
Bu Susan dan suaminya memarahi Mang Ujang habis-habisan. Bu Susan sempat berniat akan membawa masalah ini ke pihak hukum. tapi disisi lain dia tidak tega. biar bagaimanapun Mang Ujang adalah pamannya.
jalan satu-satunya yang dia lakukan yaitu mengambil uang itu kembali. karena uangnya sudah dipakai, Bu Susan memutuskan untuk mengambil semua tanah milik Mang Ujang dan dua motor yang dia miliki. Mang Ujang sempat tidak terima, tapi setelah di ancam akhirnya dia mau menyerahkan harta yang dimilikinya.
Setelah menyelesaikan urusan dengan pamannya, Bu Susan memilih untuk kembali ke rumah Neneknya.
"Bagaimana Bu urusan dengan Mang Ujangnya?" tanya Rara kepada Bu Susan saat memasuki rumah.
"Sudah beres Ra, sudah di diselesaikan secara kekeluargaan." ucap Bu Susan yang sedang berjalan ke ruang keluarga.
"Syukur deh kalau begitu" Rara ikut bersyukur mendengar permasalahan itu sudah selesai.
"Ngomong-ngomong Baby Zie dimana Ra?" tanya Bu Susan
"Baru tidur tadi Bu, ya sudah Bu saya pamit dulu mau ke dapur." Rara berjalan ke dapur untuk memasak makan siang.
Sedangkan Bu Susan dan suaminya segera menemui Nenek yang sedang terbaring di kamarnya. Bu Susan sangat prihatin melihat keadaan Neneknya. dia merasa sebagai cucu belum bisa merawatnya dengan baik. jika saja jarak mereka dekat, mungkin Bu Susan akan selalu menemani Neneknya. tapi keadaannya sebaliknya, dia harus bekerja di kota untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
Rara tampak kesusahan menyalakan api karena kayu bakar yang ada di dapur masih basah.
__ADS_1
Bu Susan yang baru keluar dari kamar Nenek melihat asap tebal dari arah dapur.
"Ra, ini apinya tidak nyala-nyala?" tanya Bu Susan yang sudah berada di dapur.
"Iya ini Bu, memang susah sekali kalau nyalain api di tungku." ucap Rara yang sedang mengipasi kayu bakar yang ada di dalam tungku agar apinya menyala.
"Ibu tidak bisa membayangkan Ra, betapa susahnya hidup Nenek selama ini." Bu Susan tampak berkaca-kaca. dia membayangkan kehidupan yang di jalani Neneknya selama ini.
"Saat pertama kali Rara datang kesini juga, Nenek hanya memasak sayur lompong Bu.
bahkan itu juga masak tanpa bawang, ibu juga bisa bayangkan rasanya seperti apa."
"Sudahlah Bu jangan menyalahkan diri sendiri. lagian Ibu selama ini sudah mengirim uang untuk Nenek. hanya saja uang itu tidak sampai kepadanya." ucap Rara sambil menenangkan Bu Susan.
Sekarang Bu Susan sudah tampak tenang.
Rara juga tidak jadi memasak karena apinya tidak menyala juga. Bu Susan memerintahkan suaminya untuk membelikan nasi bungkus untuk mereka. dan membelikan beberapa bahan makanan untuk persediaan di dapur.
°°
__ADS_1
Di lain tempat, Juna sedang bertemu klien di cafe dekat kantornya. dia tak sengaja melihat wanita yang mirip dengan istrinya sedang berbincang dengan seorang pria.
setelah kepergian kliennya, Juna mencoba berjalan mendekati wanita itu. tapi tiba-tiba Rio datang dan mengatakan bahwa mereka harus segera kembali ke kantor. karena sedang ada tamu yang menunggunya.
"Tuan Juna" Rio memanggil atasannya yang sedang melangkah pergi.
"Eh iya kenapa?" Juna bertanya kepada Asistennya.
"Sepertinya kita harus segera kembali ke kantor. ada tamu yang ingin bertemu dengan tuan." ucap Rio kepada atasannya.
"Baiklah ayo kita kembali." sebelum melangkah pergi, Juna kembali menatap ke arah wanita mirip istrinya yang sedang duduk membelakanginya.
Setelah kepergian Juna, Luna tampak lega karena suaminya tidak memergoki dia bersama lelaki lain.
"Kita sudah aman sayang, kamu jangan gelisah lagi." ucap Devan kekasih Luna.
"Untung saja mas Juna tidak jadi berjalan ke arah kita. kamu juga sih ngapain ngajakin ketemuan disini?" Luna memang sebelumnya sempat menolak jika dirinya bertemu di cafe dekat kantor suaminya. ternyata hal yang dia takutkan terjadi juga. Suaminya hampir saja memergokinya.
"Ya sudah sayang, lebih baik sekarang kita pulang saja." Devan mengajak Luna untuk pulang. dia tidak benar-benar mengantar Luna pulang, tapi dia mengajak Luna ke Apartemen miliknya.
__ADS_1
Memang beberapa bulan terakhir ini Luna jarang sekali datang ke Luna florist. dia menyerahkan semua semua pekerjannya kepada Santi.