Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_50


__ADS_3

Juna dan istrinya sudah sampai dirumah. Juna berjalan dengan merangkul pinggang istrinya. Bu Farah yang sejak tadi menunggu kedatangan anak dan menantunya segera menghampiri mereka.


"Kenapa anak-anak mamah kelihatannya bahagia sekali?" tanya Bu Farah saat melihat kedatangan mereka.


"Iya Mah, kami membawa berita bahagia untuk Mamah." ucap Juna


"Wah berita apa sayang? Mamah sudah tidak sabar mendengarnya." Bu Farah tampak penasaran.


"Luna hamil Mah, sebentar lagi Mamah mempunyai seorang cucu." Ucap Juna dengan rona wajah bahagia.


"Beneran kamu hamil Lun?" Bu Farah beralih menatap menantunya.


"Iya Mah, Luna akhirnya hamil juga Mah."


"Selamat yah sayang" Bu Farah sudah memeluk menantunya.


Setelah berpelukan, Juna menggandeng istrinya menuju kamar mereka. sedangkan Bu Farah bersiap-siap berangkat arisan. sekalian memberitahukan berita kehamilan menantunya kepada teman-teman sosialitanya.


Di dalam kamar


Juna membawa istrinya untuk tiduran di atas ranjang mereka.


"Sayang, ayo kamu tiduran dulu." Juna membaringkan istrinya di tempat tidur mereka.


"Aku bisa berbaring sendiri Mas." ucap Luna saat melihat Juna yang begitu perhatian.


"Mas cuma ingin bantu kamu saja sayang."


"Dedek mau makan apa? biar papah ambilin Nak." Juna berucap sambil mengelus perut rata istrinya.


"Dedek pengen makan spaghetti Pah." Luna menirukan suara anak kecil.


"Mau papah buatkan apa beli saja Nak." ucap Juna yang masih mengelus perut istrinya.


"Beliin tapi maunya Papah yang beliin." Luna meminta Juna untuk membelinya tanpa pesan lewat online.


Juna akhirnya pergi untuk membelikan makanan yang diinginkan istrinya.


Setelah kepergian Juna, Luna segera menghubungi kekasihnya untuk memberitahukan kehamilannya.


📞"Hallo sayang" ucap Luna dari balik telpon.


📞"Iya sayang, kamu kangen yah sama aku."

__ADS_1


📞"Aku mau bicara sesuatu yang sangat penting yang." ucap Luna lagi


📞"Bicara apa sayangku?" tanya Devan


📞"Aku hamil anak kamu" ucap Luna dari balik panggilan ponsel.


📞"Beneran kamu hamil yang, topcare sekali aku." Devan memuji dirinya yang lebih hebat dari Juna.


📞"Tapi dedek pengen ditengok ayahnya yang." ucap Luna


📞"Mau kapan sayang? suamimu masih di rumah terus sih jadi kita tidak bisa sering-sering ketemu." ucap Devan


📞"Nanti aku yang akan tentukan waktunya." ucap Luna


Beberapa saat kemudian, Luna segera mematikan panggilan telponnya.


Juna pulang membawa pesanan istrinya. dia menaruh spaghetti kedalam piring lalu segera dia bawa kekamar.


Cklek( Juna membuka pintu Kamar.)


Dia melihat istrinya yang sedang bermain ponsel. "Sayang, ayo makan dulu," kata Juna, "kasihan babynya sudah kelaparan."


Luna segera menyantap spaghetti yang dibelikan suaminya. Juna yang melihat istrinya makan dengan belepotan, segera mengelap sudut bibir istrinya menggunkan tisu.


Luna hanya tersenyum tanpa menjawab perkataan suaminya. Juna terus menemani istrinya sampai makanan yang dia makan habis.


°°°°


Di Kampung


Sore hari itu Rara sedang mengangkat jemuran baju di samping rumah. dia melihat segerombolan orang yang berpakaian seperti preman datang ke rumah yang dia tinggali.


