
Pagi harinya Rey, Putri, dan Bu Susan sudah bersiap-siap untuk kembali ke kota.
Juna menyarankan agar Putri dan Bu Susan pulang bersama Rey. awalnya Rey menolak karena dia tidak mau jika harus satu mobil dengan Putri. tapi akhirnya dia mau karena dibujuk oleh Juna.
Mereka bertiga berpamitan dengan Rara dan Juna. sebelum pergi, Putri membisikan sesuatu ke telinga Rara. "Pengantin baru tiap malem tempur terus" bisik Putri
"Apaan sih Put?"
"Itu rambutmu masih sedikit basah." Putri melihat jilbab Rara yang sedikit basah karena rembesan air dari rambut yang sedikit basah.
"Iishhh aku malu" Rara malu kepada Putri.
"Tidak usah malu kali Ra, bentar lagi pasti Baby Zie punya adik." ucap Putri
"Semoga saja Put" jawab Rara
Mereka bertiga keluar dari rumah Rara.
Rara dan Juna mengantar mereka kedepan hingga mereka memasuki mobil milik Rey.
Setelah mobil yang dikendarai Rey sudah tidak terlihat lagi, Ret mengajak Rara untuk masuk ke dalam.
"Sayang, bagaimana jika kita ronde kedua." Juna berkata kepada Istrinya.
"Apaan sih Mas, sudah pagi tahu."
"Ya tidak apa-apa sayang, ayo dong." rengek Juna
"Tidak mau, nanti sebentar lagi Baby Zie juga bangun." ucap Rara
"Hm ya sudahlah" ucap Juna yang terlihat lesu.
Dan benar saja, terdengar tangisan Baby Zie dari dalam kamar. Rara segera menuju ke kamarnya untuk menghampiri Baby Zie.
"Uluh uluh sayangnya Mamah sudah bangun yah." Rara menggendong Baby Zie yang sudah menangis.
"Amah....huwaaa....." Baby Zie masih menangis. mungkin karena baru bangun tidur dan sedikit pusing kepalanya.
"Cup cup cup sini sayang sama Papah saja." Juna mengambil Baby Zie yang ada di dalam gendongan Rara.
"Apah...emen..." ucap Baby Zie
"Apa sayang?" Juna tidak mengerti perkataan Baby Zie.
"Baby Zie kok minta permen? memangnya Baby Zie tahu dari mana itu permen?" Rara bingung kenapa anaknya tiba-tiba minta permen. setahu dia, dia tidak pernah memberikan makanan sembarangan kepada Baby Zie, apalagi permen."
"Te utli..." jawab Baby Zie
"Apa yang dikatakan Baby Zie Ra?" tanya Juna
"Aku juga tidak tahu Mas." Rara memang tidak tahu apa yang dikatakan oleh anaknya. karena kata-kata itu baru dia dengar dari ucapan Baby Zie.
"Huwwaaa emen...." Baby Zie masih menangis.
__ADS_1
Rara dan Juna tidak mengerti apa yang Baby Zie inginkan. akhirnya Rara menyusui Baby Zie saja agar bisa tenang.
Juna yang melihat itu langsung berkomentar.
"Sayang, sisain buat aku juga dong, jangan kasih Baby Zie semua." ucap Juna
"Apaan sih Mas, kalau ngomong dijaga dong. ada Baby Zie nih jangan asal ceplos kalau bicara." ucap Rara
"Baby Zie belum ngerti inih sayang." ucap Juna
Setelah menyusui Baby Zie, akhirnya Baby Zie diam juga.
Juna mengambil alih Bay Zie dari gendongan Rara setelah melihat Baby Zie benar-benar sudah tenang. Rara segera kedapur untuk membuat kue goreng untuk dijual diwarung.
Juna ikut dengan Rara ke warung untuk mengantarkan kue. beberapa tetangga yang melihat mereka, memuji keserasian antara keduanya. mereka tidak heran jika Baby Zie sangat cantik karena terlahir dari pasangan yang Tampan dan cantik pula.
Setelah mengantarkan kue, Juna dan Rara pulang ke rumah mereka kembali. sesampainya di dalam rumah, Juna mengajak Rara untuk mengobrol sambil mengawasi Baby Zie yang duduk di atas tikar sambil memainkan boneka miliknya.
"Ra, aku mau bicara" kata Juna
"Bicara apa Mas?"
"Bagaimana jika kita beli kompor gas saja. kasihan kalau kamu tiap hari bikin api pakai kayu bakar." ujar Juna memberikan sarannya. itu juga untuk kebaikan mereka.
"Rara sih terserah Mas Juna, hanya saja jika pakai kompor pasti pengeluaran sehari-hari bertambah. apalagi Rara selalu membuat kue tiap harinya."
