
Juna dan ibunya sudah berpakaian rapih dan bersiap untuk pergi. karena malam ini mereka akan makan malam di rumah keluarga Luna sekalian acara tukar cincin. tidak ada pesta mewah karena memang acaranya hanya di hadiri oleh dua keluarga saja tanpa mengundang kerabat mereka.
Juna dan ibunya memasuki mobil yang di kendarai oleh Rio. setelah menempuh perjalanan yang cukup dekat mereka sudah sampai di kediaman kedua orang tua Luna.
Saat mobil mereka berhenti di depan rumah mewah itu, Luna dan kedua orang tuanya keluar rumah untuk menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang Jeng Farah, duh masih cantik saja Jeng Farah." puji Bu Siska lalu memeluk calon besannya.
lalu Bu Siska melirik ke arah Juna.
"Wah tampan sekali Nak Juna" Bu Siska memuji ketampanan Juna.
"Ibu juga sangat cantik" Juna kembali memuji kecantikan Bu Siska.
"Ah Nak Juna bisa saja, ayo kita masuk." Bu Siska mengajak mereka semua masuk ke dalam.
Mereka berkumpul di ruang keluarga dan acara pasang cincin langsung dilakukan saat itu juga. setelahnya mereka melakukan makan malam bersama.
di meja makan, Bu siska tak henti-hentinya menggoda calon suami istri itu. Luna tampak malu-malu mendengar ocehan ibunya sedangkan Juna hanya tersenyum saja.
Hari sudah mulai larut tapi kedua keluarga itu masih asyik bersenda gurau di ruang keluarga. Juna melihat calon istrinya yang sudah mengantuk menawarkan diri untuk mengantarnya ke kamar. tentu kedua orang tua mereka menyetujuinya.
"Tidur yang nyenyak sayang." Juna melepas genggaman tangan Luna lalu mengecup kening Luna sebelum pergi meninggalkan kamar itu.
Luna menahan tangan Juna saat hendak melangkah pergi.
"Tidak bisakah kita tidur bersama untuk malam ini?" Luna memeluk Juna dari belakang.
Juna tersenyum ke arah wanita yang di cintainya.
__ADS_1
"Nanti saja sayang kalau kita sudah sah." tolak Juna secara halus.
Memang selama pacaran mereka tidak pernah melakukan lebih selain berpegangan tangan. karena Juna menjaga sekali wanita yang sangat di cintainya itu.
°°°
Rara yang sudah tidur tampak berkeringat dan mengigau. sepertinya dia mengalami mimpi buruk.
"Tidak......"Rara terbangun dari tidurnya dan langsung mengambil minum yang berada di meja berukuran kecil yang berada di kamarnya.
Lalu Rara bangkit dari kasur dan menuju ke kamar mandi untuk cuci muka sekalian berwudhu karena akan melaksanakan shalat malam. setelah shalat malam Rara mendoakan suaminya agar bisa membukakan sedikit saja pintu hati untuknya dan mau bersikap seperti suami pada umumnya.
Rara sangat takut dengan mimpi yang dia alami. dia bermimpi jika suaminya itu pergi meninggalkannya bahkan tidak mau mengakuinya lagi sebagai istrinya.
Setelah berdoa Rara melepaskan dan melipat mukena yang dipakainya. lalu dia kembali tidur karena masih tengah malam.
Rara memgerjapkan kedua bola matanya, rasanya hari ini dia malas sekali bangun. tapi dia harus berangkat kerja karena ini hari kedua dia bekerja di tempat yang baru.
Rara berangkat bekerja dengan berjalan kaki. mungkin karena sudah terbiasa jadi dia tidak merasa cape.
"Ra" Rara mendengar seseorang memanggil namanya.
Rara menoleh ke sumber suara.
"Kak Dimas" Rara tersenyum ke arah Dimas.
"Kamu berangkat kerja jalan kaki Ra?" tanya Dimas yang sudah menghentikan motornya di dekat Rara.
"Iya Kak, Rara sudah biasa berjalan kaki jika berangkat bekerja."
__ADS_1
"Nanti item loh kalau jalan kaki panas-panasan. mending ikut saya saja Ra." ajak Dimas
"Ya sudah Kak, makasih yah maaf jadi merepotkan."
"Tidak sama sekali, ayo naik!" perintah Dimas lalu Rara naik ke atas motor milik Dimas.
Mereka sudah sampai di depan tempat kerja mereka. Rara turun dari motor lalu mengucapkan terimakasih sebelum masuk.
Bu Susan melihat kedatangan Rara saat baru turun dari motor Dimas. dia menunggu Rara di depan pintu masuk kantor tempat mereka bekerja.
"Cie yang nganterin beda lagi." goda Bu Susan
"Apaan sih bu, tadi itu Rara tidak sengaja ketemu sama Kak Dimas di jalan. terus Kak Dimas nawarin berangkat bareng, ya Rara mana bisa nolak yang gratisan."
"Duh senangnya di deketin dua cogan." ucap Bu Susan meledek Rara
"Maksudnya?" Rara bingung dengan perkataan Bu Susan.
"Ya itu Pak Rey sama Dimas sama-sama dua cowok ganteng dan masih jomblo tentunya." Bu Susan masih terua menggoda Rara.
"Apaan sih bu, ayo kita masuk saja." ajak Rara lalu keduanya masuk ke dalam.
Mereka mulai bekerja, Rara yang sedang mengelap kaca melihat seseorang yang di kenalnya.
Itu kan supir travel yang nganterin aku dan Mas juna ke bandung, kenapa dia ada disini?
"batin Rara saat melihat Rio memasuki lift menuju ke lantai atas.
ππππ
__ADS_1
Nyesel tuh juna istrinya di kelilingi banyak coganππ
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTEnya gaess