Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_58


__ADS_3

Juna sudah tidak sabar untuk berbicara dengan istrinya mengenai perselingkuhannya selama ini. dia bahkan tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja. Juna memutuskan untuk pulang lebih awal dan menyerahkan pekerjaannya kepada Asistennya.


Kini Juna sudah sampai dirumahnya. dia disambut hangat oleh ibunya.


Bu Farah melihat raut wajah anaknya yang seperti sedang menahan amarah.


"Kamu kenapa Nak?" taya Bu Farah kepada anaknya.


"Juna kecewa Mah sama Luna." ucapnya


"Loh memangnya Luna ngelakuin apa? apa yang membuatmu kecewa padanya?" tanya Bu Farah yang sudah penasaran.


"Luna selingkuh Mah, dia menghianatiku."


"Atas dasar apa kamu menuduhnya? apa kamu punya bukti yang kuat sehingga menuduhnya selingkuh?" Bu Farah semakin penasaran. dia tidak percaya jika menantunya itu beneran selingkuh.


"Bahkan aku sudah melihat adegan ranjangnya Mah." ucap Juna


Bu Farah lemas seketika, dia tidak dapat menopang tubuhnya. Juna segera memapah Bu Farah yang hendak terjatuh.


"Mah, Mamah kenapa?" tanya Juna kepada ibunya.


"Dada Mamah sesak" ucap Bu Farah yang sudah memegangi dadanya.


"Ayo Juna antar Mamah ke kamar. Mamah tidak perlu lagi memikirkan Luna. biar itu jadi urusan Juna saja."


"Iya Nak, kamu yang sabar yah." Bu Farah merasa prihatin dengan anaknya.


"Iya Mah" ucap Juna lalu dia memapah Bu Farah kekamarnya.


Juna yang duduk di tepi ranjang memperhatikan ibunya yang tampak sedih.


"Mah, apa Mamah mau Juna panggilkan Dokter?"tanya Juna kepada ibunya.


"Tidak usah, Mamah tidak kenapa-kenapa kok. bentar lagi juga baikan."


"Ya sudah Mamah istirahat saja, nanti kalau Mamah merasa kesakitan lagi, Mamah panggil Juna saja. biar Juna panggilkan Dokter." ucap Juna


"Iya Nak"


"Kalau begitu Juna keluar dulu." Juna segera keluar dari kamar ibunya dan membiarkannya untuk beristirahat.


Juna yang sudah keluar dari kamar ibunya segera menelpon Luna agar dia pulang lebih awal. dan Luna menuruti perintahnya.


setelah menunggu cukup lama, akhirnya orang yang ditunggu-tunggu datang juga.


Luna melangkahkan kakinya memasuki rumah. dia melihat suaminya yang sedang duduk

__ADS_1


di ruang keluarga sambil melipat kedua tangannya diatas dadanya.


"Mas Juna kok sudah di rumah? kenapa pulangnya cepat sekali? terus kenapa Mas Juna menyuruh Luna pulang sekarang?" Luna sudah menanyakan berenten pertanyaan kepada suaminya.


Juna diam sejenak, dia tidak menjawab pertanyaan istrinya. namun dia malah bertanya balik.


"Kenapa dengan kakimu?" tanya Juna yang melihat cara jalan istrinya.


"Ini tadi jatuh Mas, pas buru-buru mau kesini?" ucap Luna


"Benarkah? apakah jatuhnya diatas ranjang? apakah ditempat yang enak?" tanya Juna


Luna yang mendengar itu merasa bahwa suaminya sedang mencurigai sesuatu.


Apa maksudnya jatuh diatas ranjang? lalu, apa maksud Mas Juna bicara tempat yang enak." Luna masih bergelut dengan pikirannya.


"Ayo jawab" Juna bicara dengan nada meninggi.


"Tidak bisa jawab kan? atau tidak mau jawab?" ucap Juna yang melihat istrinya diam tak bisa berkutik.


