Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 31


__ADS_3

Sebenarnya Zivana merasa kasihan kepada Aldo. karena dia sudah menyakiti hatinya. namun dia melakukan itu untuk kebaikan mereka. Zivana tak pantas jika dirinya bersanding dengan Aldo. walaupun Aldo mengatakan mau menerimanya dengan keadaan apa pun, namun Zivana tetap merasa tak pantas.


Bu Rara melihat anaknya yang sudah pulang. padahal baru tiga puluh menit Zivana pergi.


"Zie, kok kamu sudah pulang?" tanya Bu Rara yang melihat anaknya masuk ke dalam rumah.


"Iya nih Mah, kebetulan hanya sebentar," jawab Zivana


"Apa kamu sudah jujur sama Nak Aldo?"


"Sudah Mah, Zie merasa tidak enak jika tetap melanjutkan hubungan ini," kata Zivana


"Iya Zie, lebih baik kamu fokus sama kandungan kamu dulu saja. lagian jika memang berjodoh, pasti Aldo akan tetap menunggumu sampai kamu benar-benar siap bersanding dengannya."


"Tapi Zie harap jika Kak Aldo mendapat wanita yang lebih baik dari pada Zie," ucap Zivana


"Kamu ini sudah baik loh sayang, ya mungkin statusmu saja yang membuatmu merasa tak pantas untuk Aldo," ujar Bu Rara


"Iya Mah, Zie juga merasa seperti itu," ucap Zivana


Setelah selesai mengobrol, Zivana pergi menuju ke kamarnya. dia memilih berdiam diri di kamar karena hari ini tidak ada kegiatan.


Bu Rara membuatkan Zivana teh hangat agar Zivana lebih tenang. Bu Rara tahu jika tak mudah untuk Zivana memutuskan hubungan begitu saja dengan Aldo. pasti terbesit rasa bersalah di dalam hatinya. apalagi seorang perempuan itu tidak baik jika memutuskan hubungan begitu saja.


Tok tok


Bu Rara mengetuk pintu kamar anaknya. Zivana membukakan pintu kamarnya.


"Ada apa Mah?"


"Ini sayang, Mamah buatkan teh hangat untuk kamu," ucap Bu Rara lalu melangkah masuk ke kamar.


Bu Rara menaruh teh hangat buatannya dan cemilan ibu hamil di atas meja yang ada di kamar itu.


"Mamah tidak perlu repot-repot, Zie bisa bikin sendiri kok," kata Zivana sambil melangkah mendekati Ibunya.


"Mamah tidak merasa di repotkan sama sekali kok," ucap Bu Rara


"Terima kasih Mah," Zivana merasa senang karena Ibunya begitu baik dan perhatian.

__ADS_1


"Sama-sama sayang, kalau begitu mamah mau keluar dulu," ucap Bu Rara


"Iya Mah," ucap Zivana


Bu Rara segera melangkah pergi meninggalkan kamar itu.


Zivana mendudukan dirinya di sofa lalu mulai menikmati cemilan ibu hamil dan teh hangat yang di buatkan oleh Ibunya.


°°°


Pak Juna pulang ke rumah bersama Alvin.


kebetulan tadi Alvin ke kantornya. namun karena sudah sore, jadi Pak Juna mengajaknya untuk berbicara di rumahnya. karena hal yang akan di bicaran oleh Alvin sangat penting.


Bu Rara menyambut kedatangan suaminya.


"Biar Mamah bawakan tasnya Pah," ucap Bu Rara


"Makasih Mah, oh iya Papah mau ke ruang kerja dulu sama Alvin," ucap Pak Juna kepada Istrinya.


"Baik Pah," Bu Rara segera pergi ke kamar dengan membawa tas suaminya, setelah melihat suaminya terlebih dahulu pergi dari hadapannya.


"Apa yang mau kamu katakan Vin?" tanya Pak Juna


"Begini Pah, Alvin sudah menemukan pembunuh yang sudah membunuh Papah Devan, tapi ini baru dugaan sih," kata Alvin


"Siapa orang itu?"


"Dia mantan karyawan di Arganta Group. lebih tepatnya kaki tangan Papah Devan."


"Kamu sudah membereskannya?"


"Belum, sekarang orang itu berada di luar negeri karena punya Bisnis di sana."


"Apa orang itu Alex?" Pak Juna bertanya kepada Alvin.


"Benar Pah, tapi ini masih dugaan karena Alvin tidak punya bukti yang kuat," jawab Alvin


"Petunjuk apa yang kamu temukan?"

__ADS_1


"CCTV beberapa tahun yang lalu. untung saja masih ada file CCTV itu yang di simpan di flashdish dan ada di gudang kantor. dan juga bukti-bukti kecurangan Pak Alex selama menjadi Asisten Papah." jelas Alvin


"Alex itu memang pintar dan cerdik, Papah akui itu," ucap Pak Juna


"Lalu kita harus bagaimana Pah untuk menangkapnya? apa kita akan langsung pergi ke alamatnya yang ada di luar negeri?"


"Jangan! orang cerdik harus kita kicau juga. lagian kalau kita mendatanginya, pasti akan sulit untuk bisa bertemu langsung. seperti harus membuat janji atau yang lainnya. jika Alex tahu kedatangan kita, pasti dia menghindar. dan bisa saja dia pergi menjauh dan menghapus jejaknya."


"Lalu, apa langkah yang sebaiknya kita ambil?"


"Satu-satunya cara yaitu mengambil klien perusahaannya satu persatu agar mau bekerja sama dengan kita," jawab Pak Juna


"Bagus juga ide Papah," kata Alvin


"Tentunya kita butuh bantuan Zivana, tidak bisa kalau kita merebut klien orang begitu saja. apalagi kalau kita memaksa."


"Tapi Zie sedang hamil Pah," ucap Alvin


"Itu gampang, nanti Zivana hanya perlu bicara saja dengan kemampuannya di depan mereka. pasti mereka akan langsung mau bekerja sama. jadi Zivana tidak usah repot-repot kerja setiap hari di kantor. namun hanya datang saat benar-benar ada urusan penting."


"Kalau begitu sih Alvin setuju Pah," ucap Alvin


Setelah selesai bicara, keduanya pergi meninggalkan ruangan itu. Pak Juna pergi ke kamarnya karena akan membersihkan diri. sedangkan Alvin akan langsung pulang.


Alvin yang akan keluar dari rumah, tak sengaja berpapasan dengan Zivana.


"Zie," Alvin memanggil Zivana.


Zivana menoleh menatap Alvin.


"Ada apa?" tanya Zivana


"Bagaimana kabarmu?" Alvin balik bertanya.


"Baik," jawab Zivana


"Syukurlah, oh iya kamu makin cantik saja," setelah mengatakan itu Alvin berlalu pergi dari hadapan Zivana.


"Apaan sih, tidak jelas sekali," gumam Zivana sambil menatap kepergian Alvin.

__ADS_1


°°°°


__ADS_2