Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part.95


__ADS_3

Ibu Kota


Rey melakukan aktifitasnya seperti biasa. yaitu bangun pagi karena harus pergi bekerja. memang selama Ayu bekerja dirumahnya, Rey berubah menjadi sosok yang rajin dan tidak bermalas-malasan lagi.


Rey yang baru keluar dari kamarnya melihat Ayu sedang menyapu lantai depan kamarnya. mereka saling curi pandang. Ayu mengalihkan pandangannya saat dia dan Rey saling bertatap muka.


Rey tersenyum ketika melihat Ayu yang juga menatapnya. dia mencoba berjalan mendekatinya.


"Istirahat dulu kalau capek." Rey berkata kepada Ayu yang sedang menyapu.


"Nanti saja Mas Rey." jawab Ayu


"Ya sudah kalau begitu cepat selesaikan menyapunya. nanti langsung ke kamar saya siapkan Air hangat untuk mandi." pinta Rey


"Baik Mas Rey" jawab Ayu lalu dia segera menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah selesai menyapu, Ayu langsung masuk ke kamar Rey. itu untuk kedua kalinya dia masuk ke dalam kamar itu. karena sebelumnya Bu Farah yang selalu membersihkan kamar anaknya. tapi karena akhir-akhir ini kesehatannya kurang baik, Bu Farah menyuruh Ayu untuk mengurus semua pekerjaan rumah. termasuk melakukan pekerjaan yang biasa dia lakukan kini semuanya diserahkan kepada Ayu.


Rey kembali masuk ke dalam kamarnya. dia mendengar teriakan dari kamar mandi.


Rey langsung berjalan memasuki kamar mandi. dia melihat Ayu yang sudah basah kuyup.


"Loh, Ayu kenapa basah-basahan?" tanya Rey saat melihat penampilan Ayu.


"Tadi tidak sengaja terpeleset." kata Ayu


"Sebentar!" pinta Rey lalu dia keluar dari kamarnya. Rey kembali menghampiri Ayu. "Cepat ganti dulu pakai ini. nanti lantainya basah kalau kamu keluar pakai itu." Rey memberikan kimono yang dia bawa kepada Ayu dan menyuruhnya untuk memakainya.


Ayu keluar kamar mandi sambil berjalan tertatih-tatih karena kakinya sakit akibat terjatuh.


Rey melihat Ayu yang tidak seperti biasanya berpenampilan tertutup. dia terpesona melihat Ayu yang hanya memakai kimono dan rambutnya tergerai indah walaupun basah.


Ayu melihat Rey yang terus menatapnya.


dia segera berjalan menuju pintu keluar. namun dia terjatuh ke lantai.


Rey menghampiri Ayu dan membawanya ke dalam gendongannya.


"Ahh lepaskan" Teriak Ayu memberontak


Stt kenapa suaranya sexy sekali." batin Rey


Rey merebahkan Ayu di atas ranjang miliknya.


"Kenapa mendekat? Mas Rey mau ngapain?" tanya Ayu


"Ayo kita menikah" ucap Rey tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.


"Apa maksud Mas Rey? jangan ngacau deh kalau bicara." ucap Ayu


"Saya serius ingin menikahimu. dari pada saya berdosa dan khilaf jika terus melihat tubuhmu ini." ucap Rey sambil menatap seluruh tubuh Ayu yang masih terbalut kimono.


"Apa yang Mas Rey inginkan?" tanya Ayu


"Menikahimu dan hidup bahagia." ucapnya sambil mendudukan diri dipinggir ranjang.


"Tapi......." Ayu tidak melanjutkan lagi perkatannya karena Rey membungkan mulutnya dengan jari telunjuknya.


"Sttt tidak ada penolakan sayang." ucap Rey


Sayang, apa aku tidak salah dengar." batin Ayu


"Kenapa melamun?" tanya Rey


"Tidak kok, aku tidak melamun." jawab Ayu gugup.


Rey bangkit dari duduknya. dia melangkah pergi menuju pintu keluar.


"Mau kemana?" Ayu bertanya kepada Rey yang hendak melangkah keluar kamar.


