
Setelah pulang dari acara pesta temannya, Bu Farah langsung pulang ke rumah. Bu Farah melihat Rey yang sedang bersantai di teras sambil menikmati secangkir kopi.
"Rey, kenapa diluar?" tanya Bu Farah
"Emm Rey lagi jenuh Mah, beberapa hari ini sibuk terus di kantor." kata Rey
"Makannya cari calon istri biar tidak jenuh." ucap Bu Farah kepada anaknya.
"Apaan sih Mah, Rey belum ingin menikah."
"Tapi Mamah sudah ingin menimang cucu." ujar Bu Farah
"Lah, itu anak Kak Juna juga cucu Mamah kan? apa bedanya? sama-sama cucu." kata Rey
"Mamah itu ingin kedua anak Mama bisa menikah dengan wanita pilihan Mamah. dan tentunya tidak malu-maluin jika dibawa ke acara formal." Bu Farah berkata kepada anaknya..
"Terserah, lagian yang mau nikah itu Rey bukan Mamah." ucap Rey tak suka.
Setelah berkata seperti itu Rey segera masuk ke dalam karena dia sudah tidak berselera lagi untuk bersantai di luar rumah.
Ayu yang sedang berjalan menuruni tangga tak sengaja berpapasan dengan Rey. dia langsung menundukan pandangannya.
Rey yang tak melihat arah depan dan kanan kirinya, ternyata menabrak seseorang. refleks Rey langsung memegangi orang didepannya agar tidak jatuh.
"Jangan pegang-pegang!" Ayu mencoba melepaskan diri dari Rey.
"Ehh sorry, refleks tadi." kata Rey
"Iya Mas, saya duluan." ucap Ayu sambil menundukan pandangannya lalu pergi dari hadapan Rey.
Menarik sekali" gumam Rey sambil menatap kepergian Ayu.
Keesokan harinya, Rey sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. dia pergi mengendarai mobilnya sendiri. karena dia tidak mau memakai supir pribadi.
Rey sudah duduk di ruangannya. lebih tepatnya ruangan CEO yang dulu menjadi ruangan Juna. semua diruangan itu masih sama tak ada yang berubah. bahkan posisi hiasan dinding dan perabot lainnya masih sama. Rey memang sengaja tidak mengganti barang-barang milik Kakaknya yang ada diruangan itu. karena dia masih berharap jika kelak Juna akan kembali ke Perusahan dan menjadi pemimpin Dirgantara Group.
Tok tok
Terdengar ketukan pintu dari arah luar ruangan.
"Masuk!" seru Rey dari dalam
Cklek
Asisten Rio masuk ke dalam ruangan untuk memberitahukan informasi yang penting.
"Maaf Tuan saya mengganggu, tapi Sekretaris baru untuk anda sudah datang." ucap Asisten Rio
"Bawa dia ke hadapan saya!" pinta Rey
"Baik Tuan" ucap Asisten Rio lalu dia keluar dari ruangan Rey untuk memanggil Sekretris baru yang dia katakan tadi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Asisten Rio masuk diikuti seorang wanita cantik di belakangnya.
"Permisi Tuan, ini Sekretaris baru anda." ucap Asisten Leo
"Hm" jawab Rey tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas yang sedang dia kerjakan.
Rey masih tak mengalihkan pandangannya.
Asisten Rio yang memang masih ada pekerjaan lainnya segera berpamitan untuk pergi.
"Maaf Tuan, saya pamit undur diri. masih ada pekerjaan lain yang harus saya selesaikan." pamit Asisten Rio
"Baiklah" kata Rey sambil mendongkakan kepalanya. Rey terkejut saat melihat wanita di depannya yang ternyata adalah Putri.
"Loh, Putri?"
"Iya Kak saya Putri dan saya juga yang akan menjadi Sekretaris baru Kak Rey." kata Putri
"Baiklah, selamat bergabung di Dirgantara Group." ucap Rey sambil mengulurkan tangannya kepada Putri.
"Mohon bimbingannya Kak." ucap Putri sambil menerima uluran tangan Rey.
Rey menatap Putri sambil tersenyum. Putri salah tingkah ditatap seperti itu oleh Rey.
°°°°
Rara melihat suaminya yang baru pulang berjualan. Juna melangkah masuk ke dalam rumah setelah dia meneduhkan motornya dari terik matahari.
