Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 73


__ADS_3

Pak Juna melihat Eza yang baru pulang. Selama beberapa hari ini memang dia sibuk bolak balik ke rumah sakit dan ke rumah Bu Luna.


Eza yang baru datang duduk di depan ayah dan ibunya.


"Za, apa kamu sudah melakukan tes DNA?" tanya Pak Juna


"Sudah, Pah. Tinggal menunggu hasilnya saja. Tapi inginnya sih walaupun nanti hasilnya jika Alana bukan anak Eza, tapi Eza akan tetap ikut membiayai hidup Alana."


"Terserah kamu, Nak." ucap Pak Juna


"Mamah setuju, Za. Biar bagaimanapun, Alana hanya tinggal sama neneknya. Kamu harus membantu mengurus Alana, Sesuai permintaan terakhir Sela." ucap Bu Rara


"Iya Mah," jawab Eza


Hanya sebentar Eza mengobrol bersama kedua orang tuanya. Dia memilih untuk beristirahat ke kamarnya. Karena jujur saja saat ini dia sangat lelah.


Pak Juna dan Bu Rara masih mengobrol.


"Pah, kalau nanti hasil tes DNA menyatakan jika Alana itu cucu kita, apa Papah akan menerimanya?"


"Jika itu memang cucu kita, tentu Papah akan menerimanya. Terlebih lagi dia sudah tidak punya Ibu. Jika kita lepas tangan kepada Alana, itu sama saja kita yang berdosa. Mungkin dengan hadirnya Alana di keluarga kita, itu sudah takdir agar hubungan kita dan Bu Luna membaik."


"Iya sih, Pah. Mungkin agar kita berdamai dengan masalalu."


"Mamah tidak marah?" tanya Pak Juna.


"Tidak, Pah. Untuk apa marah?"


"Ya kali saja Mamah marah karena kita berhubungan lagi sama Bu Luna."


"Kalau hanya sebatas keluarga, Mamah tidak mempermasalahkannya. Tapi kalau Papah diam-diam masih ada rasa, jangan harap Mamah mau menerima Papah lagi."


"Tidak, Mah. Papah hanya setia sama Mamah." ucap Pak Juna.


Kini keduanya saling berpelukan.

__ADS_1


°°°


°°°


Semua keluarga Dirgantara sedang berkumpul. Eza memegang amplop putih di tangan kanannya. Perasaan dia tak karuan saat ingin membuka amplop hasil tes DNA itu.


"Za, cepat buka!" pinta Zivana yang merasa tak sabaran.


"Iya ini mau di buka kok," Eza membuka amplop lalu mengambil selembar kertas hasil tes DNA.


Perlahan-lahan dia mulai membuka kertas itu. Eza membaca tulisan yang tertera di kertas. Dia tersenyum sambil melipat kembali kertas itu.


"Za, kenapa kamu tersenyum? Kamu senang yah karena anak itu bukan anak kamu?" tanya Zivana


Plak


Alvin menepuk pelan bahu Istrinya. Karena Zivana bicara asal ceplos.


"Alana anak aku, hasilnya cocok." ucap Eza yang merasa bahagia.


Zivana menjewer telinga Eza.


"Aduh aduh, sakit Kak. Lepasin dong!" Eza mencoba melepaskan tangan Zivana.


"Kamu yah, suruh kuliah malah hamilin anak orang."


"Namanya juga takdir Kak, lagian itu sudah terjadi," ucap Eza sambil memegang telinganya yang sedikit sakit.


"Za, sebaiknya setelah kamu lulus kuliah, kamu harus mencari Ibu sambung untuk Alana. Papah ingin jika Alana masuk dalam daftar keluarga Dirgantara. Tapi syaratnya kamu harus nikah dulu. Biar tidak jadi omongan orang." ucap Pak Juna


"Kok terburu-buru sih? Lagian sudah ada Rayan," kata Eza


"Rayan itu memang keluarga kita, tapi dia masuknya ke keluarga Arganta. Jadi nanti dia tidak akan meneruskan perusahaan Papah. Nanti anak kamu atau anak Farizki yang akan menjadi penerus perusahaan."


"Iya deh, nanti Eza cari ibu sambung untuk Alana. Tapi nanti loh, tidak sekarang." kata Eza

__ADS_1


"Ya nanti Za, kalau sekarang mau kamu kasih makan apa?" ucap Pak Juna


"Hehe, nah itu."


Mereka masih mengobrol bersama. Karena jarang-jarang mereka bisa berkumpul semua.


Menjelang sore, Zivana dan Alvin berpamitan untuk pulang.


Zivana mengambil Baby Rayan yang ada di gendongan Ibunya. Lalu dia melangkah keluar rumah bersama suaminya.


Kini keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Mas, nanti kita mampir ke toko kue yah." ucap Zivana


"Mau beli apa, sayang?"


"Namanya juga ke toko kue ya belinya kue lah."


"Hehe, iya Mas tahu. Tapi kue apa?"


"Kue bolu kesukaanku, aku lagi ingin makan kue nih."


"Kamu ngidam?" tanya Alvin sambil menatap Istrinya yang duduk di sebelahnya.


"Mas ada-ada saja sih, masa aku hamil lagi. Lagian Rayan masih kecil." kata Zivana


"Tidak apa-apa, sayang. Oh iya, bagaimana jika akhir minggu depan kita liburan. Ya, sekalian honey moon lagi. Siapa tahu pulang liburan kamu langsung hamil."


"Boleh juga sih, tapi jangan hamil dulu deh. Zie belum siap kalau urus dua bayi. Kecuali kalau Rayan sudah di atas dua tahun. Tapi siapa saja yang pergi? Mamah sama Papah di ajak tidak?"


"Kita saja, sayang. Kalau liburan bareng-bareng ya namanya bukan honey moon. Nanti kita ajak Desi juga untuk menjaga Rayan. Ya, biar kita bisa berduaan terus."


"Oke deh."


Mereka berdua masih terus mengobrol, hingga mobil yang di kendarai Alvin berhenti di depan toko kue. Alvin keluar dari mobil untuk membelikan kue. Sedangkan Zivana dan Baby Rayan tidak ikut turun.

__ADS_1


°°°


__ADS_2