"Mau ambilkan baju untukmu. Mas tidak mau jika aurat calon istri Mas ini terlihat oleh orang lain." kata Rey


Ayu langsung luluh mendengar semua perkataan Rey. dia akui jika majikannya itu memang selalu bersikap manis kepadanya. namun sebelumnya dia cuek tak memperdulikan. tapi lama kelamaan sikap manis Rey itu mampu meluluhkan hatinya.


Rey sedang duduk di meja makan dengan Bu Farah. Ayu tampak tak terlihat karena sedang istirahat di kamarnya. Rey yang menyuruhnya istirahat karena kakinya yang masih sakit. Bu Farah tidak mempermasalahkan jika Ayu izin untuk satu hari. karena selama ini dia cukup puas melihat kinerja Ayu. namun Bu Farah tidak mengetahui jika Ayu dan Rey diam-diam saling menyimpan perasaan.


Setelah sarapan, Rey berpamitan untuk berangkat kerja.


Sesampainya di kantor, semua karyawan yang berpapasan dengan Rey tak lupa membungkukan badannya tanda memberi hormat. Rey hanya tersenyum menatap mereka. memang Rey tipe Bos yang ramah kepada semua karyawan.


"Selamat Pagi Pak" sapa Putri saat melihat Rey hendak masuk ke dalam ruangannya.


"Pagi Put, sudah berapa kali saya menyuruh kamu untuk memanggil kakak saja. rasanya aneh jika kamu memanggil saya dengan sebutan Pak." kata Rey


"Tapi saya tidak enak Pak eh Kak." ucap Putri canggung.


"Dibiasain saja, kenapa kamu sekarang berubah? dulu kamu terlihat cerewet dan bar-bar." Rey melihat perubahan pada diri Putri. dulu mereka selalu berdebat tapi beda dengan sekarang. Putri lebih terlihat lemah lembut dan selalu memperlihatkan sisi feminimnya. jika Rey memancing emosinya, Putri tidak akan terpancing.

__ADS_1


Ini semua demi kamu Kak Rey, aku jatuh cinta kepadamu. dan juga sudah lama aku menyimpan rasa ini." batin Putri


"Kenapa kamu diam?" Rey melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Putri.


"Eh Maaf kak Rey, ya sudah saya mau ke toilet dulu." ucap Putri untuk mengalihkan pembicaraan mereka.


Putri meninggalkan Rey yang masih berdiri di depan pintu masuk. beberapa kali dia memegang dadanya yang berdebar tak menentu.


Siang harinya Rey bersiap untuk menghadiri pertemuan dengan klien di luar kantor. dia mengajak Putri sebagai partnernya.


kini keduanya sudah sampai di tempat yang dijanjikan untuk pertemuan.


"Selamat siang Pak Rama." sapa Rey yang sudah berdiri di depan kliennya.


"Siang Pak Rey, silahkan duduk." ucapnya


Rey dan Putri segera duduk di depan Rama dan sekretarisnya.


"Siapa ini Pak Rey? cantik sekali." ucap Rama memuji kecantikan Putri.


"Ini sekretaris saya namanya Putri."


Keduanya mulai membahas rencana kerja sama mereka. disela-sela pembicaraan, Rama tak henti-hentinya menatap Putri.


kini kesepakatan kerja sama antara keduanya sudah terjalin.


Beberapa menit kemudian hidangan yang di pesan Rama sudah datang. dia sengaja memilih restoran yang berada di hotel ternama di Ibu kota untuk pertemuannya. karena dia menyukai masakan restoran itu.


"Silahkan Pak Rama duluan yang menyantap hidangannya." tawar Rey


"Nanti saja Pak Rey, saya akan menyantap hidangan yang lebih enak dari ini." ucapnya


Rama membisikan sesuatu kepada sekretarisnya.


"Aduh perutku sakit, maaf Putri, apa kamu mau mengantarkan saya ke toilet?" tanyanya


"Boleh, mari saya antar." Putri langsung bangkit dari duduknya.


Beberapa saat kemudian sekretaris Rama sudah kembali ke meja tempat atasannya itu.


"Loh, Putri mana? kenapa tidak bareng kesininya?" tanya Rey


"Putri masih di toilet pak, tadi katanya dia meminta saya duluan.


