
Malam harinya, Alvin mengajak istrinya bersantai. Karena kebetulan Baby Azel sudah tidur. Dan Alvin sudah menyuruh Bi Salma untuk menjaganya sebentar. Karena takutnya Baby Azel terbangun saat di kamar itu tidak ada siapapun.
"Sayang, niatnya mulai besok Mas akan kembali masuk ke kantor. Kasihan Tio kerja sendirian."
"Iya, Mas. Tidak apa-apa kok, Zie juga merasa kasihan sama Kak Tio." kata Zivana.
"Mas juga ada niatan untuk mencari sekretaris baru," Alvin mengatakan niatnya.
"Zie tidak setuju, nanti Mas malah selingkuh."
"Bukan perempuan, yang Mas cari itu sekretaris laki-laki. Nanti sekalian Mas cari dua orang sekligus. Biar yang satunya menjadi sekretaris pribadi Tio."
"Kalau begitu sih Zie setuju," kata Zivana.
"Mas hanya tidak ingin kamu kerja lagi, biarlah kamu di rumah saja mengurus anak-anak kita."
"Iya, Mas." ucap Zivana sambil tersenyum menatap suaminya.
Alvin mendekatkan wajahnya ke istrinya.
"Mas, nanti ada yang melihat loh," Zivana menengok kanan kirinya.
"Tidak akan ada yang melihat, sayang. Lagian Bi Salma lagi jagain Azel, dan Sila juga di kamar Rayan." ucap Alvin dan langsung menyambar bibir istrinya yang sudah menjadi candu.
Zivana membalas ciuman suaminya. Bahkan dia mengalungkan tangannya di leher suaminya.
Kebetulan Asila baru keluar dari kamar Rayan. Dia terkejut melihat keintiman pasangan suami istri itu.
"Astagfirulah'aladzim," gumam Asila lalu dia masuk lagi ke kamar Rayan.
Asila memegangi dadanya yang berdetak sangat cepat. Dia baru pertama kalinya melihat dua orang yang berlawanan jenis sedang melakukan hal seperti itu.
Alvin dan istrinya sudah selesai ber*ciuman. Alvin merengek kepada istrinya karena mau meminta yang lain. Akhirnya mereka pergi ke kamar tamu.
"Mas, sudah dong," pinta Zivana kepada suaminya.
Alvin masih asyik dengan kegiatannya.
"Mas, ini sudah lama loh," ucap Zivana
Alvin menjauhkan diri dari istrinya. Lalu dia mengelap sudut bibirnya yang basah.
"Terima kasih, sayang."
"Sama-sama, Mas." ucap Zivana sambil mengancingkan kembali kancing piyamanya.
__ADS_1
Alvin dan Zivana kembali keluar dari kamar tamu. Alvin akan segera tidur karena dia baru saja mendapat energi dari istrinya. Alvin juga akan tidur bersama istri dan anak perempuannya. Karena kebetulan Rayan tidur di temani oleh Asila.
Saat melihat majikannya sudah kembali ke kamar, Bi Salma pamit undur diri.
Alvin dan Zivana merebahkan dirinya di sebelah anaknya. Andai saja Istrinya tidak sedang dalam masa nifas, ingin sekali Alvin menghajarnya. Apalagi setelah melahirkan, badan Zivana semakin berisi. Itu membuat Alvin harus kuat menahan hasratnya.
°°°
°°°
Zivana melihat Asila yang cukup baik dan sabar selama menjaga Rayan. Pernah sekali dia tak sengaja melihat Asila yang sedang mengaji. Dari yang dia lihat, Asila bisa menjadikan panutan untuk anaknya.
Zivana berada di luar rumah, kebetulan dia baru saja melihat kepergian suaminya yang akan pergi ke kantor. Saat hendak masuk ke rumah, Zivana melihat sebuah mobil memasuki halaman rumahnya. Dia tidak jadi masuk, namun dia melihat siapa yang datang.
