
Asisten Tio langsung mencari pedagang cilok di pinggir jalan, setelah dia menerima telfon dari Alvin. Asisten Tio tidak hanya membeli satu bungkus, namun tiga bungkus sekaligus.
Biarlah beli tiga bungkus, siapa tahu nanti dapat bonus kalau gajian,' batin Asisten Tio.
Asisten Tio segera pergi ke rumah Alvin untuk mengantarkan cilok yang sudah dia beli.
Saat ini mobil yang di kendarai Asisten Tio sudah sampai di depan rumah Alvin. Dia keluar dari mobil dengan menenteng kresek.
Tok tok
Zivana langsung membuka pintu rumahnya. Dia sejak tadi sudah menunggu ciloknya.
"Ayo masuk, Kak!" ajak Zivana.
Asisten Tio masuk ke rumah. Zivana menyuruhnya untuk ikut duduk di sofa.
"Coba deh Zie buka," Zivana melihat tiga bungkus cilok sekaligus. "Wah kok belinya banyak sekali sih?"
"Takutnya kurang, atau mungkin Pak Alvin juga mau."
"Kak Tio perhatian sekali sih," ucap Zivana, lalu dia mengambil uang yang ada di saku celananya. "Nih untuk menggantikan uang Kakak," Zivana memberikan uang seratus ribu untuk Asisten Tio.
"Uang pasnya saja ada tidak? Saya tidak ada kembalian."
"Ini ambil semua saja," ucap Zivana.
"Wah, terimakasih Nona."
"Sama-sama," ucap Zivana.
Zivana beranjak dari duduknya karena akan mengambil mangkuk di dapur.
Alvin yang baru turun dari lantai atas, melihat istrinya sedang membawa mangkuk.
Alvin mengikuti istrinya hingga ke ruang keluarga.
Zivana membuka dua bungkus cilok dan memasukannya ke mangkuk. Lalu dia mengambil yang satunya lagi dan memberikannya kepada suaminya.
"Mas, ini untuk kamu."
"Terima kasih, sayang. Tapi ini layak makan tidak?"
"Kalau tidak layak, ngapain di beli. Coba saja deh pasti enak." ucap Zivana, lalu dia menatap Asisten Tio. "Kak Tio beli yang depan supermarket itu kan, yang arah ke kantor?" tanya Zivana.
"Iya, Kok Nona bisa tahu?"
"Tahu dong, nih sudah terlihat dari bungkusnya. Enak loh, Zie sering beli disana."
__ADS_1
"Jadi kamu diam-diam suka jajan cilok?" tanya Alvin.
"Hehe maaf Mas, kalau bilang sama Mas Alvin, nanti malah di larang."
Alvin memanggil Bi Salma dan memintanya membawakan mangkuk dan sendok.
Zivana beralih duduk di sebelah Asisten Tio.
"Kak Tio, tolong suapin Zie dong!" pinta Zivana.
Alvin menatap tak suka saat istrinya meminta di suapi oleh asistennya.
"Mas juga ada, sayang. Kenapa kamu nyuruh Tio?"
"Tapi maunya di suapi Kak Tio," ucap Zivana.
Alvin mengingat lagi perkataan Dokter, jika kemauan ibu hamil harus di turuti.
"Baiklah," ucap Alvin.
Duh, niatnya beli cilok tiga biar dapat bonus. Tapi ini malah suruh nyuapin istri Bos. Bisa-bisa nanti bukannya di kasih bonus, tapi malah di potong gaji,' batin Asisten Tio.
Asisten Tio mulai menyuapi Zivana. Dia sedikit mengabaikan tatapan tajam dari Alvin.
Desi juga melihat Asisten Tio sedang menyuapi Zivana. Kebetulan dia baru keluar dari kamar Baby Rayan, karena Baby Rayan sudah tidur.
Zivana sudah menghabiskan ciloknya. Lalu dia menyuruh Asisten Tio untuk pulang.
Zivana merasa jika kakinya pegal-pegal, dia menyuruh suaminya untuk memijat.
"Mas, pijat kakiku dong!" pinta Zivana.
"Kenapa tidak suruh Tio saja?"
"Oh, jadi boleh nih kalau istrinya di pegang-pegang lelaki lain."
"Bukan seperti itu juga, sayang." Alvin berpindah duduk di sebelah istrinya. Lalu dia mulai memijat kakinya.
Zivana melihat Alvin yang sejak tadi hanya diam tak bicara apa pun.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Zivana.
"Tidak kok," jawab Alvin.
"Mas ih kamu nakal," Zivana menepuk tangan suaminya yang bergerilya kemana-mana.
"Masa pegang doang tidak boleh sih," kata Alvin.
__ADS_1
"Sekarang di perut ada dede bayinya, jadi Mas Alvin jangan sering pegang-pegang. Karena nantinya malah tidak kuat."
"Memangnya tidak boleh?"
"Tidak, Mas. Usia kandungan Zie masih muda loh. Mas Alvin harus puasa dulu, jangan melakukan itu."
Alvin menunduk lesu karena dia harus berpuasa panjang untuk menyentuh istrinya.
Tok tok
Alvin dan Zivana mendengar ketukan pintu dari luar rumah.
"Mas, bukain pintu dong!" pinta Zivana.
"Siap, sayang." Alvin beranjak dari duduknya.
Alvin sudah membuka pintu rumahnya. Dia melihat Bu Rara datang bersama suaminya dan juga Farizki.
"Silahkan Masuk, Mah, Pah, Iki!" ucap Alvin ramah.
"Terima kasih, Nak." ucap Bu Rara.
"Sama-sama, Mah."
Kini mereka masuk ke rumah dan ikut bergabung bersama Zivana.
"Sayang, selamat yah akhirnya kamu hamil lagi," Bu Rara yang baru datang, langsung memeluk anaknya.
"Mamah kok langsung datang saja sih? padahal baru juga di kasih tahu loh. Terus Papah sama Iki memangnya tidak kerja?" tanya Zivana.
"Kita kerja, tapi tadi langsung pulang saat Mamah kamu telfon," ucap Pak Juna.
"Tapi makasih loh sudah nyempatin datang, padahal lagi sibuk."
"Untuk anak sendiri kita selalu punya waktu, sayang." ucap Bu Rara
"Itu apa, Mah?" Zivana menatap bungkusan makanan yang ada di atas meja.
"Oh iya, Mamah sampai lupa. Ini makanan sehat untuk kamu. Ada buah-buahan, ada kue, ada mangga muda juga loh."
"Wah makasih Mah," Zivana memeluk Ibunya.
"Sama-sama, sayang."
Mereka asyik bercerita sambil menikmati makanan ringan dan orange jus yang di buatkan oleh Bi Salma. Kebetulan tadi Alvin ke dapur dan meminta Bi Salma menyiapkan suguhan.
°°°°
__ADS_1