
(Mohon maaf untuk bab 30 bagian akhir ada sedikit perbaikan.)
Sesampainya di tempat kerja, Rara segera melangkah masuk. tapi dia berpapasan dengan Rio yang habis keluar dari lift.
"Tunggu" ucap Rara menghentikan langkah Rio.
"Iya kenapa Nona?" Rio sudah menoleh ke arah Rara.
"Kamu bukannya supir travel yang mengantarkan saya waktu itu? kenapa ada disini?" selidik Rara sedikit curiga.
"Kebetulan perusahaan ini bekerja sama dengan jasa travel perusahaan saya." jawab Rio
Rara tampak diam, sedangkan Rio sudah berpamitan untuk pergi.
Untung saja punya alasan untuk meyakinkan Nona Mutia." batin Rio sambil menatap ke arah belakang sebelum dia benar-benar meninggalkan gedung itu.
Tampaknya Rara tidak bisa bekerja dengan giat seperti biasanya. sebentar-sebentar dia istirahat karena lelah. memang hari ini di merasa mudah sekali lelah. Bu Susan sudah menyuruhnya untuk ijin saja tapi dia tidak mau karena kemarin juga sudah izin.
"Kamu masih sakit Ra?" tanya Dimas yang melihat Rara duduk diantai sambil selonjoran.
"Tidak Kak, cuma sedikit cape saja."
"Kalau masih sakit mending minta ijin saja Ra. nanti aku bicarakan ke Bu Susan."
"Tidak usah Kak, tadi Bu Susan juga sudah menyuruh saya ijin tapi saya tidak mau.
ya sudah saya lanjut kerja lagi." ucap Rara lalu dia berdiri dan membawa alat pel yang tadi dia taruh begitu saja di dekatnya.
__ADS_1
Dimas yang melihat kepergian Rara tampak kasihan. dia tahu jika Rara sedang menutupi sesuatu darinya bahkan Rara juga terlihat sedang merasakan sakit. tapi Dimas tidak berani bertanya karena mungkin saja itu sesuatu privasi yang tidak mau dia bicarakan dengan orang lain.
Terlihat wanita cantik berpenampilan elegan melangkah memasuki perusahaan. beberapa karyawan yang berpapasan membungkukan badannya untuk menyapa istri bos mereka itu.
Luna melihat Rara yang sedang mengelap kaca dengan pelan-pelan.
"Enak yah mantan maling kerja santai-santai begitu." ucap Luna yang baru menghampiri Rara.
"Kak luna" mereka sudah saling bertatap muka.
"Enak saja manggil Kakak, panggil saya Nyonya Dirgantara." ucapnya membanggakan diri.
"Iya Nyonya maafkan saya." Rara sudah menundukan kepalanya.
"Ingat yah sekali lagi saya lihat kamu kerjanya lelet, bersantai-santai seenaknya sendiri, saya tidak segan-segan untuk memecat kamu." Luna mengibaskan rambut panjangnya hingga mengenai wajah Rara lalu dia beranjak pergi ke lantai atas untuk menemui suaminya.
Sepulang kerja Rara sedang menunggu Bus di halte, namun dia merasakan pusing lagi kepalanya. dia yang hendak duduk tiba-tiba pingsan. beberapa orang disekitarnya mendekat ke arahnya.
Rey yang sedang mengemudi melihat kerumunan di halte Bus. dia beranjak keluar untuk melihat penyebab kerumunan itu.
"Maaf Bu ini ada apa yah?" tanya Rey kepada ibu-ibu yang hendak pergi meninggalkan kerumunan.
"Ada gadis cantik berhijab yang pingsan Pak." jawabnya lalu pergi
Mendengar kata "Berhijab" membuat Rey penasaran akan sosok wanita itu. perlahan dia berjalan mendekati kwrumuna itu.
dan benar saja dia melihat sosok wanita cantik yang dia kenal.
__ADS_1
"Ra bangun Ra" Rey sudah mulai panik melihat keadaan Rara yang sudah tidak sadarkan diri.
"Cepat bawa ke mobil saya, dia teman saya sekaligus karyawan bawahan saya di kantor." jelas Raka dan mereka membawa Rara memasuki mobil Rey.
Rey mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
setelah sampai dia turun lalu menggendong Rara. dengan tergesa-sega dia masuk dan berteriak memanggil Dokter dan Perawat.
Rara di bawa memasuki ruang UGD sedangkan Rey menunggunya di luar karena tidak di ijinkan ikut masuk oleh Dokter.
"Rey ngapain kamu disini?" tanya Juna yang sudah berdiri di depan Rey.
"Eh.. saya nemenin teman saya yang sedang sakit Kak. Kakak sendiri ngapain disini?" tanya rey
"Habis nganter Luna, dia sedang ikut program hamil agar cepat dapat momongan." ucap sambil melirik ke arah istrinya.
"Benarkah?" Rey tampak senang mendengarnya.
"Iya Rey benar saya lagi ikut program hamil agar kami cepat-cepat mendapat keturuan." sahut Luna
Pembicaraan mereka terhenti saat dokter menghampiri mereka.
"Keluarga pasien" panggil Dokter
"Saya walinya Dok" ucap Rey
"Ikut saya Pak" perintah Dokter itu kepada Rey.
__ADS_1
Rey mengikuti dokter itu memasuki ruangannya lalu Juna dan istrinya ikut melangkah pergi untuk pulang.