"Oh, ya sudah" ucap Rey lalu melanjutkan menyantap hidangannya.


"Maaf Pak Rey, saya juga mau ke toilet dulu." pamit Rama


Rama meninggalkan mereka berdua. dia berjalan menuju kamar hotel yang sudah dipesannya.


Ceklek


"Pak Rama, kenapa bisa masuk kesini?" tanya Putri panik


"Saya mau menyantap makan siang saya." ucapnya sambil menjilati lidahnya sendiri.


"Apa maksud dari semua ini? kenapa saya dikunciin disini? sebenarnya apa mau Bapak?" tanya Putri


"Tentu bermain-main denganmu cantik." ucapnya sambil melepas satu persatu kancing kemejanya.


"Tolong jangan Pak, jangan lakukan itu kepada saya." Teriak Putri yang sudah merasa cemas.


"Tenanglah cantik, sudah lama saya menunggu kesempatan ini. akhirnya saya bisa bertemu dengan kekasih dari Rey Dirgantara." ucapnya penuh seringai.


Rama yang merupakan teman kuliah Rey sudah lama mengorek semua informasi tentang Rey. dia ingin membalaskan dendamnya kepada Rey yang dulu sudah membuat wanita yang dia cintai frustasi dan meninggal dunia. penyamarannya kali ini tidak sia-sia. ternyata Rey benar-benar tidak mengenalinya.


Dari informasi yang dia dapat dari orang suruhannya, mengatakan bahwa Rey cukup dekat dengan sekretarisnya sendiri. dan tidak ada lagi wanita yang dekat dengannya selain Putri. jadi Rama mengira jika mereka adalah pasangan.


"Tolong...tolong...."Putri terus berteriak meminta tolong.


"Purcuma cantik disini hanya ada kita berdua." ucapnya lalu berjalan mendekati Putri.


Rey sudah selesai menyantap makanannya. beberapa kali dia menengok ke kanan kirinya mencari keberadaan Putri. namun Putri belum terlihat juga.


"Maaf nona, saya mau ke toilet." Rey berpamitan kepada sekretaris Rama.


Rey berjalan menuju ke toilet. setibanya disana dia melihat seorang perempuan yang baru keluar.


"Maaf Nona, apa anda melihat teman saya?" tanya Juna lalu dia memperlihatkan foto Putri yang ada di ponselnya.


"Tidak, di dalam hanya ada saya sendiri." ucapnya


Rey heran karena Putri sudah tidak berada di toilet. padahal sudah cukup lama dia pergi.


Apa Putri sudah pulang duluan, atau mungkin sedang ada urusan lain sehingga pergi begitu saja." batin Juna


"Maaf Pak, kenapa Bapak berada di depan toilet wanita?" tanya office girl yang sedang membawa alat pel.

__ADS_1


"Saya sedang mencari teman saya. dari tadi dia belum kembali setelah berpamitan pergi ke toilet.


"Apa Bapak ada foto temannya? siapa tahu saya pernah melihat disekitaran sini."


Lalu Rey memperlihatkan foto Putri yang ada di ponsel miliknya.


"Ini foto teman saya." ucap Rey


"Oh wanita ini, tadi saya melihat wanita ini masuk ke dalam salah satu kamar hotel bersama temannya. tapi beberapa saat kemudian saya melihat temannya itu keluar. sedangkan wanita yang ada di foto ini tidak ikut keluar. mungkin dia salah satu tamu di hotel ini." jelasnya


"Apa Nona yakin wanita ini yang Nona lihat?" tanya Rey untuk memastikannya kembali.


"Yakin, saya lihat wanita ini masuk ke kamar XXX." ucapnya


Setelah mendapat jawaban pasti, Rey pergi dengan tergesa-gesa. kini dia sudah sampai di depan pintu masuk kamar hotel dimana Putri berada.


"Tok tok" Rey beberapa kali mengetuk pintu dan memencel bel namun Putri tidak keluar dari dalam.


Karena merasa panik, Rey pergi ke tempat resepsionis untuk meminta kunci duplikat kamar itu.


