Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 97


__ADS_3

Menjelang malam, Eza baru pulang dari bengkel. Dia masuk ke rumah dan melihat istrinya sedang bersantai bersama yang lainnya.


Lina beranjak dari duduknya lalu menghampiri suaminya yang baru masuk rumah.


"Lina antar ke kamar yah, Kak." ucap Lina


"Iya, Lin." Eza merasa senang karena istrinya terlihat perhatian.


Keduanya melangkah ke kamar dengan saling berdampingan.


Lina sibuk menyiapkan pakaian untuk suaminya. Namun dia tidak berkata apa pun.


Eza mendekati istrinya lalu memeluknya dari belakang.


"Kamu kenapa sih cuek seperti ini? Apa aku ada salah?"


"Tidak apa-apa kok," ucap Lina.


Eza membalikan badan Istrinya sehingga kini keduanya saling berhadap-hadapan.


"Bicaralah! Kita itu suami istri, jadi jangan lagi ada yang di tutup-tutupi," Eza memegang dagu istrinya dan mendekatkan wajah mereka.


Lina mengalihkan arah pandangnya.


"Aku sakit, aku takut," ucap Lina tanpa menatap suaminya.


"Sakit kenapa? Apa yang di takutkan?"


Lina kembali menatap suaminya.


"Apa Kak Eza ingat, saat malam pengantin kita Kak Eza mengigau menyebut nama Sela dan Kakak tersenyum. Aku takut jika Kak Eza masih mencintai Nona Sela."


Sekarang Eza tahu kenapa istrinya mendiaminya. Ternyata itu karena rasa cemburu.


"Aku sempat mau bicara ini loh sama kamu. Tapi kamunya malah menghindar. Dugaan kamu salah, aku sudah tidak memiliki rasa lagi untuk Sela. Dan malam itu, aku bermimpi bertemu Sela. Dalam mimpiku dia mengatakan jika senang melihat kamu menjadi ibu sambung Alana." jelas Eza


"Benarkah? Apa Kak Eza tidak bohong?"


"Tidak, sayang." ucap Eza, lalu dia memeluk istrinya.


Lina merasa senang karena ini pertama kalinya dia di panggil sayang oleh lelaki yang di cintainya.


Eza melepaskan pelukannya lalu mendekatkan wajah mereka. Kini keduanya saling menyalurkan rasa cinta mereka lewat ciuman yang begitu mesra.


Bu Luna melihat pintu kamar Eza dan Lina terbuka. Niatnya hendak menutup pintu itu, namun tak sengaja melihat Eza dan Lina yang sedang ber*ciuman mesra.


"Eh, Ibu tidak lihat," Bu Luna buru-buru menutup pintu kamar.


Eza dan Lina menghentikan ciumannya. Mereka menatap ke arah pintu masuk.


"Kak, ada yang lihat tuh. Lina malu loh."


"Jangan malu sayang, lagian itu suara Bu Luna. Bukankah Bu Luna menyuruh kita untuk berlama-lama di kamar," kata Eza.


"Tapi bukan terpergok juga kali, Lina malu loh." Lina terlihat menggemaskan saat sedang malu-malu.


Cup

__ADS_1


Eza mengecup singkat bibir istrinya.


Kedua pipi Lina memerah layaknya orang yang baru jatuh cinta.


"Baru di cium saja pipimu merah, bagaimana kalau aku melakukan lebih," ucap Eza menggoda istrinya.


"Jangan sekarang, Kak. Masih jam segini," ucap Lina.


"Berarti nanti malam boleh dong."


Lina hanya menganggukan kepalanya.


"Terima kasih, sayang. Kamu memang istri yang baik."


"Sama-sama Kak, itu memang sudah kewajibanku," ucap Lina.


Eza niatnya akan menyiapkan kejutan sederhana untuk istrinya. Dia sudah membeli semua yang dia butuhkan untuk kejutan.


Bu Luna melihat Eza yang sedang melangkah masuk rumah dengan membawa buket bunga mawar merah dan bungkusan yang tertutup rapat. Bu Luna tidak tahu apa isi di dalamnya.


"Za, malam-malam kok kamu bawa bunga?" tanya Bu Luna yang sedang melangkah ke arahnya.


"Iya nih, Bu. Oh iya, tolong dong ibu ajak Lina pergi sebentar. Keluar makan malam atau kemana gitu."


"Tapi tadi setelah kamu pergi, Lina juga pergi keluar. Katanya sih ke supermarket." ucap Bu Luna


"Ya sudah, kalau begitu Ibu tahan Lina supaya jangan masuk kamar dulu. Aku mau menghias kamar."


