Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 34


__ADS_3

Hari ini merupakan hari kedua untuk Zivana bekerja di kantor Alvin. namun dia masih bersantai-santai belum bersiap. padahal jam kerja kantor sebentar lagi.


"Zie, kamu tidak ke kantor?" Bu Rara bertanya sambil menatap anaknya.


Zivana menaruh gelas berisi susu hangat miliknya ke atas meja.


"Ini juga mau berangkat Mah, cuma debaynya malas pergi," kata Zivana


"Debay yang malas atau kamu?"


"Dua-duanya sih," jawab Zivana


Zivana kembali mengambil gelas berisi susu hangat miliknya. lalu dia meneguknya habis.


"Aku bersiap dulu Mah, takutnya nanti Alvin ngomel-ngomel," Zivana beranjak dari duduknya lalu dia berjalan menuju ke kamarnya.


Bu Rara mengambil gelas kosong yang tergeletak di atas meja dan membawanya ke dapur.


Zivana sudah rapih dengan penampilannya. dia akan segera pergi ke kantor. Zivana keluar dari kamar lalu menghampiri Bu Rara untuk berpamitan. setelah berpamitan, dia langsung pergi dengan menaiki taxi online yang kebetulan sudah di pesannya.


Zivana menatap jam yang melingkar di tanganya. ternyata sudah lewat satu jam dia telat masuk kantor. namun dia memilih untuk masa bodo. karena memang dia bukan tipe orang yang suka panik.


Akhirnya taxi yang di naiki Zivana sudah sampai di depan kantor Alvin. dia langsung turun setelah membayar.


Zivana berjalan memasuki gedung menjulang tinggi itu. dia melewati dua resepsionis yang sedang bekerja. resepsionis itu hanya menundukan kepalanya menyambut kedatangan mereka. Zivana membalasnya dengan senyuman.


Zivana berjalan menuju ke arah lift. dia masuk lift menuju ke lantai paling atas.


Saat ini Zivana sudah ada di depan ruangan Direktur. dia langsung mengetuk pintu lalu membukanya. Zivana masuk ke dalam ruangan itu. dia melihat Alvin yang sedang menyenderkan badannya di meja kerjanya sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya.


"Kenapa baru datang?" Alvin bertanya sambil menelisik penampilan Zivana dari atas sampai bawah.


"Maaf, aku kesiangan," jawab Zivana yang masih diam di tempatnya.


Alvin berjalan mendekati Zivana. dia berjalan memutari Zivana sambil menatapya intens.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus menghukummu," kata Alvin sambil menyunggingkan senyumnya. dia tampak berfikir hukuman yang cocok untuk Zivana.


"Apa itu?" Zivana penasaran dengan hukuman yang akan di berikan oleh Alvin.


"Ikut!" pinta Alvin


Alvin kembali duduk di kursi kebesarannya.


"Cepat duduk!" Alvin menepuk-nepuk pahanya.


"Di pangkuanmu?"


"Mau ngapain? awas yah kalau macam-macam," ucap Zivana


"Menurutlah, lagian tidak akan sakit," kata Alvin


Tidak akan sakit, memangnya apaan itu hukumannya," batin Zivana


Zivana mendekati Alvin lalu duduk di pangkuannya.


"Kenapa menghadap ke depan?" tanya Alvin


"Ke arahku," jawab Alvin


"Kamu mau m*esum? awas yang kalau kamu memp*erkosaku," ucap Zivana


"Hahaha lucu sekali," Alvin malah tertawa melihat raut wajah Zivana sedikit panik.


Zivana sudah berbalik badan. saat ini jarak dia dan Alvin sangatlah dekat.


Alvin menatap wajah Zivana cukup lama. lalu dia mendekatkan wajahnya. Zivana menolak, namun Alvin menahan tengkuknya. kini mereka b*rciuman dengan posisi yang sangat intim itu.


Sejenak Zivana terdiam saat merasakan tangan Alvin mengusap perutnya.


"Eughh... geli debaynya," ucap Zivana lalu menjauhkan bibirnya sehingga terlepas dari Alvin.

__ADS_1


"Debaynya yang geli atau kamu yang geli?"


"Dua-duanya," jawab Zivana


Cklek


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. ternyata Asisten Tio datang untuk menghadap atasannya.


"Eh maaf, saya tidak melihat," Asisten Tio kembali keluar ruangan itu dan menutup pintunya.


"Tuh kan, ada yang melihat kita," Zivana beranjak turun dari pangkuan Alvin.


Dasar Pak Bos yang satu itu, kalau ada cewek bening saja di ajaknya m*sum," batin Asisten Tio yang kembali mengingat saat dulu dirinya pernah memergoki Alvin sedang bermesraan dengan Sela.


Zivana berjalan menuju ke meja kerjanya. dia langsung duduk di kursi.


"Oh iya, aku mau bilang kalau emailku sudah di balas oleh beberapa perusahaan yang ada di New York itu."


Zivana sejenak menghentikan aktifitasnya. dia mendengarkan Alvin yang sedang berbicara.


"Mereka menginginkan kita pergi ke kantornya dan melakukan presentasi secara langsung untuk mengenalkan perusahaan kita. mereka tidak mau menerima ajakan kerja sama lewat online karena takut jika itu hanya penipuan." jelas Alvin


"Jadi kita harus ke New York?"


"Yapss..mungkin aku saja yang pergi, kamu tidak usah karena sedang hamil," ucap Alvin


"Aku harus ikut, karena tidak mungkin kamu bisa deal begitu saja dengan mereka tanpa adanya aku yang ikut adil dalam negosiasi," ucap Zivana


"Kamu meragukan kepintaranku?"


"Ya begitulah," jawab Zivana


"Baiklah, ayo ikut dan akan aku tunjukan kemampuanku di depan mereka," ucap Alvin yang sangat percaya diri.


"Siapa takut," ucap Zivana

__ADS_1


Zivana sudah mantap akan ikut dengan Alvin ke New York. namun sebelum itu dia akan konsultasi dulu dengan Dokter kandungan. karena dia tidak mau pergi begitu saja. apalagi mengabaikan kehamilannya yang bisa saja membuatnya bahaya dengan perjalanan yang akan di tempuhnya itu.


°°°


__ADS_2