
Setelah kepergian mobil rey, orang yang ditunggu-tunggu juna akhirnya keluar juga.
"Maaf sayang lama, tadi aku dari toilet dulu. "ucap luna yang baru memasuki mobil juna.
"Iya sayang tak apa, sekarang kita mau kemana. "tanya juna
"Kita ke tempat biasa saja.
"Baiklah tuan putri, "lalu juna mengemudikan mobilnya ke caffe langganan mereka berdua.
Tak terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan, karena jaraknya yang memang tidak terlalu jauh dari luna florist.
Juna memasuki cafe dengan merangkul pinggang luna. mereka terlihat sangat serasi bahkan semua pengunjung menatap ke arah mereka berdua.
"Sayang kamu mau pesan apa "tanya luna
"Samakan saja "jawab juna
Kini mereka sudah menikmati makanan mereka. luna makan dengan sangat lahap karena memang sangat menyukai makan kesukaannya itu sedangkan juna tidak terlihat seperti biasanya. tampak diam dan terlihat tidak berselera makan.
"Kenapa tidak dimakan, apa tidak enak "luna menatap aneh juna yang hanya memutar-mutarkan sendok itu tanpa memakan makanannya.
Juna masih tidak merespon perkataan dari kekasihnya.
"Didi sayang " sambil mengusap tangan kanan juna.
"Eh iya kenapa "juna baru tersadar dari lamunannya.
"Lagi mikirin apa sih, "tanya luna yang melihat kekasihnya seperti mempunyai beban pikiran.
__ADS_1
"Tidak kok sayang, hanya teringat pekerjaan kantor tadi belum selesai. "juna tersenyum ke arah kekasihnya lalu mulai memakan makanannya.
Setelah selesai dengan kegiatan makannya, luna berniat mengajak juna pergi ke taman kota tapi juna menolak.
"Sayang ayo kita ke taman sebentar "ajak luna
"Maaf sayang aku sudah cape sekali, sepertinya kita langsung pulang saja.
Luna tidak memaksakan juna, sepertinya dia memang sedang kecapean karena sejak tadi banyak diam tidak seperti biasanya.
°°°°°°
Juna sejak tadi sudah tidak fokus memikirkan kedekatan antara rara dan rey. dia tidak boleh kecolongan, jangan sampai rara jatuh cinta dengan lelaki lain termasuk rey. "pikirnya
Pintu kontrakan terbuka lebar, saat hendak masuk juna mendengar suara orang yang sedang bersenda gurau dan ternyata itu seorang wanita paruh baya tapi entah siapa, juna tidak mengenalnya.
"Permisi "juna memasuki kontrakannya.
Mungkin karena sedang ada tamu, jadi juna menurut saja dengan istrinya yang tiba-tiba menggandeng tangannya.
rara mengantar juna ke kamar lalu dirinya kembali kedepan menemui bu yuyun.
"Maaf yah bu, tadi itu suami saya. nanti saya kenalkan kalau dia sudah keluar.
"Lain kali saja neng, ibu pamit pulang dulu takut gangguin kalian. lebih baik neng urus suami neng dulu sanah. "kata bu yuyun tetangga barunya.
"ya sudah bu, terimakasih bu atas bantuannya.
"Sama-sama neng "lalu bu yuyun berpamitan untuk pulang.
__ADS_1
Bu yuyun itu tetangga rara yang menjual perlengkapan dapur dan perabot lain secara kredit. rara sudah membeli perlengkapan dapur lengkap. niatnya nanti dia akan membayar setiap bulannya dari hasil pekerjaannya di toko bunga.
Juna keluar dari kamarnya menghampiri rara yang sedang membereskan perlengkapan dapur.
"Dari mana semua ini "juna menatap ke arah rara.
"Rara beli mas, "jawabnya
"Oh beli yah, hebat yah kamu deketin lelaki kantoran dulu baru bisa beli semua ini. "sambil menunjuk barang-barang yang sudah tertata rapi di tempatnya.
"Maksud mas juna apa, rara tidak mengerti.
"Tadi sore kamu jalan sama lelaki kaya kan, jangan kira saya tidak tahu. lelaki itu juga yang membeli semua ini kan. "tuduh juna kepada istrinya.
"Benar mas ini bukan di beliin mas rey, rara beli kredit sama ibu yuyun yang tadi baru saja kesini.
"Oh jadi lelaki itu namanya rey, terus kamu panggil mas. hm sepertinya kalian berdua sudah sangat akrab. coba tunjukin dimana saja lelaki itu menyentuhmu. "bentak juna yang sudah amarah karena melihat istrinya satu mobil bersama lelaki lain.
"Cukup mas cukup, kenapa mas selalu menuduhku seperti itu. aku bukan wanita seperti itu mas. tolong jangan asal tuduh sebelum tahu kebenarannya. "rara yang biasanya hanya diam sekarang sudah mulai bisa menjawab perkataan suaminya.
"Baiklah kalau itu maumu, tunjukan jika kamu bukan wanita seperti itu. "juna menarik rara memasuki kamarnya dan mendorongnya ke atas ranjang minimalis miliknya.
"Apa maum mas "tanya rara saat juna mulai membuka jilbab yang dikenakan istrinya itu.
"Bukannya kamu sendiri yang mengatakan jika kamu bukan wanita seperti yang saya tuduhkan, ya sudah mari buktikan. "lalu juna melanjutkan aksinya.
Rara mencoba melepaskan diri dari kungkungan sang suami tapi apalah daya, tenaganya tak sekuat juna. akhirnya rara pasrah karena memang itu sudah kewajibannya dan juna berhak atas dirinya. rara hanya berdoa semoga yang mereka lakukan malam ini menjadi awal yang lebih baik bagi rumah tangga mereka.
Ya, ini menjadi malam bersejarah bagi mereka berdua. karena mereka melakukan malam pertama yang seharusnya di lakukannya jauh-jauh hari.
__ADS_1
°°°°°°
Happy reading