
Bi Salma menghampiri Zivana yang sedang duduk sendirian di ruang keluarga.
"Neng Zie," Bi Salma menghampiri Zivana dan memanggilnya.
"Ada apa, Bi?"
Bi Salma menengok kanan kiri karena takut ada Desi atau orang lain yang melihat mereka.
"Begini Neng, Bibi lihat kok Desi perhatian sekali yah sama Tuan Alvin, Bibi sering melihat Desi membuatkan cemilan atau minuman untuk Tuan Alvin. Padahal itu bukan tugasnya loh."
"Masa sih, Bi? Memang sesering itu yah?"
"Iya, Neng. Bibi hanya takut jika diam-diam Desi menyukai Tuan Alvin. Seperti di sinetron yang sering Bibi tonton."
Zivana tampak memikirkan perkataan Bi Salma.
"Baiklah, nanti Zie mau menyelidiki Desi, Bibi diam saja yah jangan ikut campur. Apalagi menegur Desi, biar ini jadi urusan Zie."
"Baik, Neng. Kalau begitu Bibi permisi dulu," Bi Salma pergi dari hadapan Zivana.
Zivana beranjak dari duduknya. Dia akan ke kamar anaknya untuk melihat Baby Rayan.
Zivana masuk ke kamar begitu saja. Kebetulan pintunya tidak di tutup.
"Nona," Desi tersenyum ramah menatap Zivana.
"Rayan rewel tidak, Kak?"
"Tidak Non," jawab Desi
Zivana melihat interaksi Rayan dan Desi yang terlihat akrab. Bahkan Desi terlihat sangat menyayangi Rayan.
Masa sih Kak Desi mau deketin Mas Alvin, rasanya tidak mungkin deh,' batin Zivana
Zivana menyuruh Desi untuk tetap di kamar bersama Baby Rayan. Sedangkan Zivana keluar dari kamar itu.
Zivana berjalan pelan menuju ke kamar yang di tempati oleh Desi. Baru juga dia memegang handle pintu, ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.
"Neng, mau ngapain?" Bi Salma berdiri di belakang Zivana.
"Astaga, Bibi." Zivana memegang dadanya karena kaget. " Zie fikir tadi Kak Desi yang memanggil Zie. Ini loh, Zie mau cari bukti. Siapa tahu di kamarnya Desi ada bukti-bukti yang kuat jika memang Desi ada niatan mau mendekati Mas Alvin."
"Biar Bibi bantu, Neng."
"Tidak usah, Bi. Lebih baik Bi Salma berjaga di depan pintu saja. Takutnya Kak Desi datang."
"Baik, Neng." ucap Bi Salma
__ADS_1
Zivana masuk ke dalam kamar. Hal pertama yang dia cari itu ponsel milik Desi.
Ponselnya tidak pakai pasword,' gumam Zivana lalu membuka isi galeri.
Tidak ada yang mencurigakan disana. Tidak ada foto Alvin atau sesuatu yang bisa di jadikan bukti.
Zivana kembali menaruh ponsel milik Desi ke atas meja.
Dia mulai membuka laci kecil untuk mencari sesuatu yang lain. Namun dia tidak menemukan apa pun yang mencurigakan.
Zivana keluar dari kamar itu tanpa menemukan apa pun.
"Bagaimana, Neng?" Bi Salma bertanya karena merasa penasaran.
"Tidak ada yang mencurigakan, Bi."
"Aneh juga yah," gumam Bi Salma.
"Sudahlah, jangan terlalu di fikirkan, Bi."
"Iya, Neng. Kalau begitu Bibi permisi," Bi Salma pergi dari hadapan Zivana.
Setelah kepergian Bi Salma, Zivana juga pergi dari sana.
°°°
Zivana melihat suaminya yang baru pulang dari kantor. Dia menghampiri suaminya lalu membawakan tas kerjanya. Mereka berdua melangkah menuju ke kamar.
"Tidak usah, sayang. Mas tidak mau berendam kok."
"Baiklah, kalau begitu Zie siapin piyama untuk Mas Alvin saja," Zivana membuka lemari dan mengambil piyama couple seperti yang dia pakai.
"Tumben couple?"
"Iya, Mas. Biar orang lain pada tahu kalau kita itu pasangan yang serasi."
"Mana ada orang lain di rumah ini, sayang?"
"Ya kali saja ada, Mas."
Alvin mendekati Istrinya lalu mengusap gemas pucuk kepala Istrinya.
"Ih berantakan nih rambutku," ucap Zivana sambil menatap suaminya yang sedang melangkah menuju ke kamar mandi.
Alvin hanya tesenyum lalu melanjutkan langkahnya.
Hanya lima belas menit Alvin selesai mandi. Terlihat Alvin membuka pintu kamar mandi. Dia tidak melihat Istrinya berada di kamar.
__ADS_1
Kemana dia?"gumam Alvin sambil menatap ke segala arah.
Alvin segera memakai piyama yang sudah di siapkan oleh Istrinya. Setelah itu dia keluar kamar untuk menemui Istrinya.
Desi melihat Alvin yang baru menuruni tangga.
"Tuan, Apa mau saya buatkan teh hangat atau kopi?"
"Boleh, buatkan saya teh hangat saja. Nanti dibawa ke ruang depan."
"Baik Tuan," ucap Desi lalu pergi dari hadapan Alvin.
Alvin menemui Istrinya yang berada di kamar anaknya.
"Sayang, kamu lagi ngapain?"
Zivana menengok ke sumber suara.
"Eh Mas Alvin," Zivana yang sedang duduk di pinggir ranjang menghampiri suaminya.
"Pasti Mas Alvin mau mengajak aku bermesraan nih," ucap Zivana yang merasa percaya diri.
"Pede sekali kamu, aku mau mengajak Rayan main bareng," Alvin menggendong anaknya lalu keluar dari kamar itu. Begitu juga dengan Zivana yang mengikuti suaminya.
"Ih Mas Alvin ngeselin," Zivana menarik lengan baju suaminya, sehingga kini suaminya menghentikan langkahnya.
Alvin menoleh ke belakang, dia mendekatkan dirinya dengan Istrinya.
"Jangan manyun seperti itu dong, sayang. Mas tidak tahan melihatnya." bisik Alvin di telinga Istrinya.
Zivana hanya tersenyum lalu dia menggandeng lengan suaminya menuju ke ruang keluarga.
Alvin dan Zivana duduk bersebelahan. Sedangkan Baby Rayan duduk di pangkuan Alvin.
Terlihat Desi datang dengan membawa nampan berisi teh hangat untuk Alvin.
"Permisi, Tuan. ini tehnya," Desi menaruh gelas berisi teh hangat di meja depan Alvin.
"Untuk saya mana? kok cuma suami saya saja yang di buatkan?" tanya Zivana
"Maaf Nona, biar saya buatkan," ucap Desi
"Tidak usah, lagian saya tidak ingin teh hangat. Saya hanya penasaran saja kenapa sih kamu perhatian sekali sama suami saya?" Zivana menatap Desi dengan tatapan tak suka.
"Sayang, kok kamu sinis begitu sih. Lagian apa salahnya Desi membuatkan Mas teh hangat?" Alvin melihat Istrinya seperti sedang cemburu.
"Oh jadi kamu senang kalau di buatan teh hangat oleh dia, baiklah kalau begitu," Zivana beranjak dari duduknya. Lalu dia melangkah menuju ke kamar atas.
__ADS_1
Alvin memberikan Baby Rayan kepada Desi. Lalu dia mengikuti Istrinya.
•••