"Sebenarnya tadi kebentur pintu." ucap Luna


"Yang benar yang mana? jatuh atau kebentur?" tanya Juna yang sudah muak dengan kebohongan istrinya.


"keduanya Mas, Luna tadi kebentur lalu terjatuh kelantai." ucap Luna


"Besar Mas" jawab Luna


"Oh besar, pantesan kamunya sakit." ucap Juna


"Maksud Mas Juna apa sih? Luna tidak mengerti?" tanya Luna kepada suaminya.


"Sinih kamu!" Juna menyuruh istrinya untuk ikut duduk disebelahnya.


Luna sekarang sudah duduk disamping suaminya. Juna langsung memutar rekaman video Luna bersama Devan saat di hotel.


Luna yang melihat video itu sangat terkejut.


Juna yang melihat ekspresi istrinya segera berbicara kepadanya.


"Enak yah, sampai-sampai tidak memikirkan yang di dalam perut." sindir Juna


"Mas, itu semua fitnah Mas, itu pasti editan Mas. plis Mas percaya yah sama aku." Luna sudah memohon-mohon kepada suaminya.


"Kalau bukan kamu terus kenapa kamu sudah panik dari tadi?" tanya Juna


Luna hanya diam tidak bisa menjawab perkataan suaminya.

__ADS_1


"Cepat kamu pergi tinggalkan rumah ini!


aku tidak mau mempunyai istri yang suka dicicipi lelaki lain." ucap Juna kepada istrinya.


"Tapi Mas" Luna sudah berlutut dikaki suaminya.


"Ampun Mas Ampun, Luna ngaku salah. Luna khilaf. ini semua juga karena Mamah." ucap Luna


"Ngapain kamu yang selingkuh malah nyalahin mamahku hah?" Juna membentak istrinya


"Mamah selalu meminta cucu Mas, sedangkan Luna tidak hamil-hamil."


"Oh jadi karena tidak hamil-hamil kamu minta dihamilin lelaki lain." Juna menyindir istrinya


"Bukan seperti itu Mas"


"Tidak usah banyak alasan, mending kamu beresin semua barang kamu dan pergi dari rumah ini." Juna yang sudah sangat kecewa dengan terpaksa mengusir istrinya.


"Tapi Mas, kasihanilah aku Mas, aku khilaf, kasihan anak kita Mas." ucap Luna yang masih berlutut.


"Anak kita? kamu yakin kalau itu anak kita? Oke kalau begitu setelah anak itu lahir kita bisa tes DNA untuk mengetahui kebenarannya. dan juga kita akan tetap berpisah. jadi kamu sekarang pergi dari sini! setelah anak itu lahir, aku sendiri yang akan datang ke rumahmu mengantarkan surat perceraian kita." ucap Juna


"Tapi Mas...." Luna berucap memohon


"Pergi" Juna kembali membentak istrinya.


Luna segera pergi dari hadapan Juna dan membereskan semua barang-barangnya.


Bu Farah sejak tadi mendengar perdebatan antara anak dan menantunya. dan itu juga yang membuatnya keluar dari kamar.


Juna yang melihat ibunya sedang menatapnya segera menghampirinya.


"Mamah kenapa keluar?" tanya Juna kepada ibunya.


"Mamah tadi mendengar kamu ribut sama istrimu. kamu benar Nak akan berpisah dengan Luna?" tanya Bu Farah kepada anaknya.


"Yakin Mah, lagian ngapain pertahanin istri tidak tahu malu seperti itu?"


"Tapi kasihan Luna sedang mengandung Nak, kalau memang itu benar anakmu bagaimana?" tanya Bu Farah kepada anaknya.


"Mamah tenang saja, jika itu anakku, aku akan mengambilnya dari Luna." ucap Juna


"Baiklah jika itu sudah keputusanmu Nak. ucap Bu Farah


Juna kembali mengantar ibunya masuk ke dalam kamar.


°°°°

__ADS_1


__ADS_2