Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_107


__ADS_3

Rey memerintahkan bawahannya untuk menyambut kedatangan Juna. beberapa karyawan sudah berdiri berjejer untuk menyambut kedatangan CEO baru.


Rey mengantar Juna hingga masuk ke ruangannya. bahkan diruangan itu barang-barang miliknya sudah diganti dengan barang-barang milik Juna yang dulu dia simpan.


"Kamu yakin tidak mau jadi CEO?" tanya Juna kepada adiknya.


"Tidak Kak, biar Kakak saja yang jadi CEO."


"Baiklah, ini atas dasar kesepakatan kita. Kakak harap kedepannya tidak ada perselisihan karena jabatan." ujar Juna


"Kakak tenang saja, aku bukan tipe pendendam."


"Jadi, kapan kamu akan cuti untuk bulan madu?" tanya Juna


"Entahlah Kak, Rey tidak bisa meninggalkan Mamah sendirian."


"Kamu tenang saja Rey, jika kamu pergi, nanti Kakak dan Rara akan tinggal disana untuk sementara." ucap Juna menawarkan.


"Baiklah, nanti Rey pikirkan lagi. lagian harus berdiskusi dulu dengan Ayu."


Cukup lama Rey berada diruangan Kakaknya. dia memberitahukan beberapa kerjasama yang saat ini sedang di jalin dengan perusahaan lain. dan beberapa klien pentingnya yang menjadi teman baik perusahaannya.


Putri yang hendak masuk ke ruangan itu, tak sengaja mendengar semua pembicaraan mereka. kebetulan pintu ruangan itu sedikit terbuka. niatnya Putri akan menyambut kedatangan Juna secara langsung sekaligus menanyakan Rara. namun malah dia mendengar kenyataan pahit ini. dia sebenarnya kurang percaya mengetahui jika Rey sudah menikah. apalagi sama sekali tidak tercium publik. tapi, perkataan yang dia dengar membuat harapannya pupus. bahkan kesempatan untuk mendapatkan Rey pun sudah tidak ada.


Putri berjalan meninggalkan tempat itu. dia tidak jadi menemui Juna.


Rio pergi ke dapur untuk membuat kopi. dia tak sengaja melihat seorang perempuan yang sedang duduk sambil menutupi wajahnya.


"Hey, sedang apa?" tanya Rio


Putri menyingkirkan tangannya yang menutupi wajahnya. lalu dia mendongak dengan wajah sembabnya.

__ADS_1


"Kak Rio, apa benar jika Kak Rey sudah menikah?" tanya Putri


"Jadi kamu sudah tahu? ya, seperti itulah. pernikahan mereka hanya privasi. tidak ada orang luar yang mengetahuinya. memangnya kenapa tiba-tiba kamu tanya seperti ini? apa kamu juga sedang menangisi dia?" Rio menatap wajah Putri yang sembab.


"Sejak kapan Kak Rio jadi cerewet seperti ini?" tanya Putri lalu dia langsung bangkit dari duduknya. Putri meninggalkan dapur tanpa mengatakan apapun lagi kepada Rio.


Seperti itu sajakah? bahkan tidak ada yang dia katakan lagi. dasar wanita, memang aneh." gumam Rio sambil melihat langkah Putri yang semakin menjauh.


Putri baru saja sampai di ruang kerjanya. telpon yang berada diruangan itu berdering. Putri segera mengangkatnya. ternyata itu panggilan dari Juna. Juna memintanya untuk segera keruangannya. Putri segera merapihkan riasannya.


"Ada apa Pak Juna memanggil saya?" tanya Putri yang sudah berada di hadapan Juna.


"Saya meminta kamu untuk tetap menjadi Sekretaris Rey. lagian sudah ada Rio yang membantu saya."


"Tidak bisakah saya menjadi Sekretaris Bapak saja?"


"Loh, memangnya kenapa? lagian kalian sudah terbiasa bersama."


"Saya hanya bosan menjadi Sekretaris Kak Rey." ucap Putri


"Pokoknya saya tetap meminta kamu untuk menjadi Sekretaris Rey." ucap Juna tanpa penolakan.


Putri menghembuskan nafasnya kasar.


"Baiklah Pak, kalau begitu saya permisi dulu." Putri meninggalkan ruangan itu dengan lesu.


Juna memang sengaja menyuruh Putri untuk menjadi Sekretaris Rey. karena dia tahu jika kedepannya Rey pasti butuh seseorang untuk membantunya. apalagi tadi Juna menyuruhnya untuk pergi bulan madu. pasti Rey butuh seseorang untuk membantu pekerjaannya saat dirinya ijin tidak bekerja.


Seminggu kemudian, Rey dan Ayu memutuskan untuk pergi berbulan madu. tempat yang mereka pilih masih di dalam negeri.dan itu semua atas kemauan Ayu.


Juna dan Rara sudah ditinggal di kediaman Dirgantara. pagi sekali Rara sudah berkutat mengerjakan pekerjaan rumah. memang dirumah itu belum ada pembantu baru. itu semua atas keinginan Ayu. Ayu lebih tak enak jika dia tidak mengerjakan apa-apa dirumah itu. itu sebabnya dia melarang Rey untuk tidak mencari pembantu baru.

__ADS_1


Kini mereka sedang menikmati sarapan bersama. Rara sangat senang saat melihat Bu Farah menyukai makanan yang dia masak. itu terlihat dari cara makannya yang sangat lahap.


"Nek, Zie lapal Nek" Baby Zie merengek kepada Neneknya. kebetulan dia duduk di sebelah Bu Farah.


"Sayang, sinih biar Mamah suapin?"


Baby Zie menggelengkan kepalanya. dia tetap merengek sambil memegang lengan baju yang dikenakan oleh Bu Farah.


Akhirnya Bu Farah angkat bicara karena melihat cucunya yang masih merengek.


"Biar Mamah yang suapin Zie." ucap Bu Farah membuka suaranya.


"Tidak usah Mah, biar Rara saja." Rara merasa tak enak kepada Ibu Mertuanya.


"Biar Mamah saja sayang, tidak apa-apa kok. mendingan kamu nyuapin Mas saja."


"Apaan sih Mas, sudah besar makan sendiri."


Mendengar penolakan dari istrinya, Juna langsung mendekat dan membisikan sesuatu.


"Tidak apa-apa sekarang tidak disuapi. tapi nanti malam, jangan harap kamu bisa lepas dari Mas." bisik Juna ditelinga istrinya, di balik jilbab yang di kenakannya.


Rara merinding mendengar perkataan suaminya. apalagi suaminya itu sedikit meniup telinganya.


"Mas, sini biar Rara suapin." ucap Rara menawarkan diri.


"Tidak usah sayang, ada yang lebih Mas inginkan selain disuapin sama kamu." ucapnya lalu dia mengedipkan sebelah matanya.


Astaga, habislah aku nanti malam." batin Rara yang mengerti perkataan suaminya.


Mereka kembali melanjutkan sarapannya.

__ADS_1


Baby Zie sangat senang disuapi oleh Neneknya. bahkan beberapa kali dia mengajak Bu Farah untuk bercanda.


Rara dan Juna ikut senang melihat kedekatan Bu Farah dan Baby Zie. apalagi Bu Farah terlihat sudah mau menerima Baby Zie sebagai cucunya.


__ADS_2