
Alvin mendengar suara mobil menjauh dari depan rumahnya. dia melihat ke jendela. ternyata Bu Luna sudah pulang. Alvin segera menemui Zivana di kamarnya.
Kini Alvin sudah berada di depan kamar Zivana.
Tok tok
Alvin mengetuk pintu kamar itu. Zivana yang baru masuk ke dalam berbalik lagi dan membukakan pintu.
Cklek
Zivana melihat suaminya sedang berdiri di depan pintu.
"Ada apa?" tanya Zivana
"Ada apa kamu bilang? kamu itu tidak usah kepo dengan urusan orang lain."
"Apa salahku?"
"Tadi pakai keluar segala cari muka sama Tante Luna." ucap Alvin
"Jadi wanita tadi itu tante kamu apa ibu kamu?" tanya Zivana sambil menatap suaminya.
"Oh jadi sudah aku kamu yah, ya sudah kalau itu maumu." Alvin mendorong Zivana masuk ke dalam kamar. lalu dia ikut masuk ke dalam kamar.
"Mau ngapain?" Zivana panik saat Alvin berjalan semakin mendekatinya. bahkan jarak antara keduanya sangat intim.
Alvin tersenyum menyeringai menatap wajah panik Istrinya.
*Ternyata ini kelemahan dia, dia sangat ketakutan dan sepertinya mengira j*ika aku akan menyentuhnya." batin Alvin
Alvin kembali menjauhkan badannya dari Istrinya.
"Besok ikut aku ke rumah Tante Luna. aku penasaran seperti apa anak Tante Luna yang lama tidak aku temui itu." ucap Alvin lalu langsung melangkan meninggalkan kamar itu.
Zivana bernafas lega karena ternyata Alvin tidak menyentuhnya.
Memang selama bertahun-tahun ini Alvin tidak pernah ketemu dengan anak dari Bu Luna. terakhir mereka bertemu saat anak itu masih duduk di bangku SD. jadi Alvin ingin bertemu dengan anak yang di bangga-banggakan sekali oleh Bu Luna. sebenarnya malas sekali dia harus datang ke rumah itu. namun, jika dia tidak datang pasti Bu Luna akan bolak-balik ke rumahnya dan memintanya untuk berkunjung.
Setelah kepergian Alvin, Zivana tampak memikirkan sesuatu. banyak kebohongan yang Alvin sembunyikan darinya. padahal mereka cukup lama berpacaran.
Alvin pintar sekali menyembunyikan identitasnya. bahkan Pak Juna juga susah untuk mencari informasi tentangnya.
Mulai besok aku akan menyelidiki Mas Alvin." batin Zivana
°°°
__ADS_1
Kebetulan hari ini hari minggu. jadi Alvin dan Zivana libur kerja. sesuai perkataannya kemarin, Alvin mengajak Zivana untuk berkunjung ke rumah Bu Luna.
Terlihat Alvin dan Zivana masuk ke dalam mobil yang sama. namun Zivana malah masuk ke belakang.
"Ngapain duduk disitu?" Alvin menoleh menatap Zivana yang sedang duduk di jok belakang.
"Memangnya kenapa? terserah dong mau duduk dimana saja." ucap Zivana
"Kamu mau jika orang-orang mengira kita itu pasangan yang sedang berantem karena kamu duduk di belakang."
Memang kita terlihat seperti pasangan?" batin Zivana lalu dia segera membuka pintu mobil.
Kini Zivana sudah pindah duduk di samping suaminya.
Alvin segera mengemudikan mobilnya menuju ke kediaman Bu Luna.
Saat melihat toko kue, Zivana meminta suaminya untuk menghentikan mobilnya. dia ingin membelikan buah tangan untuk Bu Luna. karena tidak enak jika bertamu tidak membawa apa-apa.
Hanya 30 menit saja mereka sudah sampai di tempat tujuan. keduanya segera turun dari dalam mobil. Zivana membawa kue yang tadi dia beli. kini keduanya sudah berdiri di depan pintu.
Tok tok
Zivana mengetuk pintu rumah itu. tak lama Bu Luna membukakan pintu rumahnya. dia menyambut hangat kedatangan Alvin dan Zivana.
Kini keduanya sudah duduk di sofa. sedangkan Bu Luna pergi ke dapur membawa kue yang di berikan oleh Zivana.
"Silahkan di nikmati!" Bu Luna menaruh air minum dan makanan ringan di ats meja.
"Terima kasih Bu, tidak perlu repot-repot," ucap Zivana kepada Bu Luna.
"Saya sama sekali tidak merasa di repotkan," ucap Bu Luna sambil tersenyum menatap Zivana. "Sebentar! saya mau panggilkan anak saya." ucapnya lagi
Setelah mengatakan itu Bu Luna segera pergi ke kamar anaknya.
Kini Bu Luna sudah datang bersama anaknya. Alvin dan Zivana merasa terkejut melihat wanita itu.
Dia kan sekretarisnya Mas Alvin." batin Zivana
"Pak Alvin, wah kita ketemu disini," Sela langsung duduk di sebelah Alvin dan sedikit merapatkan badannya.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Bu Luna
"Sela ini sekretaris saya di kantor." jawab Alvin
"Wah kalian ini adik Kakak loh, kamu ingat tidak Sel, dulu Alvin sering datang kesini loh."
__ADS_1
"Sela tidak ingat Mah," ucap Sela
Alvin masih termenung dengan fikirannya.
Jadi Sela ini adik tiriku? berarti selama ini aku berhubungan dengan anak kandung ayahku sendiri." batin Alvin yang merasa terkejut.
"Mah, Sela mau ajak Kak Alvin ke gudang belakang boleh tidak? disana banyak barang-barang kenangan kita loh."
"Boleh saja kalau Alvin mau," jawab Bu Luna
Bu Luna mendengar ponselnya berbunyi. dia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja ruang tengah. setelah mengangkat panggilan telfon, Bu Luna memilih untuk berpamitan karena harus pergi.
"Maaf Vin, Zie, ini Mamah ada urusan di luar. ini menyangkut pekerjaan. Mamah tinggal kalian yah, kalau masih mau berlama-lama disini tidak apa-apa kok." ucap Bu Luna kepada mereka.
"Iya Bu, Ibu pergi saja. kita juga tidak akan buru-buru pulang kok." ucap Zivana
Bu Luna segera pergi setelah berpamitan.
"Kak Alvin, aku mau tunjukin sesuatu loh. kenangan masa kecil kita." ucap Selena yang kini bergelayut menja di lengan Alvin.
Kebetulan aku juga mau bicara serius kepada Sela. tapi tidak di depan Zivana." batin Alvin
"Ayo!" Alvin menyetujui ajakan adik iparnya.
"Kak Zie, aku pinjam Kak Alvin sebentar yah."
"Silahkan" ucap Zivana
Sela mengajak Alvin menuju ke gudang belakang tempat penyimpanan barang bekas.
Sela menutup pintu itu dan langsung menguncinya.
"Ngapain di kunci?"
"Ayolah Kak Alvin, mumpung Mamah tidak ada disini lebih baik kita bersenang-senag dulu." ucap Sela
"Tidak tidak, kita ini saudara satu ayah. mulai sekarang kita jangan berhubungan lagi."
"Tapi Kak? aku merindukan milik Kakak." ucap Sela
"Stop!" Alvin menghentikan tangan Sela yang hendak membuka resleting celananya.
"Kenapa?"
"Aku mau pulang" ucap Alvin lalu membuka pintu itu.
__ADS_1
Alvin segera menghampiri Istrinya dan mengajaknya untuk pulang.
°°°