
Rey mengantarkan Putri pulang ke rumahnya. beruntung kedua orangtua Putri sedang berada di luar negeri. jadi mereka tidak melihat keadaan anaknya yang tampak frustasi. setelah mengantar Putri sampai ke kamarnya, Rey bergegas untuk pulang. tak lupa dia meminta pembantu rumah itu untuk menjaga dan mengawasi Putri.
Rey sendiri belum tahu sebenarnya apa saja yang sudah dilakukan Rama terhadap Putri. karena Putri belum menceritakan dan mungkin malu untuk menceritakannya. namun satu hal yang Rey tahu satu kenaran. dia melihat banyak bercak merah di tubuh Putri saat dia memakaikan pakaiannya. selebihnya dia tidak tahu lagi.
Rey yang baru sampai dirumah disambut ramah oleh Ayu.
"Loh, kok kamu keluar kamar sih sayang?" tanya Rey lalu dia berjalan mendekati Ayu. "Memangnya kaki kamu sudah sembuh?" tanyanya lagi
"Agak mendingan Mas, lagian bosan di dalam kamar terus."
"Ya sudah terserah kamu, oh iya say......" Rey tak lagi melanjutkan perkataannya karena dia melihat Bu Farah sedang berjalan menghampiri mereka.
"Kamu sudah pulang Nak?" tanya Bu Farah
"Iya Mah, Mamah kenapa keluar kamar? Rey tidak mau Mamah kenapa-napa." ucapnya
"Mamah sehat kok Rey, hanya saja...." Bu Farah menggantung perkataannya.
"Hanya saja apa Mah?" tanya Rey penasaran.
Bu Farah mengurungkan niatnya untuk berbicara. karena dia belum siap untuk mengatakan keinginannya kepada anak bungsunya itu.
"Ya sudah jika Mamah belum mau mengatakan. lain kali ceritakan saja semua kemauan Mamah. Rey janji akan menuruti semua yang Mamah inginkan." ucap Rey
"Iya Nak, ya sudah Mamah ke kamar dulu yah." pamitnya
"Biar Rey bantu memapah Mamah." tawar Rey
"Tidak usah Rey, Mamah bisa sendiri kok." lalu Bu Farah berjalan kembali menuju kamarnya.
Rey terus menatap kepergian Bu Farah. sedangkan Ayu sejak tadi diam-diam memperhatikannya. Ayu salut dengan Rey yang begitu menyayangi ibunya.
"Ayu, ayo kita ke taman belakang. ada hal penting yang ingin Mas katakan sama kamu." ajaknya
__ADS_1
"Baiklah" lalu Ayu bejalan mengikuti Rey yang sudah terlebih dahulu melangkah.
Kini keduanya sudah berada di taman belakang.
"Jadi, apa yang mau Mas Rey katakan?" tanya Ayu yang duduk di depan Rey.
"Ini mengenai pernikahan kita."
"Jadi, Mas beneran mau nikahin Ayu?"
"Bener dong, Mas tidak main-main jika menyagkut urusan hati. tapi Mas lagi bingung." lalu Rey menundukan kepalanya.
"Bingung kenapa Mas?"
"Mas sangat mencintaimu yu, tapi disisi lain, Mamah belum mengetahui ini semua. Mas takut jika Mamah syok mendengar berita ini." Rey memang merasa khawatir dengan kondisi Bu Farah. dia takut jika berkata jujur, penyakit Bu Farah akan kambuh lagi.
"Jadi?"
Ayu tidak tahu harus berkata apa. dia bahagia karena laki-laki yang dia cintai mengajaknya menikah. tapi dia juga kecewa karena pernikahan itu hanya secara agama saja. dan mungkin saja harus ditutup rapat dari semua orang.
"Baiklah, Ayu mau" akhirnya Ayu menerima ajakan Rey. dia harus siap dengan semua keputusannya itu. dia tidak akan menuntut lebih dari Rey.
°°°°
Rara sedang bermain bersama Baby Zie. mereka tampak bahagia. sedangkan Juna duduk di kursi yang tak jauh dari mereka. dia sibuk memainkan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri. Rara menatap keanehan pada suaminya itu. ya, memang beberapa hari ini sikapnya berubah. Juna tidak perhatian lagi kepada Rara dan Baby Zie. dia lebih sering bermain ponsel atau keluar rumah. dia biasa pulang tengah malam.
Rara curiga jika suaminya itu punya wanita lain. tapi dia mencoba menepis semua pemikiran itu. dia percaya jika suaminya itu tidak mungkin macam-macam. apalagi punya wanita lain di luar sana.
Setelah lelah bermain, Rara mengajak Baby Zie untuk tidur siang.
Rara yang sedang tiduran sambil memeluk Baby Zie, menengok ke belakang. dia melihat suaminya itu masuk ke dalam kamar.
"Mas mau kemana?" Rara bertanya kepada suaminya yang sedang memakai jaket miliknya.
__ADS_1
"Pergi, ada urusan diluar." jawabnya lalu langsung pergi meninggalkan kamarnya.
Ingin sekali Rara mengikuti suaminya. tapi tidak mungkin dia membawa Baby Zie yang sedang tidur dan juga tidak ada kendaraan.
Tok tok tok
Terdengar ketukan pintu dari arah luar. Rara melepas pelukannya pada Baby Zie. dia keluar untuk membukakan pintu.
"Eh, Bu Sri, silahkan masuk!" pintanya
"Tidak usah Ra, lagian saya mau pergi ke tempat saudara. tapi ini saya sempatkan dulu untuk menemui kamu.
"Ya udah kalau begitu, ada apa yah?"
"Maaf jika perkataan Ibu bikin kamu terkejut. tapi Ibu mau mengatakan sesuatu." Bu Sri mencoba mengatakan kejujuran atas apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Sebenarnya apa yang mau Ibu katakan?" Rara semakin penasaran dengan hal yang akan dikatakan oleh Bu Sri.
"Ibu pernah sekali melihat suamimu jalan sama Sari bunga desa di desa sebelah. beberapa teman Ibu di desa sebelah juga mengira bahwa mereka pasangan. tidak tahu jika Juna itu suamimu. karena kalian nikah juga tidak menggelar pesta."
Jadi benar tebakanku, Mas Juna punya wanita lain. apa Mas Juna sudah tidak tertarik lagi denganku yang cuma orang susah? Apa aku kurang perhatian? atau......." Rara masih bergelut dengan pikirannya. dia terkejut dan tentunya sangat kecewa.
Bu Sri melihat Rara yang tampak diam. dia tak tega sebenarnya untuk mengatakan kebenaran itu. tapi dia tidak mau jika Rara terlambat mengetahui semua kebenaran mengenai suaminya.
"Ra, kamu tidak apa-apa?" tanya Bu Sri
"Tidak Bu, terimakasih karena sudah mengatakan semuanya kepada Rara." Rara mencoba tegar dan tetap tersenyum.
"Iya Ra, kamu yang kuat yah, kita cari solusinya sama-sama."
"Iya Bu" ucapnya sambil tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu Ibu pamit dulu." Bu Sri langsung berpamitan karena memang dia masih ada urusan di luar.
__ADS_1