Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_23


__ADS_3

Sambil menunggu kepulangan suaminya, Rara bersantai sambil mendengarkan radio miliknya. entah mengapa dia sangat merindukan suaminya itu. walaupun dia tidak di perlakukan baik sebelumnya tapi perlakuan suaminya kemarin saat di bandung membuat hatinya luluh. dan dia akui jika dia sudah jatuh cinta kepada suaminya.


Rara menuju ke warung depan untuk membeli krupuk. karena jika dia makan tanpa ada krupuk rasanya hambar.


"Bu, krupuknya 10ribu"ucap Rara


"Eh Neng Rara lama tidak kelihatan."


"Iya nih Bu, alhamdulilah sudah punya alat masak sendiri jadi untuk makan bisa masak sendiri."


"Alhamdulilah, Neng nyaman tidak ngontrak disini?"


"Nyaman bu, Alhamdulilah tempatnya lebih nyaman dari pada rumah saya di kampung yang hanya dari anyaman bambu."


"Syukurlah Neng, oh iya ini neng krupuknya." sambil memberikan krupuk yang sudah di taruh di kantong kresek lalu Rara membayarnya.


Ketika Rara akan pamit pulang, Bu Helda Ibu pemilik warung itu memanggil Rara.


"Neng Rara" ucapnya lalu Rara kembali menoleh ke arah belakang.


"Eh iya Bu kenapa?" tanya Rara


"Em begini Neng, maaf jika saya kepo tapi saya benar-benar penasaran. saya mau nanya sama Beng, sebenarnya suami Neng itu kerjanya apa?"


"Saya kurang tahu Bu, saya tidak menanyakannya kepada suami saya. tapi sebelumnya suami saya itu kerjanya jadi tukang sayur keliling jadi ya mungkin pekerjaannya yang sekarang jadi tukang sayur juga atau sejenisnya."


"Loh kok kerjaan suami sendiri tidak tahu neng?" tanyanya


"Saya tidak tahu" Rara sudah menunjukan wajah sendunya.


Bu Helda yang melihat raut wajah Rara jadi merasa tidak enak.

__ADS_1


"Maaf ya Neng bukan maksud Ibu membuat Neng sedih atau tersinggung. tapi Ibu mau memberitahukan jika Ibu sering melihat suami Neng itu di antar pakai mobil mewah jika malam, mungkin habis pulang kerja. awalnya Ibu ragu jika yang Ibu lihat itu suami Neng Rara. hingga suatu ketika Ibu membuntuti suami Neng yang baru turun dari mobil. dan benar saja saat Ibu melihatnya, dia masuk ke dalam kontrakan Neng." jelas Bu Helda panjang lebar.


Rara tampak tak percaya dengan perkataan


Bu Helda. tapi jika Bu Helda benar-benar pernah membuntuti Juna hingga masuk ke dalam kontrakannya, berarti memang benar dia Juna suaminya.


"Terimakasih Nu atas informasinya. nanti saya coba tanyakan ke suami saya. bisa saja dia bekerja sebagai supir di rumah orang kaya mungkin."


"Sama-sama Neng, maaf jika Ibu terlalu ikut campur."


"Iya Bu tidak masalah kok." lalu Rara pamit untuk kembali ke kontrakannya.


°°°°°°°


Rara nampak kecewa karena Juna belum pulang juga. padahal tadi siang dia sudah masak banyak. tapi nyatanya suaminya itu tidak pulang.


jadi untuk makan malam Rara lebih memilih memanaskan makanan tadi siang saja untuk dia makan.


Adzan isya sudah berkumandang namun Juna belum pulang juga. Rara yang masih duduk bersantai di tikar memilih untuk melaksanakan shalat isya terlebih dahulu. karena tidak baik jika menunda-nunda shalat.


Sehabis shalat isya Rara membaca ayat suci al-qur'an beberapa ayat.


karena sudah merasa lapar Rara memilih untuk makan terlebih dahulu. karena dia sudah menunggu Juna tapi tak kunjung datang. dia tidak mau jika besok di hari pertamanya kerja malah sakit.


Rara makan dengan sangat lahap, walaupun hanya dengan nasi dan balado terong sisa tadi siang tapi itu tidak mengurangi rasa nikmatnya ditambah krupuk pedas kesukaannya sangat menggugah selera.


setelah makan rara memilih untuk duduk bersantai di ruang depan sambil menunggu kepulangan suaminya. tapi karena kekenyangan Rara malah ketiduran di atas tikar.


°°°°°


Rara sudah bersiap berangkat kerja. hari ini dia tampil sederhana seperti biasanya.

__ADS_1


ketika dia melangkah keluar gerbang, dia melihat sebuah mobil yang sudah terparkir disana. seorang pria keluar dari dalam mobil saat melihat Rara yang baru keluar pintu gerbang.


"Rara" panggil Rey yang sedang menunggu Rara.


"Eh Mas Rey kok disini sih?" Rara belum tahu tujuan Rey datang menemuinya.


"Saya mau jemput kamu Ra, takutnya kamu nyasar."


"Iissh mana mungkin nyasar Mas, Rara sudah pernah ke perusahaan itu sebelumnya saat mengantarkan bunga pesanan Mas Rey."


"Oh iya saya lupa, tapi tidak masalah kan jika saya mengantarmu?"


"Tapi Rara merasa tidak enak sama Kakak karena sudah merepotkan."


"Tidak kok, sama sekali tidak merepotkan." ucapnya


"Ya sudah ayo masuK" ucapnya lagi mempersilahkan Rara untuk masuk ke dalam mobilnya.


Kini keduanya sudah sampai di parkiran gedung yang menjulang tinggi itu.


Rey terlebih dahulu keluar dan membukakan pintu untuk Rara.


"Silahkan cantik" ucap Rey mempersilahkan Rara untuk turun.


"Mas Rey ih so romantis" ucap Rara lalu turun dari mobil.


"Tidak masalah kan romantis sama cewek secantik Rara."


"Mas Rey apaan sih, Rara sudah punya pasangan jadi kalau mau di gombalin dengan sejuta kata cinta juga nggak bakalan mempan." ucap Rara


"Tapi hanya lelaki bodoh yang tega membiarkan wanitanya bekerja sekeras ini." sambil menatap ke arah Rara tetapi Rara hanya menanggapinya dengan senyuman.

__ADS_1


Beberapa karyawan yang melihat interaksi keduanya mengira jika mereka adalah sepasang kekasih. karena mereka terlihat sangat akrab.


__ADS_2