Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 6


__ADS_3

Zivana buru-buru menghapus air matanya yang menetes sebelum Alvin kembali datang.


Cklek


Zivana mendengar pintu terbuka dan Alvin keluar dari sana. Alvin berjalan mendekati Zivana.


"Mana berkasnya?" tanya Alvin yang mau langsung membahas pekerjaan.


Zivana menaruh berkas yang dia bawa di atas meja. Alvin mengambil berkas itu dan mulai membukanya. dia membaca satu persatu halaman.


"Baiklah, saya setuju dengan percepatan pelaksanaan proyek kerja sama perusahaan kita." Alvin bertandatangan di halaman terakhir.


"Terima kasih" ucap Zivana saat suaminya memberikan lagi berkas itu kepadanya.


"Hm" hanya itu yang di ucapkan Alvin.


"Boleh aku pinjam toilet?"


"Jangan! eh maksudku toiletnya mampet." ucap Alvin sedikit beralasan.


Zivana melihat kecemasan di wajah suaminya.


Aneh sekali raut wajah Mas Alvin. kok seperti sedang menyembunyikan sesuatu." batin Zivana sambil menatap suaminya.


"Bukannya barusan Tuan Alvin baru dari toilet?" Zivana masih menelisik raut wajah suaminya.


"Iya, tapi ternyata toiletnya mampet." jawab Alvin mencoba untuk meyakinkan Istrinya.


"Baiklah" Zivana tak lagi meminta untuk ke toilet. walaupun dia curiga karena suaminya terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.


Zivana memilih untuk berpamitan dan segera pergi dari sana. namun Zivana tidak benar-benar pergi. dia bersembunyi di sebuah ruangan depan ruangan Alvin. dia sedikit membuka pintu sehingga bisa mengintip ke luar.


Beberaapa menit kemudian, Zivana melihat seorang wanita baru keluar dari ruangan suaminya.


Perasaan tadi saat aku disana tidak ada siapa-siapa selain aku dan Mas Alvin. apa Mas Alvin sengaja menyuruh wanita itu bersembunyi? atau jangan-jangan mereka--" Zivana menutup mulutnya dengan kedua tangannya. dia mengingat pengaman yang tadi dia temukan di bawah sofa.


"Ekhm, sudahkah mengintipnya?" tanya Asisten Tio yang ternyata sudah berdiri di belakang Zivana. karena memang ruangan yang Zivana masuki itu ruangan Asisten Tio.


Zivan menoleh ke belakang dan melihat Asisten Tio sedang berdiri sambil menatapnya.


"Eh maaf Pak, saya tidak berniat masuk ruangan ini." ucap Zivana sambil memperlihatkan senyum manisnya.


"Tidak masalah kalau untuk Istri Bos." jawab Tio


"Tapi, bolehkan saya bertanya?"


"Silahkan Pak"


"Panggil saya Kakak saja biar lebih akrab." pinta Tio


"Baiklah, tapi saya mau tanya penting. apa Kakak tahu siapa wanita yang dekat dengan Mas Alvin?"


"Kalau masalah itu mending tanyakan sendiri kepada Pak Alvin."


"Apa Kakak berfikir jika Mas Alvin akan menjawab pertanyaan saya?"


"Tidak" jawab Asisten Tio

__ADS_1


"Lalu, untuk apa Kakak menyuruh saya bertanya kepadanya jika sudah tahu jika hanya akan sia-sia?"


Pintar juga wanita ini, sepertinya cocok menjadi pasangan Pak Alvin." batin Asisten Tio yang sedikit berharap jika Zivana bisa merubah sedikit demi sedikit perilaku Alvin. yaitu yang suka pergi ke club dan berhubungan dengan sekretasinya sendiri.


"Baiklah saya jawab, tapi kalau ada apa-apa jangan bawa-bawa nama saya." pinta Tio


"Siap" jawab Zivana


"Wanita itu Sela, dia sekretaris pribadi Pak Alvin." jawab Tio


"Apa mereka dekat?"


"Setahu saya sih dekat seperti sepasang kekasih." jawab Tio


"Baiklah, terima kasih" Zivana tersenyum menatap Tio lalu dia segera keluar dari ruangan itu.


Aneh sekali, dia terlihat tetap tenang." batin Tio saat melihat raut wajah Zivana.


°°°


Sore ini Zivana baru pulang dari kantor. dia berniat akan ke rumah orang tuanya terlebih dahulu untuk menemui adiknya.


Zivana sudah berdiri di rumah mewah milik orang tuanya.


Tok tok


Zivana mengetuk pintu masuk. hanya beberapa menit menunggu akhirnya pintu itu terbuka.


