
Putri sudah mengabari Bu Susan bahwa Neneknya sedang sakit. lalu Bu Susan memutuskan untuk mengambil cuti untuk mengunjungi Neneknya.
Bu Susan dan suaminya sudah sampai di kampung. dia sudah berdiri di depan rumah Nenek yang tampak reot. Rara keluar dari dalam sambil menggendong Baby Zie.
"Rara" Bu Susan berteriak memanggil Rara yang melangkah keluar.
"Alhamdulilah Bu Susan sudah datang." Rara menghampiri Bu Susan dan suaminya.
"Loh kamu sudah lahiran Ra? kenapa tidak menghubungi saya?" tanya Bu Susan sambil menatap gemas bayi mungil yang sedang di gendong Rara.
"Belum sempat Bu, ya sudah ayo masuk Bu." lalu Bu Susan dan suaminya ikut masuk dengan Rara.
"Sebentar Bu biar Rara buatkan minum." Rara berniat membuatkan minuman untuk keduanya.
"Sini biar Babynya sama saya dulu Ra." Bu Susan meminta Rara untuk menyerahkan Baby Zie kepadanya.
__ADS_1
"Baiklah Bu" sekarang Baby Zie sudah pindah ke gendongan Bu Susan.
Rara membawakan dua gelas teh tawar hangat dan kue goreng sisa yang tidak dia titipkan ke warung.
"Maaf Bu, Pak, cuma ada ini saja." ucap Rara sambil menghidangkan suguhannya.
"Tidak perlu repot-repor Ra, oh iya Ra Nenek dimana?" Bu Susan bertanya keberadaan Neneknya.
"Nenek di kamar Bu, sekarang Nenek susah untuk berjalan saja Rara yang bantuin." ucap Rara kepada Bu Susan.
"Terimaksih ya kamu sudah mau membantu mengurus Nenek." Bu Susan berterimakasih kepada Rara karena walaupun bukan siapa-siapanya tapi mau mengurus Neneknya.
"Putri dimana Ra" tanya Bu Susan sambil menatap ke semua sudut ruangan.
"Putri sedang bekerja Bu, sekarang dia bekerja untuk memenuhi semua kebutuhan kita disini. makannya karena tak merasa enak hati, Rara juga ikut menitipkan kue goreng buatan Rara ke warung-warung." jelas Rara
__ADS_1
"Loh bukannya uang yang saya kirim sudah lebih dari cukup untuk kalian dan Nenek juga. memangnya uang itu dipakai untuk apa?" tanya Bu Susan heran
"Bukannya satu bulan ini Bu Susan tidak mengirim kami uang? bulan sebelum-sebelumnya juga Mang Ujang memberikan uang yang di transfer ibu. dan itu hanya cukup untuk membeli obat untuk Nenek saja." ucap Rara berbicara kenyataannya.
"Memangnya berapa uang yang dikasihkan Mang Ujang?" Bu Susan merasa penasaran dengan nominal uang yang dikasihkan oleh pamannya. karena dia setiap bulannya mengirim uang lumayan banyak untuk mereka.
"Mang Ujang ngasih kita Rp.500.000 setiap bulannya. kecuali bulan ini tidak ngasih. katanya Bu Susan sudah tidak mengirim uang lagi."
"Keterlaluan sekali Mang Ujang, tega menelantarkan kalian. apalagi Nenek yang merupakan ibunya sendiri.
setiap bulan saya mengirim uang 3jt untuk kalian. kalau hanya segitu yang dia kasih, lalu uang selebihnya dia kemanakan?" Bu Susan tak habis pikir jika pamannya tega melakukan itu.
"Sudahlah Bu, kami tidak apa-apa Kok. sekarang kami sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari tanpa meminta ke Ibu." Rara memang tidak mengharapkan bantuan dari Bu Susan yang menurutnya sangat berlebihan dan dia merasa tak enak hati.
"Tapi Ra, Saya kecewa loh dengan kelakuan Mang Ujang." Bu Susan tampak kecewa kepada Pamannya.
__ADS_1
"Ya sudah ayo Mah kita ke rumah paman untuk membicarakan perihal masalah ini. aku juga tidak tega dengan Nenek yang sudah tidak dia urus. padahal dari dulu kita sudah kirim uang banyak untuk merenovasi rumah ini. tapi sekarang kita pulang rumah ini masih sama malah nambah reot." Suami Bu Susan mengajaknya untuk ke rumah pamannya.
Lalu Bu Susan dan suaminya berpamitan untuk pergi ke rumah pamannya.