"Iya Ra, hari ini dagangan Mas masih utuh. tadi Mas sudah berkeliling namun yang beli hanya dua orang." ucap Juna mengeluh
Rara tersenyum sambil menatap suaminya.
"Ya sudah Mas tidak apa-apa. sekarang kuenya untuk kita makan saja." ucap Rara
"Tapi kita rugi loh Ra." ucap Juna
"Orang berjualan itu tidak selamanya dapat untung Mas. tidak selalu dagangan kita itu habis, jadi kita syukuri saja." ucap Rara bijak
Rara memang selalu bersabar dalam kesehariannya. dengan kehidupanyang memang pas-pasan jika tidak tidak dipondasi dengan kesabaran, apalagi yang bisa dilakukan. mungkin jika orang lain akan mengeluh jika hidup pas-pasan sepertinya.
"Lalu, kuenya tidak mungkin Ra kita makan sendiri?"
"Kita bagikan saja kepada tetangga. nanti Mas bantuin Rara bagiin yah." pinta Rara kepada suaminya.
"Iya sayang, Mas makin cinta deh sama kamu. walaupun dalam kondisi seperti ini kamu tetap bisa tersenyum." kata Juna yang melihat ekspresi istrinya.
"Harus dong Mas, rezeki itu tidak akan tertukar. Allah tidak akan menguji umatnya diluar batas kemampuannya. cuma masalah sekecil ini kita harus tetap bersyukur Mas. itu tandanya hari ini kita bisa makan kue sepuasnya." ucap Rara
"Iya sayang, kita bisa makan bertiga sama Baby Zie. tapi sepertinya tahun depan kita makan berempat." kata Juna
"Loh, kok berempat? memangnya sama siapa lagi?" tanya Rara
__ADS_1
"Sama adiknya Baby Zie sayang."
"Iishh hamil juga belum kok udah bicara adik."
"Tenang sayang, nanti Mas kerja keras untuk membuat kamu hamil." kata Juna
"Apaan sih" Rara mengalihkan pandangannya karena merasa malu.
"Tidak usah malu-malu sayang. apa sih yang perlu dimaluain? nggak pake baju juga kamu nggak malu." goda Juna kepada istrinya.
"Apaan sih Mas, jangan ngawur deh."
Juna hanya tersenyum sambil menatap istrinya.
Kebahagianku hanya bersamamu sayang. tanpa kamu, aku tidak mungkin kuat hidup dengan penuh kesederhanaan seperti ini.
terimakasih atas ketulusan dan kesabaranmu. aku sangat beruntung bisa bersanding dengan wanita penyabar sepertimu."batin Juna sambil menatap istinya.
"Kenapa Mas Juna lihatin Rara?" tanya Rara kepada suaminya.
"Kamu cantik" ucap Juna
"Apaa sih Mas, emm Rara ke rumah Bu Sri dulu yah mau ajak Baby Zie pulang." ucap Rara
"Nanti saja dong sayang, Mas masih ingin berduaan dengan kamu."
"Mas ini bagaimana sih, katanya ingin berempat dengan anak-anak, tapi sekarang sama anak sendiri juga lupa." kata Rara
"Bukan seperti itu sayang, Mas hanya ingin berduaan dengan kamu."
"Tapi kan tidak harus berduaan terus Mas, kita punya anak juga loh." ujar Rars
"Ya sudah, ayo kita ajak Baby Zie pulang sayang. maafkan Mas yah, Mas hanya mementingkan ego sendiri." kata Juna meminta maaf.
"Iya sayang" jawab Rara
"Kok tumben panggil Mas sayang?"
"Iya, kan Rara sayang sama Mas."
"Lama-lama bisa gombal juga yah ternyata istri Mas ini."
"Iya dong, Mas yang ngajarin." ucap Rara
"Uhhh gemes" Juna mrncubit gemas kedua pipi istrinya.
"Ih Mas sakit tahu" kata Rara
"Lebih sakit mana sama malam pertama kita." kata Juna lalu dia segera melarikan diri dari hadapan istrinya.
"MAS JUUNNNAAA.....ih nyebelin.."gumam Rara lalu dia berjalan mengikuti Juna yang sudah terlebih dahulu keluar dari rumah.
__ADS_1
Setelah mengajak Baby Zie pulang, Juna mengajak anaknya itu bermain. sedangkan Rara pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang.