
Bu Farah sedang menonton berita.
di televisi menayangkan berita kebakaran di sebuah hotel mewah.
"Loh itu kan hotel tempat Juna dan Rara menginap." Bu Farah kaget melihat tayangan berita kebakaran di televisi.
"Rey..Rey.." Bu Farah memanggil Rey
Rey yang mendengar teriakan Ibunya segera menghampirinya.
"Ada apa Mah pagi-pagi sudah heboh?"
"Itu Rey hotel tempat Juna menginap kebakaran."
Rey yang mendengar itu ikut terkejut.
Rey langsung menatap layar televisi.
"Mamah sudah menghubungi Juna?"
"Belum Rey"
"Rey coba telfon yah Ma." Rey merogoh ponsel miliknya di saku celananya.
Tut tut
"Hallo Kak Juna" ucap Rey
"Iya Rey ada apa?"
"Bagaimana keadaan Kakak sama Rara. tadi Rey lihat berita kebakaran hotel tempat Kak Juna menginap." Rey khawatir dengan Juna dan Rara.
"Kita baik-baik saja Rey, semalam saat kebakaran kita langsung ke Rumah Sakit."
"Ngapain ke Rumah Sakit?" tanya Rey
Bu Farah yang mendengar itu langsung menatap Rey.
"Semalam Rara pingsan tapi tidak ada yang serius kok. nanti siang juga sudah boleh pulang dari Rumah Sakit." kata Juna
"Syukurlah, Rey ikut senang jika kalian selamat dari kebakaran."
"Iya Rey, sudah dulu yah ini Kakak mau ngurusin Rara lagi manja."
"Ya sudah Kak"
Panggilan antara Kakak beradik ini sudah berakhir.
Bu Farah langsung bertanya kepada Rey mengenai kondisi Juna dan Rara.
"Apa yang terjadi sama mereka Rey?"
"Kak Juna sama Rara selamat Mah."
"Syukurlah" Bu Farah tak jadi cemas setelah mendengar bahwa anak dan menantunya baik-baik saja.
"Kak Rey" Putri datang dengan membawa tas kerja milik Rey.
__ADS_1
"Iya sayang, makasih sudah dibawakan tasnya." Rey langsung mengambil tas yang dibawa istrinya.
"Sama-sama Kak" ucap Putri
Rey berpamitan dengan Istri dan ibunya sebelum berangkat kerja ke kantor.
Jika Rey sudah berangkat ke kantor namun berbeda dengan Juna. Juna sibuk mengurus Rara yang sedang manja.
"Mas tempat makannya jangan pakai yang ini pakainya piring saja." Rara yang akan sarapan makanan Rumah Sakit tidak mau memakai tempat makan yang itu. Rara ingin makanannya di pindahin ke piring bulat.
"Tapi sayang, disini mana ada piring."
"Mas usaha dong, beli apa gimana. kalau nggak mau beli satu lusin beli satu saja."
"Memangnya ada yang jual piring satuan?"
"Kalau tidak ada tinggal beli sabun daia nanti dapat piring satu." ucap Rara
"Terus Mas harus nyari?"
"Iyalah Mas, masa enak-enakan disini. cepat pergi Rara mau makan nungguin piring." Rara menyuruh suaminya untuk segera pergi.
20 menit kemudian Juna sudah kembali membawa piring untuk Istrinya.
"Sayang, ini Mas bawa piringnya."
"Tidak jadi Mas, Rara tidak jadi makan. makanan Rumah Sakit rasanya aneh kagak enak. Rara mau beli bubur ayam saja dong."
Juna tak habis pikir dengan keingin Istrinya.
"Terima kasih" Rara senang karena Juna menuruti semua permintaannya.
"Sama-sama sayang" jawab Juna
Siang ini mereka bersiap untuk pulang. Juna menuntun Istrinya dengan penuh hati-hati keluar dari Rumah Sakit. beberapa orang yang melihat kemesraan mereka mengira jika mereka pengantin baru. dan hamil anak pertamanya.
"Mas, Rara malu ih di lihatin orang."
"Nggak usah malu dong sayang, mungkin mereka iri sama kemesraan kita." Juna kembali menuntun Istrinya.
Mereka sudah sampai di parkiran. Rara duduk di belakang bukan di samping suaminya.
"Sayang, kenapa kamu duduk disitu?"
"Aku mau tiduran disini."
"Tapi hati-hati yah sayang."
"Iya Mas"
Sepanjang perjalanan Rara duduk tak tinggal diam. Juna yang melihat itu merasa khawatir.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Juna
"Rara mau tidur tapi tidak bisa." jawab Rara
"Mau Mas elus perutnya?"
__ADS_1
"Mau Mas" Rara tampak girang
Juna memarkirkan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. dia pindah ke belakang menemani Istrinya. Juna memeluk Istrinya sambil mengelus perut buncitnya. bukannya tidur Rara malah menggoda suaminya dengan membuka kancing kemeja atas dan mengelus dada bidangnya.
"Sayang mau tidur apa mau menggoda Mas?"
"Dua-duanya" Rara tersenyum genit menatap suaminya.
"Jangan godain Mas dong nanti Mas nggak tahan."
"Kalau nggak tahan tinggal lakuin."
"Masalahnya ini di pinggir jalan sayangku. nanti kalau ada yang gerebeg bisa gawat."
"Iya deh tapi nanti kalau sudah sampai rumah Rara minta itu."
"Oke istri mesumku" ucap Juna menggoda Istrinya.
"Iisshh Mas juna juga doyan."
"Hahaha"
Juna terus mengelus perut Istrinya hingga tertidur. setelah Rara tertidur, Juna merebahkan Rara di jok belakang. Juna kembali duduk di depan untuk mengemudikan mobilnya. sesekali Juna menengok ke belakang takut Istrinya kenapa-kenapa.
Mereka sudah sampai di rumahnya. dan ternyata disana ada Bu Farah yang sedang menuggu kedatangan mereka. Juna menggendong Istrinya yang masih tertidur.
"Rara kenapa?" tanya Bu Farah yang melihat Juna menggendong Rara.
"Rara tidur Mah"
"Oh tidur, kirain Mamah terjadi sesuatu."
Bu Farah memang sudah disana dari satu jam yang lalu. tapi saat mendengar suara mobil, dia langsung keluar rumah.
Rara dibawa menuju ke kamarnya. Juna langsung membaringkan Rara di atas kasur. Juna hendak beranjak pergi menemui Ibunya. namun Rara menahan tangannya.
"Sayang sudah bangun?"
"Emm, Rara mau nagih janji."
"Tapi di luar ada Mamah loh. mending kita temui Mamah dulu."
Rara hanya menggelengkan kepalanya.
"Baiklah tapi cuma sebentar yah. Mas kasihan sama Mamah kalau di biarin sendirian."
Rara hanya menganggukan kepalanya.
Juna dan Rara memulai percintaan panas mereka.
Bu Farah sejak tadi duduk sendirian di ruang keluarga.
"Juna ngapain sih di kamar lama sekali. masa cuma nganterin Rara saja lama." gumam Bu Farah lalu beranjak pergi menghampiri anaknya.
Bu Farah yang sudah berdiri di depan kamar mendengar ******* yang begitu nyaring. karena pintu kamar tidak tertutup rapat.
Dasar anak muda tidak tahu waktu. siang malam oke." batin Bu Farah lalu merapatkan pintu kamar anaknya agar suara-suara itu tidak terdengar dari luar.
__ADS_1