
Rara sudah bersiap-siap dengan semua barang bawaannya. dia tinggal menunggu kedatangan bu susan dan suaminya. sambil menunggu bu susan dia menemui tetangganya yang sudah mengkreditkan alat-alat dapur. rara melunasi semua alat dapur yang dia beli dengan uang pesangon yang kemarin dia dapat.
Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu sampai juga. mereka membantu membawa barang-barang Rara dan menaruhnya ke dalam mobil yang sudah mereka sewa.
"Ahh beres juga, ya sudah ayo kita berangkat. "ajak Bu Susan.
Bu Susan dan suaminya pergi menaiki motor sedangkan Rara ikut mobil yang mengangkut barang-barangnya.
Setelah menempuh satu jam perjalanan mereka sampai di tempat tujuan.
Rara segera keluar dari dalam mobil. Bu Susan mengajak Rara masuk dan mengenalkannya kepada dua karyawan yang ada di dalam toko.
Setelah perkenalan Bu Susan mengajak Rara ke mess yang akan dia tempati. Rara tampak suka dengan ruangan kamar yang cukup nyaman itu.
"Maaf Ra saya tinggal dulu yah, kamu istirahatlah dulu. nanti jika sudah waktunya makan siang kamu ikut bergabung saja dengan yang lain.
"Iya bu terimakasih banyak ibu sudah mau membantu saya.
"Sama-sama Ra, itu sudah kewajiban saya. lagian saya sudah menganggap kamu adik saya sendiri. "ucap Bu Susan
Setelah kepergian Bu Susan, Rara memilih untuk membereskan barang-barangnya. cukup lelah ternyata mengerjakan hal semudah itu juga padahal saat-saat dia menjadi office girl dia selalu mengerjakan pekerjaan yang lebih berat dari itu.
°°°°
Juna, istrinya dan Bu Farah sedang makan siang bersama. mereka memakan masakan bu Farah karena memang Juna sangat suka sekali masakan ibunya. kalau Luna jangan ditanya lagi dia tidak pandai memasak. bahkan pernah dia memasakan untuk Juna namun rasanya hambar.
__ADS_1
Setelah selesai makan Bu Farah mengajak keduanya bersantai di ruang keluarga. karena kebetulan mereka sedang tidak ada kegiatan karena sekarang hari libur.
"Maaf luna, Mamah hanya ingin bertanya bagaimana hasil pemeriksaanmu kemarin. "Bu Farah menatap ke arah menantunya itu.
"Semuanya baik-baik saja Mah, aku dan Mas Juna sama-sama subur. kita tinggal menunggu saja hari baiknya." Luna sangat senang dengan pernyataan dokter kemarin.
"Syukurlah, kalian bekerja keraslah agar secepatnya bisa segera di karuniai seorang anak.
"Siap Mah, Didi selalu bersemangat." Juna mengacungkan kedua jempolnya.
"Aww sakit sayang" teriak Juna ketika perutnya di cubit oleh istrinya.
Bu Farah hanya tersenyum melihat interaksi keduanya. dia sangat bersyukur karena bisa melihat anaknya hidup bahagia bersama dengan istrinya.
"Didi "panggil bu farah kepada anaknya yang masih memakan makanannya.
"Begini Di, karena kamu sudah menikah bagimana jika Mamah memanggilmu Juna saja. lagian panggilan *D*idi itu panggilan yang di berikan oleh Ayahmu dulu. Mamah tidak mau mengingat-ingat orang itu lagi.
"Terserah Mamah saja deh, mau Mamah panggil Didi atau Juna tetap sama saja Didi tetap selalu sayang sama Mamah. "ucap Juna
"Terimakasih sayang" Bu Farah sangat senang melihat anaknya yang tampak menyayangi dirinya.
Juna menjalani hari-harinya dengan penuh kebahagiaan. terkadang dia mengingat sosok Rara istri yang tidak dia anggap. tapi dia selalu menepiskan pikirannya itu. mungkin dia hanya mengingatnya karena kasihan bukan karena rindu. "pikirnya.
Rey baru saja pulang ke rumahnya, Bu Farah yang melihat anak bungsunya itu baru datang langsung menghampirinya.
__ADS_1
"Loh kenapa Rey kok tampak lesu. "tanya Bu Farah yang melihat raut wajah Rey.
"Tidak kok Mah, Rey hanya kehilangan separuh jiwaku.
"Duh anak mamah sepertinya sedang patah hati. wanita mana sih yang sudah membuat anak Mamah ini cemberut seperti ini." tanya Bu Farah penasaran.
"Istri orang mah "Rey berkata santai
"APA...istri orang, Mamah tidak salah dengar kan ini." Bu Farah tampak kaget dengan penuturan anaknya.
"Tidak mah memang Rey suka sama istri orang lebih tepatnya istri yang terlantar. apa mamah marah sama Rey karena mencintai istri orang." Rey menatap ke arah Bu Farah.
"Sebaiknya kamu jangan dekatin dia dulu Rey, biar bagaimanapun wanita itu statusnya masih istri orang.
"Iya Mah lagian sekarang Rey juga tidak tahu keberadaannya. dia pergi begitu saja tanpa bicra dulu sama Rey.
"Terus kamu tahu tidak seperti apa suaminya itu?" tanya Bu Farah
"Tidak Mah, Rey tidak pernah melihat seperti apa tampang suaminya. Rey juga awalnya kaget begitu mengetahui wanita yang Rey cintai sudah menikah apalagi sedang hamil muda. Mamah juga pasti kasihan kalau lihat dia. kerja banting tulang untuk biaya hidup sehari-hari. kalau Rey lihat sih sepertinya dia tidak dinafkahi oleh suaminya, kalau di nafkahi mana mungkin dia harus kerja keras mencari uang apalagi dalam keadaan hamil muda." Rey masih berbicara panjang lebar di depan Bu Farah.
"Sudah Rey jangan suudzon, siapa tahu tebakanmu itu salah."
"Ya mungkin saja Mah, ya sudah Mah Rey ke kamar dulu mau mandi. badan Rey sudah lengket nih."
Lalu Rey berlalu pergi memasuki kamarnya.
__ADS_1
Bu Farah menatap kepergian anaknya. sejenak dia memikirkan nasib anaknya yang mencintai istri orang.
dia bertekad akan mencarikan wanita yang pantas untuk Rey karena dia tidak mau jika anaknya itu menjadi perusak rumah tangga orang lain.