
Kini Rey sudah berada di ruangan Dokter. dia menunggu penjelasan mengenai keadaan Rara.
"Jadi bagaimana Dok? sebenarnya teman saya sakit apa?"Raka bertanya kepada Dokter yang sedang duduk di hadapannya.
"Teman Bapak sedang hamil, usia kandungannya baru memasuki empat minggu."
"Hamil Dok???" Rey terkejut mendengar penuturan Dokter itu karena dia tidak mengetahui jika Rara sudah menikah.
"Iya pak teman Bapak sedang hamil." Dokter itu kembali berucap.
"Apakah suaminya tidak ikut kesini? kenapa bapak yang mengantar?" tanyanya
"Tidak Pak, saya mengantar Rara karena tadi saya melihat dia yang sudah pingsan di halte sepulang dia bekerja."
"Begini Pak, wanita hamil muda itu tidak boleh kecapean jadi tolong bapak bicarakan ini kepada Nona Rara agar berhenti saja dari pekerjaannya."
"Baik Dok nanti saya coba bicarakan."
"Dan ini resep obat yang harus di tebus oleh Bapak." sambil menyerahkan secarcik kertas kepada Rey.
"Baiklah Dok terimakasih." lalu Rey beranjak pergi dari ruangan Dokter itu.
Rey sudah menebus obat untuk Rara. dia sekarang berjalan menuju ruang rawat Rara. sebenarnya banyak sesuatu yang dia ingin ketahui dari Rara. tapi dia akan menanyakannya nanti saja.
"Kamu sudah sadar Ra?" tanya Rey yang baru masuk ke dalam ruangan itu.
"Iya Mas, tapi kenapa Rara bisa ada disini?"
"Tadi sepulang kerja saya lihat kamu sudah pingsan di halte. lalu saya membawamu ke Rumah Sakit.
__ADS_1
"Pingsan? jadi Mas Rey sudah tahu semuanya?" Rara menatap lekat manik mata Rey yang memperlihatkan sebuah kekecewaan disana.
"Iya saya tahu kalau kamu hamil Ra." jawab Rey lesu
"Jadi aku beneran hamil?" Rara tampak bahagia mendengar kenyataan itu.
"Iya Ra, tapi kalau boleh saya tahu apa anak yang ada di dalam kandunganmu itu anak kekasihmu?"
"Maaf mas sebelumnya Rara sudah berbohong sama Mas. Rara sudah menikah dan lelaki yang Rara bilang kekasih itu suamiku." ucap Rara
Rey tampak terkejut mendengar kenyataan itu. tapi dia mencoba bersikap biasa saja agar Rara tidak curiga bahwa dia diam-diam memendam rasa.
Jadi selama ini aku menyukai istri orang." batin Rey tak terima
"Kalau begitu sekarang kamu hubungi suami kamu suruh kesini Ra."
"Aku tidak mau mengganggunya Mas.
"Maksudnya mengganggu?" Rey tampak tak paham dengan arah pembicaraan Rara.
Rara tampak diam tidak berkata sepatah katapun. Rey yang melihat itu merasa tak tega. dia berfikir jika mungkin saja Rara ada masalah dengan suaminya.
"Ya sudah kalau tidak mau bicara, saya tidak memaksa." Rey mencoba memahami keadaan Rara saat ini walaupun di benaknya di penuhi sejuta pertanyaan tentang kehidupan rumah tangga seperti apa yang di jalani oleh Rara.
Rey mengantarkan rara pulang, sebenarnya Dokter sudah memberitahunya agar Rara di rawat di Rumah Sakit untuk malam ini tapi dia menolak. dia tidak punya uang untuk membayar rumah sakit. obat yang di tebus tadi juga semuanya Rey yang bayarkan. dia tidak mau merepotkan Rey karena sudah sangat sering dia membantunya.
"Terimakasih Mas Rey." ucap Rara sebelum dia turun dari mobil Rey.
"Apa perlu saya bantu memapah kamu ra?" Rey menawarkan diri untuk membantu Rara.
__ADS_1
"Tidak usah Mas" lalu rLRara membuka pintu mobil.
"Eh tunggu Ra" cegah Rey saat Rara akan turun dari mobilnya.
"Besok kamu tidak usah kerja dulu biar saya yang meminta ijin."
"Terimakasih Mas Rey, maaf Rara selalu merepotkan."
"Tidak masalah Ra, lagian kita kan teman." Rey tersenyum ke arah Rara.
°°°°°
Rey sudah memintakan ijin untuk rLRara yang sedang sakit. sekarang dia berjalan ke arah ruangannya.
"Ada hubungan apa antara kamu dan nona Mutiara?" tanya Juna yang sudah menerobos masuk ke dalam ruangan Rey.
"Maksud Kakak apa yah?" Rey tak mengerti kenapa Juna bisa bertanya seperti itu.
"Ada hubungan apa antara kamu dan Nona Mutiara office girl baru di perusahaan kita ini? dan kenapa kamu seenaknya memasukan karyawan yang tidak jelas seperti itu?" Juna menatap tajam ke arah rLRey. walaupun dia adiknya tapi Juna tetap harus bersikap tegas. Juna tidak mau jika Rey terus di dekat Rara dia akan mengetahui kenyataan bahwa Juna adalah suaminya.
"Rara itu wanita yang jelas kok, dia perempuan baik-baik dan sholehah." ujar Rey
"Terus kenapa akhir-akhir ini dia sering ijin tidak masuk? enak bener cuma office girl tapi sudah seenaknya saja." Juna berbicara dengan nada nampak tak suka.
Rey melihat Juna seperti itu merasa curiga. sejak kapan seorang CEO suka mengurusi urusan karyawannya yang hanya office girl. bukankah ada atasan bagian office girl sendiri yang bisa mengurusi masalah karyawan yang tidak disiplin. lagian Rara itu beneran sakit bukan pura-pura." Rey masih bergelut dengan pikirannya melihat sikap Juna yang aneh seperti itu.
Juna keluar dari ruangan Rey tapi sebelum keluar dia menoleh ke belakang.
"Mulai besok karyawan yang bernama Mutiara saya pecat. untuk uang pesangon nanti kamu yang berikan kepada dia secara langsung." Lalu juna keluar dari ruangan Rey.
__ADS_1
Di pecat, pesangon, kenapa Kakak jadi sekejam itu." Rey tak menyangka jika Juna akan bersikap tak adil seperti itu.