"Kamu jangan khawatir Ra, Mas akan mengambil uang tabungan Mas. insya'allah cukup untuk mencukupi kehidupan sehari-hari kita. bahkan bisa digunakan untuk merenovasi rumah ini."
"Rara terserah Mas Juna saja. lagian itu uang Mas Juna." ucap Rara
"Baiklah, yang paling dekat juga dekat kecamatan Mas. jaraknya satu jam dari sini."
"Tidak masalah Ra, lagian Mas masih punya mobil untuk kita kendarai. mau pergi kapan saja juga terserah kita."
Siang harinya, Juna dan Rara pergi untuk mengambil uang. tak lupa mereka mengajak Baby Zie untuk ikut bersamanya.
Sesampainya di ATM, Juna berniat untuk mengambil uang miliknya namun tidak bisa.
"Loh ini kenapa? apa ATMnya sedang eror?" Juna tampak bingung sendiri.
"Kenapa Mas?" tanya Rara yang melihat Juna berulang kali memasukan kartu ATM miliknya.
"Ini loh masa kartu Mas tidak berfungsi."
"Kita cek saja Mas ke dalam, kebetulan masih pukul 12:00 siang. nanti Bank tutupnya pukul 02:00 siang."
"Ya sudah ayo!" Juna dan Rara masuk ke dalam. kebetulan ATM tempat dia ingin mengambil uang ada didepan kantor Bank itu.
Setelah mengambil nomor antrian, kini saatnya Juna untuk menghadap teller.
"Maaf, apakah ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Teller itu yang merupakan seorang wanita.
"Saya mau bertanya, kenapa saya tidak bisa mengambil uang di kartu ATM milik saya?"
__ADS_1
"Boleh saya cek dulu Pak?" tanya Teller itu kepada Juna.
Juna mengambil kartu miliknya lalu memberikannya ke Teller itu.
setelah di cek akhirnya diketahui juga permasalahannya.
"Maaf Pak, kartu anda sepertinya sudah terblokir."
"Apa? terblokir?" Juna merasa kaget kenapa kartu miliknya bisa terblokir begitu saja.
"Iya Pak betul"
Lalu Juna mengambil lagi kartu lainnya di dalam dompet. "Coba pakai kartu ini Mba." Juna memberikan kartu black card miliknya kepada Teller yang sedang duduk di depannya.
Teller itu seketika melotot tak percaya karena melihat kartu Black Card. kartu yang hanya di miliki orang-orang tertentu. dan itu para bangsawan kelas dunia.
"Maaf Pak, kartu black card tidak bisa digunakan di Bank ini." ucapnya.
"Ya sudah, terimaksih Mba." Juna yang merasa lesu segera beranjak pergi.
Juna dan Rara kini sudah berada di dalam mobil.
"Ra, maafkan Mas yah karena Mas belum bisa memberikan nafkah untukmu." ucap Rara
"Tidak apa-apa Mas, rezeki kita bisa cari sama-sama."
"Terimakasih Ra" Juna senang karena mempunyai istri yang tidak banyak menuntut dalam hal apapun.
°°°°
Di dalam perjalanan menuju ke ibukota, Putri tak henti-hentinya menyanyi sambil mendengarkan musik melalui headset miliknya. Rey yang menyetir mobil tentu sangat terusik mendengarbsuara Putri yang pas-pasan.
"Bisa diam nggak sih!" ucap Rey sebal
"Dudududu lalalalallalla" Putri tidak mendengar perkataan Rey karena volume suara musik yang dia dengar full.
Rey melempar tisu ke arah Putri dan mengenai keningnya.
"Apa-apaan sih main lempar sembarangan?"
"Kamu tuh yang apa-apaan, nyanyi tidak tahu tempat. mending kalau suaranya kayak agnes monica, lah ini mah kayak kuntilanak."ucap Rey asal
"Aiishhh terserah deh apa kata Kak Rey yang so ngatur-ngatur." ucap Putri acuh
"Kamu tuh yang so kepedean. suara pas-pasan juga nyanyi, udah gitu kenceng lagi suaranya."
"Emang aku pede" ucap Putri sambil mengibaskan rambut panjangnya.
Rey hanya mengerutkan keningnya dan dia kembali fokus mengemudi. percuma bicara dengan Putri yang keras kepala.
Kini mereka sudah sampai di kota. Rey mengantarkan mereka sampai di depan toko kue Pak Sam. Bu Susan dan Putri segera menuju Mess. dan Bu susan menemui suaminya yang sedang menunggunya.
Sebenarnya Bu Susan bisa saja jika tadi dia pulang ke rumahnya saat mobil Rey melewati daerah sekitar rumahnya. namun dia takut jika Rey dan Putri akan bertengkar adu omong seperti tadi di perjalanan. dan dia takut jika Rey menurunkan Putri di jalan.
__ADS_1
°°°°