Cklek


"Sayang, kamu pulang?" Bu Rara menatap anaknya yang baru datang.


"Oh, ada tuh di kamar Eza." jawab Bu Rara


Zivana segera melangkah menuju ke kamar Eza. sedangkan Bu Rara memilih ke dapur membuatkan minum untuk anaknya yang baru datang.


Zivana masuk ke dalam begitu saja. karena pintu itu tidak tertutup. dia melihat adik kembarnya sedang bermain game.


"Ekhm" Zivana berdehem sehingga keduanya menatap ke belakang.


"Eh Kak Zie, tahu rumah juga ternyata." ucap Eza kepada Zivana.


"Memangnya tidak boleh pulang ke rumah?" tanya Zivana yang kini mendudukan dirinya di pinggir ranjang.


"Ya boleh, ini kan rumah Kakak juga." kata Eza


"Tapi sepertinya Kakak mau bicara serius." sahut Iki yang memang sedikit lebih pintar dari pada Eza.


"Nah kamu pintar, Kakak kesini mau bicara penting. Kakak mau meyerahkan jabatan Kakak untuk salah satu dari kalian." ucap Zivana mengatakan niat kedatangannya.


"Kita masih kuliah Kak" ucap Eza


"Masih kuliah tapi bukan berarti bisa bersantai-santai. main game saja tahunya." ucap Zivana lalu dia menatap Farizki.


"Iki, kamu saja yah yang gantiin Kakak." pinta Zivana kepada adiknya.


"Kok aku sih?"

__ADS_1


"Sudahlah, kamu nurut saja. dari pada aku yang gantiin itu lebih tidak mungkin." ucap Eza yang sedikit suka bermalas-malasan.


"Baiklah, tapi Iki mulai kapan belajarnya?" Farizki bertanya kepada Kakaknya.


"Mulai besok kamu pergi ke kantor setelah pulang kuliah."


"Baik Kak" jawab Farizki


"Zie, kamu akan menginap?" kini Bu Rara datang dengan membawa nampan berisi air minum untuk Zivana.


"Tidak Mah, ini juga hanya datang sebentar." jawab Zivana sambil mengambil gelas yang di sodorkan oleh Ibunya.


"Makasih minumnya enak." ucap Zivana lalu menaruh gelas itu di atas meja.


"Sama-sama Nak, kamu pulangnya habis makan malam saja yah. kita makan malam dulu disini sama-sama." Bu Rara membujuk anaknya agar tidak langsung pergi.


"Tapi nanti Mas Alvin nungguin Zie, karena Zie tidak berpamitan tadi."


"Ya sudah kalau begitu, tapi kamu pergi naik apa? kamu bawa saja mobilmu yang ada di garasi."


"Zie naik taxi Mah." jawab Zivana


"Biar adikmu yang mengantarkan." ucap Bu Rara


"Eza saja yang mengantar Kakak." ucap Eza lalu menyambar kunci mobil miliknya yang tergeletak di atas meja.


"Pulangnya jangan kelamaan Eza." pinta Bu Rara kepada anaknya yang suka keluyuran.


"Siap Mah" jawab Eza


Kini Zivana berpamitan untuk pergi kepada Ibunya.


Zivana sudah masuk ke dalam mobil milik Eza. dia duduk di sebelah Eza. cukup lama mengemudi, kini mobil itu sudah berhenti di depan gerbang rumah Alvin.


Zivana turun dari mobil namun Eza juga ikut turun.


"Kakak" Eza memeluk Zivana karena ada maunya.


"Lepas Za, sudah besar peluk-peluk Kakak."


"Kak, minta uang yah." Eza merengek meminta uang.


"Hm, lepaskan Kakak dulu!"


Eza langsung melepaskan pelukannya.


Zivana merogoh tas miliknya dan mengambil uang dua ratus ribu. lalu dia kasih kepada Eza.


"Kok cuma segini?"


"Segitu juga banyak, kamu jangan boros-boros amat." ucap Zivana kepada adiknya.


"Makasih Kak" ucap Eza lalu segera masuk ke dalam mobil.


"Sama-sama" jawab Zivana lalu dia segera memasuki gerbang.


Alvin memperhatikan Zivana dari balkon rumahnya. dia melihat Zivana pulang di antar oleh laki-laki. bahkan mereka berpelukan. Alvin tidak tahu jika itu Eza karena jaraknya lumayan jauh dari pandangan Alvin. sehingga Alvin tidak melihat jelas wajah laki-laki itu. Alvin segera masuk ke dalam saat melihat Zivana sudah memasuki halaman rumahnya.

__ADS_1


°°°


__ADS_2