"Maaf Nona, apa saya boleh pinjam kunci kamar XXX?" tanya Rey


"Maaf Tuan, kami tidak bisa memberikan ID Card kamar hotel ke sembarang orang. apalagi anda belum cek in." ucapnya


"Saya mau menemui teman saya namanya Putri. tadi dia masuk ke dalam kamar itu. saya sudah memencet bel beberapa kali namun tidak ada jawaban dari dalam."


"Maaf,teman anda dikamar mana?"


"Kamar no.XXX" ucap Rey


Resepsionis itu mengecek buku daftar tamu hotel yang cek in hari ini.


"Maaf Tuan, tapi yang menyewa kamar itu bukan teman Tuan tapi Tuan Rama yang merupakan pelanggan tetap hotel kami." ucapnya


"Jadi Rama yang menyewa kamar itu? tapi tadi saya melihat teman saya masuk ke dalam. saya khawatir dengan teman saya apalagi dia wanita single."


Kedua resepsionis itu saling pandang. mereka teringat kejadian bulan lalu saat ada orangtua yang mencari anaknya ke hotel itu. tapi mereka tidak menghiraukannya. dan keesokan harinya digegerkan dengan keberadaan seorang siswi SMA di dalam kamar hotel tanpa busana dan tak sadarkan diri.


Kedua resepsionis itu saling pandang.


"Ya sudah, mari saya antar Tuan untuk mengecek kamar itu." ucap salah satu resepsionis itu.


Kini keduanya sudah berdiri di depan pintu kamar hotel. setelah pintu itu berhasil di buka, Rey langsung masuk tanpa permisi.


dia terkejut dengan pemandangan yang dia lihat.


"Hey, apa yang Anda lakukan?" teriak Rey


"Ckck Rey Rey, kenapa kamu pelit sekali? aku juga ingin mencicipi kecantikan kekasihmu ini." ucapnya lalu mencium pipi Putri.


sedangkan Putri sudah memberontak sejak tadi. dia menangis, memohon, berteriak pun tetap saja Rama tidak melepaskannya.


"Lepaskan Putri!" pinta Rey


"Sudah terlambat sob, ternyata kekasihmu ini masih virgin."


"Apa yang sudah Anda lakukan kepada Putri?" Rey yang sudah berapi-api melangkah mendekati mereka berdua.


Bugh bugh


Rey menghajar Rama tanpa ampun. setelah Rama terlihat lemah, Rey menyuruh resepsionis tadi untuk memanggilkan pihak keamanan hotel. beberapa saat kemudian petugas itu datang.Rama diseret oleh mereka dan akan di proses secara hukum karena telah melecehkan seorang wanita.


Rey mendekati Putri yang sedang meringkuk dibawah selimut.


"Put, kamu tidak apa-apa?" tanya Rey


"Kak Rey" Putri langsung duduk dan memeluk Rey. dia tidak memperdulikan keadannya saat ini.


Rey melihat Putri yang hanya memakai dalaman saja. dia menelan ludahnya kasar.


Sadar Rey, dia bukan Ayu." sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Untuk sementara Rey membiarkan Putri berada di dalam pelukannya sampai dia merasa tenang.


"Kamu yang sabar yah Put." ucap Rey menenagkan.


"Hiks hiks hiks Kak Rey, dia jahat, dia tega sama Putri." Putri menangis tersendu-sendu.


Rey membelai rambut panjang Putri. dia mencoba menenangkan sekretaris sekaligus temannya itu.


"Ya sudah,ayo kita pulang! tapi kamu pakai pakaianmu dulu yah.


Rey membuka selimut yang menutupi Putri. dia melotot saat melihat Putri hanya memakai dalaman saja. apalagi bentuk tubuhnya yang ideal membuat siapa saja yang melihat ingin menerkamnya.


Rey membantu Putri mengenakan pakaiannya. dia berkali-kali menelan ludahnya dan menggelang-gelangkan kepalanya.


Sadar Rey, dia bukan Ayu, Kamu jangan terpancing." batin Rey

__ADS_1


Setelah memakaikan pakaian kepada Putri, Rey mengajaknya untuk pulang. dia membiarkan Putri tetap memeluknya sepanjang jalan. dia fikir itu semua bisa membuatnya tenang.


°°°°°


__ADS_2