Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_126


__ADS_3

Saat ini Rara sudah bersama Rey. mereka melihat Ayu yang sedang melakukan pemeriksaan.


Dokter duduk di kursi kebesarannya. sedangkan perawat yang lainnya membereskan semua alat yang tadi dipakai oleh Dokter untuk memeriksa Ayu.


"Bagaimana Dok?"tanya Rey yang sangat penasaran dengan kondisi istrinya.


"Penyakitnya semakin parah. bahkan sudah memasuki stadium 3." jawab Dokter


"Lalu, apa ada cara yang lain untuk istri saya Dok, agar penyakitnya bisa disembuhkan?" tanya Rey


"Saat ini jalan satu-satunya hanya kemoterapi. tapi itu tidak mungkin kami lakukan karena Nona Ayu sedang hamil." jelas Dokter


Rey tampak lesu mendengar penuturan dari Dokter.


Ayu kembali dibawa ke ruangan inap karena sudah selesai melakukan pemeriksaan.


Rey dan Ayu mengekor dibelakang perawat yang mendorong brankar pasien.


"Ra, lebih baik kamu pulang saja. biar saya yang menjaga Ayu."


"Baiklah, tapi Rara pulang nanti malam saja." ucapnya


"Kamu pulang ke rumah Mamah saja yah. kasihan Mamah kalau sendirian di rumah." pinta Rey


"Iya Mas" jawab Rara


Malam harinya Rara pulang dengan di jemput oleh supir keluarga Dirgantara.


Rara yang baru sampai di Kediaman Dirgantara segera masuk ke dalam. disana ada Bu Farah, Juna, dan Baby Zie yang sedang duduk santai sambil menonton televisi.


"Bagaimana kondisi Ayu, Ra?" tanya Bu Farah kepada menantunya.


"Ayu sudah melakukan pemeriksaan lagi Mah. penyakitnya semakin parah karena dia tidak melakukan kemoterapi sesuai anjuran Dokter." ucap Rara


"Astagfirullahaladzim"


"Lalu apa yang harus kita lakukan agar Ayu bisa sembuh lagi?"


"Kita harus banyak-banyak berdoa untuk kesembuhan Ayu Mah. sebenarnya bisa saja jika Ayu kembali melakukan rawat jalan tapi jalan satu-satunya Ayu harus menggugurkan janinnya. tapi Ayu tetap menolak karena dia sangat menginginkan seorang anak. dan tidak mungkin jika dia menggugurkan darah dagingnya sendiri." jelas Rara


"Sudah Mah, Mamah yang kuat yah." Juna menepuk-nepuk bahu Bu Farah yang sedang menangis.


Bu Farah teringat betapa sabarnya Ayu selama ini. bahkan saat dia belum menerima Ayu sebagai menantunya, Ayu tetap bersikap baik kepadanya. bukan hanya Ayu saja yang berhati mulia. Rara tak jauh berbeda dengannya. Bu Farah sudah berjanji kepada diri sendiri. bahwa dia akan memperlakukan menantunya dengan baik. karena itu pantas di dapat oleh kedua menantunya yang sangat baik dan tulus kepadanya.


Tak terasa empat bulan sudah telah berlalu. sekarang kandungan Ayu menginjak usia 8 bulan. dan selama itu Rey selalu memperhatikan Ayu. dia selalu menuruti keinginan Ayu. bahkan saat dia baru sehari keluar kota untuk mengurus pekerjaan, dia rela balik lagi demi keinginan istrinya. Ayu memang ingin selalu dekat dengan suaminya.


Juna, Rara, dan Baby Zie juga sekarang tinggal bersama mereka. ini semua atas keinginan Ayu. Ayu ingin selalu dekat dengan keluarganya disetiap hari-harinya.


Ayu dan Rey sedang berduaan di dalam kamar.


"Mas, Ayu mohon agar Mas mau berjanji satu hal untuk Ayu." Ayu menatap lekat wajah tampan suaminya.

__ADS_1


"Iya sayang, apa itu?" tanya Rey


"Apapun yang nanti terjadi, Ayu harap Mas mau membesarkan anak ini. jika saja harus memilih antara dua pilihan, Ayu harap Mas akan memilih anak ini." kata Ayu dengan raut wajah yang tampak sendu.


"Kamu ngomong apa sih sayang? kita akan membesarkan anak ini bersama-sama." Rey menatap lekat wajah istrinya yang tampak pucat.


"Tunggu Mas! masih ada satu lagi permintaan Ayu." ucap Ayu dan beberapa saat kemudian terdengar ketukan pintu dari luar kamar mereka.


"Sebentar sayang" ucap Rey kepada istrinya lalu dia bergegas membukakan pintu kamarnya.


Rey melihat dua wanita berhijab di hadapannya. dia Rara dan satunya lagi Putri.


"Silahkan Masuk!" Rey mempersilahkan keduanya untuk masuk.


"Ayu, Mas mau keluar dulu yah. Mas tidak mau mengganggu kalian para wanita."


