
Alvin merasa senang karena rencananya berhasil. Belakangan ini dia melihat Asisten Tio yang selalu menghampiri Desi saat di tempat kerja. Bahkan dia melihat ada cinta di matanya.
Saat ini Alvin dan Zivana sedang makan siang berdua di restoran yang tak jauh dari kantornya.
"Mas, aku lihat-lihat kok Kak Tio belakangan ini perhatian sekali yah sama Kak Desi. Zie jadinya jaga jarak sama Kak Tio. Takutnya malah mengganggu kedetakan mereka." ucap Zivana
"Nah benar, sayang. Kamu jangan sering dekat-dekat Tio. Kasihan dia itu sepertinya lagi pendekatan sama Desi."
Keduanya kembali melanjutkan makan siang mereka.
Setelah selesai makan siang, Alvin langsung mengajak istri dan anaknya kembali ke kantor.
Kini keduanya sudah berada di lantai atas. Zivana mencari keberadaan Desi di ruang bermain anaknya, karena dia hendak menyerahkan Baby Rayan. Namun Desi tidak ada di sana. Alvin juga mencari Asisten Tio karena akan meminta beberapa berkas pekerjaan. Tapi Asisten Tio juga tidak ada di ruangannya.
"Mas, Bagaimana? Kak Tio ada?"
"Tidak ada, sepertinya Tio sedang bersama Desi."
"Sudah biarkan saja, mungkin mereka sedang makan siang bersama." kata Zivana
Akhirnya Zivana membawa anaknya ke ruang kerja suaminya.
Di ruangan lain, tepatnya di ruangan kosong yang ada di lantai atas, Asisten Tio sedang ber*cinta dengan Desi. Desi sempat memberontak karena dia tidak mau. Dan lagi, dia merasa jika tugasnya untuk menggoda Asisten Tio sudah selesai.
Asisten Tio menatap Desi yang sedang menangis.
"Kenapa kamu menangis? bukankah sebelumnya kamu sendiri yang melakukannya duluan kepadaku. Dan lagi saat itu kamu seperti sudah berpengalaman. Sepertinya kamu ini memang wanita nakal," ucap Asisten Tio setelah selesai ber*cinta.
Asisten Tio selalu berfantasi nakal semenjak Desi merenggut keperjakaannya. Dia selalu ingin melakukannya lagi. Namun Desi seolah menghindar darinya.
Desi segera keluar dari ruangan itu setelah dia memakai kembali pakaiannya. Dia juga menutupi kiss mark di lehernya dengan fondation.
Desi sudah berdiri di ruangan Alvin. Dia mencoba untuk tersenyum seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Tok tok
Desi mengetuk pintu ruangan itu.
__ADS_1
"Masuk!" ucap Alvin dari dalam.
Desi melangkah masuk. Saat ini dia berdiri di depan meja kerja Alvin.
"Maaf Tuan, Saya terlambat." ucap Desi
"Tidak apa-apa, tapi lain kali jangan telat lagi kalau habis istirahat."
"Baik, Tuan." setelah mengatakan itu, Desi menghampiri Zivana dan mengajak Baby Rayan untuk bersamanya.
°°°
°°°
Zivana sedang menonton televisi di ruang keluarga bersama suaminya.
"Tuan, Nona," ucap Desi yang sudah berada tak jauh dari mereka.
"Iya Kak, ada apa?" tanya Zivana.
Alvin dan Zivana saling tatap. Rasanya tak rela untuk mengijinkan Desi pergi. Apalagi keduanya sudah percaya sekali dengan Desi.
"Apa tidak bisa jika Neneknya di bawa kesini saja. Nanti saya carikan kontrakan untuk Nenek kamu." ucap Alvin
"Tidak bisa, Tuan." ucap Desi
"Bagaimana sayang?" Alvin menatap istrinya yang duduk di sampingnya.
"Sebenarnya sih Zie sudah merasa sangat cocok sama Kak Desi. Tapi sepertinya kita harus mengijinkan Kak Desi pergi. Kasihan Neneknya kalau tidak ada yang mengurus," ucap Zivana.
"Baiklah," kata Alvin lalu dia beralih menatap Desi. "Kamu ikut saya ke ruang kerja saya," ucapnya lagi.
"Baik," jawab Desi.
"Mas, aku ikut yah," ucap Zivana.
"Tidak usah sayang, kamu disini saja. Lagian Mas mau memberikan pesangon."
__ADS_1
Zivana akhirnya menurut dengan suaminya.
Kini Alvin dan Desi sudah berada di ruang kerja Alvin. Alvin membuka brankas penyimpanan uang. Lalu dia mengambil satu tumpukan uang dan memasukannya ke dalam amplop coklat.
"Ini pesangon untuk kamu," Alvin memberikan amplop coklat itu kepada Desi.
"Tidak usah Tuan, lagian uang yang 300 juta juga masih ada."
"Ambil saja, rezeki jangan di tolak loh."
Desi mengambil amplop coklat itu. Dia berterima kasih kepada Alvin karena sudah memberinya pesangon.
Desi pergi ke kamarnya lalu membereskan barang-barangnya. Setelah itu dia langsung berpamitan untuk pulang. Alvin juga sudah menawarkan diri untuk mengantar Desi ke terminal, namun Desi menolak dengan alasan tidak mau merepotkan.
Alvin dan Zivana kembali fokus menonton televisi.
"Mas, kalau Kak Desi pergi, bagaimana dengan Kak Tio?" tanya Zivana.
"Mas juga tidak tahu, sayang. Mungkin saja Tio sudah tahu jika Desi pulang kampung."
"Terus nanti siapa yang menjaga Rayan?"
"Kita cari baby sister baru saja," ucap Alvin.
"Jangan deh, biar nanti Zie jagain sendiri."
"Kenapa?"
"Tadi Zie lihat di acara gosip, kalau seorang Baby sister cantik menikah dengan majikannya. Kan kasihan tuh istrinya lelaki itu. Cari Baby sister untuk jagain anaknya, ini malah jagain suaminya."
"Mas tidak akan seperti itu kok," kata Alvin.
"Zie tetap tidak mau," ucap Zivana.
"Baiklah," Alvin hanya menurut dengan istrinya.
°°°°
__ADS_1