"Maaf Nona, apakah ini rumah dari Nenek Sul, Nenek dari Ibu Susan?" tanya salah satu di antara mereka.


"Iya, memangnya ada apa yah?" Rara bertanya kepada mereka.


"Tanah beserta Rumah ini sudah dijual kepada Tuan kami. jadi kami mohon agar detik ini juga Nona bisa meninggalkan Rumah ini karena Tuan kami akan membangun perkebunan di tanah ini." jelas salah satu dari mereka.


"Tapi kami tidak pernah tahu jika rumah ini tekah dijual? dan juga Nenek yang mempunyai rumah ini sekarang sedang berada di kota untuk berobat. jadi bagaimana mungkin rumahnya bisa dia jual?" Rara masih bingung dengan semua itu.


"Ini adalah setrifikat tanah rumah ini. dan ini surat jual beli antara Tuan kami dan Nenek Sul." sambil menunjukannya kepada Rara.


"Disini sudah tertera tanda tangan dari Nenek Sul sendiri."

__ADS_1


Rara kaget saat melihat sertifikat yang sudah berganti nama. dan dia juga melihat tanda tangan Nenek Sul yang menurutnya sama dengan yang dia lihat tempo hari. saat itu Rara sedang membersihkan kamar Nenek dan melihat KTP Nenek yang terjatuh ke lantai.


"Tapi apakah ini asli? saya hanya tidak menyangka jika Nenek telah menjual tanah ini."


"Jika Nona tidak percaya, Nona bisa cek sendiri keaslian dari dokumen ini." ucapnya lagi


"Tapi..."Rara sudah tidak bisa berkata apa-apa.


"Sudahlah bro, jika cara bicaramu seperti itu dia tidak mungkin mau meninggalkan rumah ini. malah kamu cape sendiri menjelaskan tapi dia tidak mengerti juga." Timpal preman lainnya.


"Benar itu, mending kita langsung usir saja Nona ini dari rumah ini." sahut preman lainnya.


Yang lain sudah berjalan masuk memasuki rumah itu.


"Tunggu, mau apa kalian?" Rara berteriak saat mereka sudah masuk ke dalam rumah.


Mereka sudah mengobrak-abrik seisi rumah. Baby Zie yang sedang tidur tampak bangun dan menangis kencang.


"Tunggu, kalian jangan hancurkan rumah ini. saya akan pergi tapi biarkan saya membereskan barang saya." ucap Rara dan mereka menyetujui permintaan Rara.


Mereka masih duduk di ruang keluarga menunggu Rara yang sedang berkemas.


Rara berkemas sambil menggendong Baby Zie yang menangis kencang.


"Woy suruh anaknya jangan berisik." salah satu preman itu merasa terganggu saat mendengar tangisan bayi.


Putri yang baru pulang kerja melihat beberapa preman sedang duduk di ruang keluarga dan dia juga melihat setiap sudut ruangan yang sudah berantakan.


"Ada apa ini? siapa kalian?" tanya Putri kepada mereka.


"Tidak usah banyak tanya, lebih baik Nona segera mengemasi barang Nona dan pergi dari sini." ucap salah satu preman.


Putri berjalan memasuki kamar Rara dan melihat Rara yang sedang berkemas.


" Ra, ini ada apa sebenarnya?" tanya Putri penasaran


"Nanti saja aku jelasinnya, lebih baik kamu juga berkemas." Rara menyuruh Putri untuk membereskan semua barang miliknya.


Putri ikut membereskan barang miliknya.


lalu mereka keluar dari rumah sambil membawa koper mereka masing-masing.


beberapa warga tampak sudah berkerumun di depan rumah Nenek. mereka ikut prihatin melihat Rara dan Putri yang diusir. tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena tempat tinggal mereka tidak cukup untuk menampung tiga orang sekaligus.

__ADS_1


__ADS_2