"Jangan pergi! Mas Rey disini saja, masih ada hal lain yang mau Ayu katakan."


Rey kembali duduk dipinggir ranjang.


Ayu menatap Rey dan Putri dengan bergantian.


"Mas Rey, Mbak Putri, Ayu mempunyai satu permintaan untuk kalian." Ayu sebenarnya sangat berat hati untuk mengatakan keinginannya.


"Iya sayang, apapun yang kamu mau pasti akan Mas turutin." Rey menggenggam jari jemari istrinya yang terasa dingin.


"Menikahlah" perkataan itu lolos begitu saja dari mulutnya.


"Menikahlah dengan Mbak Putri dan membesarkan anak kita bersama-sama."


"Kamu bicara apa sih sayang? itu tidak mungkin terjadi karena Mas hanya suamimu. dan kita akan membesarkan anak-anak kita dan hidup bahagia." ucap Rey


"Tolong" hanya perkataan itu yang diucapkan Ayu sebelum dia tak sadarkan diri.


"Ayu..Ayu..kamu kenapa sayang?" Rey begitu panik saat melihat istrinya sudah tak sadarkan diri.


"Ra, panggil supir untuk siapkan mobil. kita bawa Ayu ke rumah sakit sekarang juga."


"Baik Mas" Ayu berjalan keluar dari kamar itu dengan tergesa-gesa.


Putri yang masih disana menawarkan diri untuk membantu Rey yang sedang menggendong Ayu.


"Sinih Kak Rey, biar Putri bantu." tawar Putri


"Tidak perlu! saya bisa sendiri." Rey langsung berjalan keluar dari kamar itu dengan perasaan panik.


Apa iya aku harus menikah dengannya? dari sikapnya saja sudah terlihat dingin. ada-ada saja Ayu." batin Putri sambil menatap kepergian Rey.


Putri ikut menyusul mereka. dia juga akan ikut ke Rumah Sakit.


Setelah menempuh perjalanan selaman 30menit, mereka sudah sampai di Rumah Sakit. Rey langsung turun dari mobil dan menggendong Ayu masuk ke dalam.

__ADS_1


"Suster...Dokter..tolong istri saya." Rey berteriak sambil melihat kanan kirinya.


"Tunggu sebentar Pak." ucap seorang Suster lalu mengambil kursi roda.


Rey mendudukan Ayu disana. dia mendorong kursi roda itu mengikuti arah jalan Suster.


mereka sudah sampai di depan ruang UGD. Rey diminta untuk tetap diluar karena Ayu harus segera diberi pertolongan pertama.


terlihat beberapa Perawat dan Dokter berjalan memasuki ruangan itu.


Setelah selesai memeriksa, Dokter keluar dai ruangan UGD.


"Permisi dengan keluarga Nona Ayu."


"Saya suaminya Dok, bagaimana keadaan istri saya?"


"Istri Anda harus segera melakukan operasi. ini demi keselamatan bayi yang dikandungnya." jelas Dokter


"Tapi belum saatnya istri saya melahirkan Dok?"


"Ini demi keselamatan keduanya." ucap Dokter


"Baiklah, lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya Dok."


Rey duduk di kursi depan ruangan ini. beberapa menit kemudian datanglah Juna, Rara, Putri, Bu Farah, dan Baby Zie.


mereka semua ikut panik mengetahui Ayu yang tiba-tiba pingsan.


"Bagaimana kondisi Ayu, Nak?" tanya Bu Farah yang baru datang.


"Ayu sedang dioperasi Mah, Ayu harus melahirkan sekarang. lebih baik kita berdoa saja agar Ayu dan anaknya baik-baik saja." kata Rey


Setelah menunggu selama satu jam akhirnya pintu ruangan itu terbuka. terlihat Dokter keluar dari ruangan itu.


"Selamat Pak Rey, anak anda laki-laki. dan sekarang akan kami bawa ke ruangan khusus bayi. untuk sementara waktu bayi anada akan kami tempatkan di inkubator karena lahir dengan kondisi prematur. dan anda tidak diperbolehkan untuk membawanya pulang. karena kami masih harus mengecek kondisinya dari waktu ke waktu." jelas Dokter


"Terimaksih Dok, terimakasih sudah menyelamatkan anak saya. tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya."


"Tentu, itu sudah menjadi tugas kami." jawabnya


"Lalu bagaimana dengan kondisi istri saya? dia baik-baik saja kan?"


Dokter itu menghelas nafas beratnya sebelum dia angkat bicara.


"Maaf sebelumnya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. tapi kami hanya bisa menyelamatkan anak anda."


"Maksud Dokter, istri saya meninggal?"


"Iya Pak, mohon maaf, karena penyakitnya yang semakin parah membuatnya tidak bisa bertahan."


Rey tak bisa lagi menahan tangisnya. begitupun yang lainnya sangat sedih mendengar kepergian Ayu untuk selama-lamanya.

__ADS_1


__ADS_2