
Rey dan Ayu sudah pulang dari bulan madu. itu berarti Rara dan Juna akan kembali pulang kerumah mereka.
Pagi itu Baby Zie tampak merengek. dia sama sekali tidak mau lepas dari gendongan Bu Farah.selama satu minggu menginap disana, membuat keduanya semakin dekat. bahkan beberapa kali Baby Zie meminta untuk tidur dengan Neneknya. tentu Rara juga mengijinkan keinginan anaknya. apalagi Juna, dia sangat senang karena bisa tidur berdua dengan Rara. namun Rara masih tidak mau melakukan hubungan suami istri. karena Juna masih dalam masa hukuman. biar bagaimanapun janji harus ditepati.
"Sayang, kita pulang yuk! nanti Mamah belikan mainan baru buat kamu loh." Rara mencoba untuk membujuk anaknya agar mau diajak pulang.
"Zie nda mau ulang, Zie baleng Nenek aja." Baby Zie menolak untuk diajak pulang.
"Tapi sayang, nanti kalau kita tetap disini, rumah kita tidak ada yang menempati." Rara mencoba memberi pengertian kepada anaknya.
Baby Zie tetap menolak diajak pulang. dengan berat hati, Rara meninggalkan anaknya tetap disana. dia dan Juna akan tetap pulang karena sudah terlalu lama menginap.
"Juna, apa tidak sebaiknya kamu jual saja rumah itu. terus kalian tinggal disini saja sama Mamah." pinta Bu Farah
"Tidak bisa Mah, rumah itu sudah diwariskan kepada Rara. bagaimanapun Rara sudah diamanahkan untuk menempati rumah itu Mah." jawab Juna
"Lalu, Zivana bagaimana?"
"Hm, biar kita tinggalin dulu saja disini mah. nanti kalau rewel Mamah bisa hubungi Juna. nanti kita pikirkan lagi untuk kedepannya. mungkin Baby Zie akan sering menginap disini. itupun kalau tidak rewel, tapi kalau rewel mau tidak mau Baby Zie harus tetap ikut kita." ujar Juna mencari jalan tengah. dia mengijinkan Baby Zie tetap tinggal karena dia ingin Bu Farah lebih dekat dengan cucunya.
"Tenang Kak, ada aku sama Ayu juga yang ikut jagain Baby Zie. lebih baik kalian fokus saja untuk program anak kedua." ucap Rey
"Baby Zie masih kecil loh, kita belum ada niatan untuk nambah anak." jawab Rara
"Yang namanya rezeki mana tahu, bisa saja sekarang dirahimnu ada kehidupan baru,Ra." ujar Rey
__ADS_1
"Mana mungkin Rara hamil? kita juga belum melakukan itu sudah hampir satu bulan. Kakakmu ini masih dalam masa hukuman." ucap Juna dengan lesu
"Wkwkwk awas tuh Kak kalau dianggurin kelamaan bisa jamuran."
Juna hanya melotot menatap adiknya yang bicara asal ceplos.
"Oh iya, jadi kamu mau lanjut kerja di toko kue atau tidak Yu?"Rara bertanya sambil menatap Ayu.
"Sepertinya tidak Mbak, Ayu mau dirumah saja. lagian, kalau tidak ada Ayu nanti rumah tidak ada yang ngurus. sekali lagi maaf yah Mbak, Ayu tidak bisa membantu Mbak Rara." Ayu sebenarnya merasa tidak enak kepada Rara. karena dirinya yang baru bekerja ditoko malah memilih untuk berhenti.
"Iya Yu, Mbak mengerti kok, sebagai seorang istri memang banyak yang harus dikerjakan. apalagi harus melayani suami dan mengurus rumah." ujar Rara
"Hm, tapi akhir-akhir ini kamu tidak melayani suamimu ini loh." sahut Juna ikut berbicara.
"Masih dalam masa hukuman Mas. yang sabar dong, cuma beberapa hari lagi masa hukumanmu selesai." ucap Rara kepada suaminya.
"Jangan meremehkan Rey, lihat saja nanti antara Rara dan Ayu, siapa dulu yang akan hamil duluan."
"Okeh, siapa takut, pasti Ayu yang hamil duluan." Rey berkata dengan pedenya.
Cukup lama mereka mengobrol. kini Rara dan Juna berpamitan untuk pulang ke rumah mereka. Baby Zie tetap tidak mau ikut pulang. jadi dengan terpaksa mereka meninggalkan Baby Zie. tapi sebelum itu, Rara bericara secara langsung kepada Baby Zie agar dia tidak rewel dan tidak merepotkan Neneknya. bocah kecil itu hanya menganggukan kepalanya. dia memang selalu menuruti perkataan Rara.
"Sayang, jadi kamu mau merekrut pegawai baru untuk bekerja ditoko?" tanya Juna saat mereka berada di dalam mobil. ya, sekarang Juna sudah memakai kembali fasilitas mewahnya. termasuk salah satu mobil yang dimiliki olehnya dulu.
"Iya Mas, tapi Rara masih bingung. mau merekrut pegawai laki-laki apa perempuan saja."
__ADS_1
"Bagaimana jika keduanya saja. Mas ingin memperbesar usahamu itu. kamu setuju tidak dengan niat baik Mas ini? Mas ingin kamu tetap dirumah mengurus keluarga. biar karyawanmu saja yang bekerja di toko."
"Boleh, itu ide bagus, tapi semuanya butuh proses. Rara perlu mengajari mereka supaya bisa membuat kue dengan baik." ujar Rara
"Ya sudah, biar masalah pegawai baru Mas yang urus. kamu cukup peesiapkan dirimu untuk membimbing mereka."
"Terimakasih Mas" Rara merasa senang karena suaminya mendukung semua keputusannya.
"Tapi Mas mau kamu berterimakasih dengan cara yang lain."
Lagi-lagi Juna mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Maksudnya?" Rara belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Layani Mas nanti malam, Mas sudah merindukan itu." pinta Juna
"Tapi hukumanmu tiga hari lagi loh. masa tidak bisa menahan sampai saat itu?"
"Tidak sayang, dia sudah merindukan rumahnya." ucap Juna sambil menatap miliknya yang tertutup celana.
"Haiisss, sejak kapan Mas Juna jadi mesum seperti ini?"
"Sejak mendapat hukuman dari kamu, sayang." jawab Juna
"Alasan saja, baiklah, Rara kabulkan permintaan Mas."
__ADS_1
Juna tampak senang karena Rara mau mengabulkan permintaannya. beberapa saat yang lalu memang Baby Zie sempat memintanya agar tidur bersamanya. namun Rara lebih pintar, dia membujuk anaknya agar tidak usah tidur bersama mereka.
karena Rara ingin Juna menjalani masa hukumannya. bahkan saat mereka tidur di rumah Bu Farah pun tidak terjadi apa-apa diantara keduanya.