"Astaga, seperti malam pertama saja kamar pakai di hias segala."


"Duh, mentang-mentang pengantin baru maunya nempel terus nih."


"Iya, Bu. Biar cepat jadi," ucap Eza


"Ibu tunggu loh, nanti kalau nambah cucu pasti rumah ini semakin rame."


Tok tok


Obrolan keduanya terhenti saat terdengar ketukan pintu dari luar rumah.


"Bu, itu sepertinya Lina sudah pulang. Eza serahkan semuanya ke Ibu,"Eza berlalu pergi dari hadapan Bu Luna.


Eza masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu.


Dia mulai mengeluarkan semua barang yang dia beli dan langsung menghias kamarnya.


Tak terasa sudah 30 menit Eza menghias kamar. Dia berdiri di depan pintu masuk sambil menatap hasil dekorasinya. Dia sengaja bergerak cepat agar cepat selesai.


Eza keluar kamar lalu mengunci pintunya dari luar. Dia akan menghampiri istrinya dan bergabung untuk mengobrol.


"Eh itu kebetulan Eza sudah keluar kamar." ucap Bu Luna


"Kak Eza ngapain sih di kamar lama sekali?" tanya Lina


"Tadi ketiduran," jawab Eza yang terpaksa berbohong.


"Kita langsung makan saja yuk, aku sudah lapar loh," ucap Lina.

__ADS_1


"Iya, Nak. Ibu juga sudah lapar." Bu Asih beranjak dari duduknya. Begitu juga dengan yang lainnya beranjak dari duduknya lalu pergi ke ruang makan untuk makan malam bersama.


Setelah makan malam, Eza mengajak semuanya untuk berkumpul di ruang keluarga. Mereka saling mengobrol sambil memakan makanan ringan yang tadi di beli oleh Lina.


Cukup lama mengobrol, Lina merasa mengantuk. Dia menatap suaminya yang duduk di sebelahnya.


"Kak, aku ngantuk. Kita tidur yuk!" ajak Lina


"Baiklah, sayang." ucap Eza sambil menatap istrinya. Lalu Eza menatap Bu Luna dan Bu Asih yang duduk di depannya. "Bu, kita ke kamar dulu yah."


"Iya, Nak. Kita memaklumi kok kalau pengantin baru maunya di kamar terus," ucap Bu Asih.


Eza dan Lina sudah ada di depan kamar. Lina mencoba untuk membuka pintu kamarnya. Namun susah karena terkunci. Lina menatap suaminya yang berdiri di sampingnya.


"Kak, kok pintunya terkunci sih?"


"Iya, tadi sengaja di kunci." Eza merogoh saku celananya lalu mengambil kunci dan memberikannya kepada Istrinya.


Lina membuka pintu kamarnya. Dia hanya melihat kegelapan karena lampunya tidak menyala.


"Kok di matiin sih?" Lina meraba tembok dan menyalakan saklar agar lampunya menyala.


Lina terkejut melihat kamar yang sudah di dekorasi begitu indah. Dia menatap suaminya lalu memeluknya.


"Ini pasti kejutan untuk aku," ucap Lina yang berada di pelukan suaminya.


"Iya sayang, tapi kamu lepas dulu dong pelukannya," pinta Eza.


Lina langsung melepaskan pelukannya.


"Sekarang pejamkan mata kamu," pinta Eza.


Lina menurut dengan perkataan suaminya.


Eza membuka laci meja dekat ranjang. Lalu dia mengambil sesuatu yang sudah dia siapkan untuk istrinya.


"Ini apa sih?"


Lina merasakan jika suaminya sedang memakaikan sesuatu di lehernya.


"Buka mata kamu dong, sayang."


Lina membuka kedua matanya. Dia melihat kalung yang berliontin nama mereka, Lina♡Eza.


"Kamu suka?"


Lina hanya menganggukan kepalanya.


"Maaf yah untuk saat ini hanya bisa memberikan kamu kalung murah. Tapi aku janji kalau nanti sudah sukses, pasti akan membelikan yang lebih mahal."


"Aku tidak butuh emas permata, harta berlimpah, aku hanya ingin Kak Eza selalu ada di sampingku."


Eza senang karena istrinya begitu sederhana dan tidak banyak menuntut.


Kini keduanya saling tatap, Eza menuntun istrinya hingga berada di atas tempat tidur. Mereka mulai melakukan per*cintaan seperti rutinitasnya setiap malam.


°°°°

__ADS_1


__ADS_2