab Asila
Asila segera pergi dari hadapan mereka untuk berganti pakaian.
Setelah Asila kembali, kini mereka langsung bersiap untuk pergi. Zivana duduk di belakang bersama Asila dan anak-anaknya.
Cukup lama mengemudi, akhirnya mobil itu sudah sampai di depan rumah sakit. Mereka keluar dari mobil dan langsung melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
Kini mereka sudah ada di depan ruang inap Lina. Karena kebetulan Lina sudah dari ruang bersalin.
Tok tok
Zivana mengetuk pintu itu. Kebetulan Bu Rara yang membukakan pintunya.
__ADS_1
"Ayo masuk!" ucap Bu Rara
Mereka masuk ke dalam ruangan itu. Lalu mendekati ranjang tempat Lina sedang berbaring.
"Selamat yah Lin, akhirnya kamu sudah manjadi seorang ibu." ucap Zivana.
"Terima kasih, Kak." ucapnya.
Alvin juga memberikan selamat untuk Lina.
Hanya satu jam mereka di sana, Alvin dan Zivana memilih untuk pulang. Karena anak-anak mereka rewel.
Setelah kepulangan Alvin dan Zivana, Bu Rara juga mengajak suaminya pergi ke luar untuk mencari makan. Kebetulan tadi mereka belum sempat sarapan.
"Za, Lina, Mamah cari makan dulu yah di luar," ucap Bu Rara.
"Hati-hati, Mah." ucap Lina.
"Iya, Nak." ucap Bu Rara.
Sekarang hanya ada Eza dan Lina saja di ruangan itu. Karena kebetulan Bu Luna dan Alana sedang melihat cucu kembarnya di ruangan bayi.
"Sayang, terima kasih yah. Kamu sudah menjadi istri yang sempurna."
"Sama-sama, terima kasih juga karena Kak Eza sudah menjadi suami yang mau menerimaku apa adanya," ucap Lina.
"Kamu bicara apa sih, Mas itu sayang sama kamu. Dan tentu menerima kamu apa adanya," ucap Eza sambil membelai wajah cantik istrinya.
Lina tersenyum menatap suaminya. Mereka saling tatap, dan kini Eza mendekatkan wajahnya kepada istrinya.
Cup
Eza mengecup singkat bibir istrinya. Lalu dia kembali duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang tempat istrinya berada.
"Kak Eza, anak-anak kita mau di kasih nama siapa?" tanya Lina.
"Bagaimana kalau kita kasih nama Kirana Dirgantara sama Keandra Dirgantara."
"Harus pakai marga dirgantara yah?"
"Iya, sayang. Si kembar kan keturunan keluarga Dirgantara."
"Baiklah kalau begitu," ucap Lina.
__ADS_1
°°°°