Farizki segera keluar dari mobil setelah dia menghentikan mobilnya. Dia menghampiri Zivana yang sedang berdiri di depan pintu.
"Tumben kamu datang? Memangnya tidak ke kantor?" Zivana bertanya kepada Farizki.
"Nanti deh, agak siangan. Iki kangen nih sama Rayan."
"Cuma Rayan saja nih yang di kangenin, Azel tidak?"
"Ya dua-duanya sih," ucap Farizki.
Zivana mengajak Farizki masuk ke rumah.
"Itu siapa?" Farizki menatap wanita muda yang sedang bermain bersama Baby Rayan.
"Itu Baby sister baru," ucap Zivana.
"Ya sudah, iki mau ke Rayan dulu."
Zivana kembali ke kamarnya untuk melihat anaknya. Takutnya sudah bangun.
"Rayan sayang, om iki datang nih."ucap Farizki lalu berjongkok.
Kebetulan Asila menatap ke arah Farizki. Dan Farizki juga tidak sengaja menatap Asila. Asila buru-buru menundukan pandangannya.
Cantik sekali wanita ini, terlihat sholehah seperti Mamah," batin Farizki.
"Kenalin saya Farizki," ucapnya sambil mengangkat tangannya mengajak Asila untuk berjabat tangan.
"Saya Asila, Baby sister baru disini," ucapnya tanpa mengangkat tangannya. Dia tidak menerima jabatan tangan Farizki.
Farizki kembali menurunkan tangannya.
__ADS_1
Sepertinya wanita ini benar-benar sholehah," batin Farizki.
Farizki menggendong Rayan lalu menciuminya dengan gemas.
"Nih om bawakan makanan kesukaan Rayan loh," Farizki mengambil makanan itu dari plastik putih lalu memberikannya kepada Rayan.
"Hehe aem," Rayan tersenyum menatap Farizki. Dia terlihat senang karena di kasih makanan kesukaannya.
"Sinih biar Kakak bukain, sayang." Asila mengambil makanan yang sedang di pegang oleh Rayan. Lalu dia menbuka bungkusnya.
Rayan kembali memainkan mobil-mobilan miliknya. dan tangan yang satunya sibuk menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Saya permisi dulu," Asila pergi dari sana karena tidak mau berdekatan dengan Farizki. Dia akan menyiapkan sarapan untuk Rayan.
Setelah Asila kembali menghampiri Rayan, kini Farizki berpamitan untuk pergi. Dia akan ke kantor, tapi sebelum itu dia akan menemui Zivana dulu.
Tok tok
Farizki mengetuk pintu kamar Zivana. Lalu dia langsung masuk ke dalam.
"Kak, Azel sudah bangun?"
"Sudah nih, mau di mandikan," ucap Zivana.
"Tunggu dulu, Kak!" Farizki mendekati Azel lalu mencium kening dan pipinya. "Cantik sekali nih Azel," ucap Farizki.
"Cantik dong, ibunya juga cantik."
"Kak, aku mau tanya dong," Farizki menatap Zivana.
"Tanya apa?"
"Itu Baby Sister baru sudah punya pacar belum?"
"Kamu naksir? Kalau kamu ajak dia pacaran, tidak mungkin mau. Sholehah sekali dia, tindak mungkin pacaran."
"Iya sih, Kak. Tadi juga Iki ajak berjabat tangan, dia tidak membalasnya."
"Hahaha kasihan sekali adikku yang satu ini, ah sudahlah Kakak mau mandiin Azel dulu."
"Iki juga mau langsung pergi Kak."
"Cepat sekali sih?"
"Lama-lama disini malu lah sama Asila, minta jabat tangan saja tidak di balas."
__ADS_1
Setelah berpamitan, Farizki segera pergi. Begitu juga dengan Zivana yang akan memandikan anaknya.
°°°°