Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_93


__ADS_3

Malam harinya hujan sangat deras. Juna yang sedang tertidur akhirnya terbangun.


Rara mengikuti suaminya yang sudah terlebih dahulu keluar dari kamar.


"Mas kenapa keluar?" tanya Rara


"Di luar hujan deras sekali Ra, Mas takut jika rumah ini kebanjiran." kata Juna


"Biasanya juga tidak pernah banjir Mas." ucap Rara


"Sebaiknya kita cek dulu saja Ra." pinta Juna


Juna dan Rara melangkah menuju ke depan rumah. Juna membuka sedikit pintu dan melihat keadaan di luar rumah.


"Tuh di luar masih aman Mas." kata Rara


"Ya sudah, ayo kita cek keadaan di belakang rumah." ajak Juja


Rara berjalan mengikuti suaminya sampai ke dapur. ternyata air selokan di belakang rumah naik. bahkan hendak sejajar dengan lantai dapur. mungkin jika dibiarkan saja akan banjir. Juna memilih untuk mengambil jas hujan miliknya lalu dia pakai. dia keluar rumah untuk memperbaiki selokan. sedangkan Rara hanya melihat suaminya dari pintu dapur yang terbuka.


Sudah cukup lama Rara berdiri disana. dia dikejutkan dengan suara tangisan Baby Zie dari dalam kamar. Rara terkejut saat melihat anaknya sudah terjatuh ke lantai. dia baru ingat ternyata tadi Rara lupa menaruh penghalang disamping Baby Zie yang sedang tidur.


"Astagfirullahaladzim sayang......"Rara terkejut dan langsung menggendong anaknya.


"Huwwaaaaaa......."Baby Zie masih menangis.


"Cupcupcup jangan nangis lagi yah sayang. kenapa bisa jatuh sih? maafin Mamah yah sayang." Rara sangat mengkhawatirkan keadaan anaknya. dia tahu jika anaknya sekarang sedang merasa kesakitan karena terjatuh ke lantai.


Rara berjalan menuju ke belakang. dia berniat memanggil suaminya yang masih melakukan aktifitasnya.


"Mas....Mas Juna..."panggil Rara


"Kenapa teriak-teriak sayang?" tanya Juna uang masih berada dibawah guyuran air hujan.


"Baby Zie terjatuh dari tempat tidur." teriak Rara agar suaminya mendengar perkataannya.


"Baby Zie?" Juna yang merasa terkejut langsung saja melempar sembarang cangkul yang sedang dia pegang. lalu Juna berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri anak dan istrinya.


"Sayangnya Papah tidak apa-apa kan? jangan menangis lagi dong sayang." ucap Juna yang hendak meraih Baby Zie dari gendongan Rara.


"Mas mau ngapain? ganti dulu bajumu!" Rara memerintah suaminya untuk mengganti pakaian yang dia kenkan karena sangat basah.


"Oh iya Mas sampai lupa." lalu Juna mengambil handuk kecil yang sudah dia siapkan tadi.


Juna memakai handuk itu dan melepas semua pakaiannya. baru dia masuk ke dalam rumah.


Setelah berganti pakaian, Juna menghampiri istrinya yang sedang duduk diruang depan sambil menggendong Baby Zie.


"Sayang, sini biar gantian sama Mas." Juna menawarkan diri untuk menggendong Baby Zie.


"Nanti saja Mas, biar Baby Zie bersama Rara dulu. nanti kalau Rara lelah baru Mas yang gendong." kata Rara

__ADS_1


"Ya sudah terserah kamu sayang, Mas hanya tidak ingin kamu kecapaian."


"Tidak sama sekali Mas, asal bersama orang yang kita cintai, rasa cape pun tidak akan terasa."


"Mas terhura deh sama kamu. "kata Juna


"Terharu Mas bukan terhura." timpal Rara


"Iya deh sayang, itu Baby Zie sudah tidur loh. Ayo bawa ke kamar saja! "pinta Juna saat melihat anaknya yang sudah terlelap di gendongan istrinya.


"Ya sudah ayo Mas, lagian diluar dingin juga. "ucap Rara karena memang udara masih sangat dingin.


Rara dan Juna kembali masuk ke dalam kamar mereka. mereka akan tidur kembali dan Baby Zie ditidurkan ditengah-tengah keduanya.


Pagi hari Rara bangun terlebih dahulu karena harus memasak sarapan untuk mereka. Rara menengok sekilas menatap suami dan anaknya yang sedang tidur sebelum dia benar-benar keluar dari kamarnya.


Setelah selesai memasak, Rara membangunkan suaminya untuk mengajaknya shalat berjama'ah.


setelah shalat, Rara menyuruh suaminya untuk mandi. namun Juna malah kembali ke kamar dan ikut tidur disamping anaknya.


Rara yang baru selesai memasak langsung menghampiri Juna yang sudah tidur lagi. lalu mengajaknya untuk shalat subuh berjamaah.


Setelah sarapan, Rara segera ke dapur untuk membuat kue goreng. walaupun sebelumnya Juna jualan tak banyak yang laku, tapi Rara ingin jika suaminya tetap berjualan. karena pemasukan sehari-hari hanya dari berjualan.


Rara melihat suaminya yang datang menghampirinya.


"Mas belum siap-siap? " tanya Rara


"Belum sayang, Mas mau lanjutin benerin selokan dulu karena semalam tertunda." kata Juna


"Tidaklah sayang, nanti Mas mandi lagi biar wangi."


"Jangan terlalu wangi Mas, nanti kalau dilirik perawan gimana dong. "


"Wah bagus tuh kalau Mas dilirik cewek cantik." ujar Juna memanas-manasi istrinya.


"Enak aja, berani lirik berarti berani nggak dapat jatah satu bulan."


"Kejam banget sih sayang, sehari juga tidak kuat apalagi sebulan." ucap Juna sambil menghela nafas beratnya.


"Makannya jangan macem-macem sama istri." ancam Rara


"Iya iya sayang, Mas nggak berani macam-macam kok." ucapnya lalu Juna memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Juna berjalan ke belakang rumah karena akan melanjutkan untuk memperbaiki selokan yang tersumbat. Juna mencari cangkul yang semalan dia buang sembarang. namun dia tidak menemukan cangkulnya.


"Iishhh dimana sih itu cangkul." guman Juna sambil mencari cangkul di kebun belakang rumah.


Juna tidak jadi memperbaiki selokan yang tersumbat karena cangkul yang dia cari tidak ketemu.


Rara melihat suaminya kembali masuk kedalam rumah.

__ADS_1


"Kok cepat sekali Mas ? "tanya Rara


"Cangkulnya hilang Ra, semalam Mas buang sembarang." ucap Juna


"Mas Juna kenapa ceroboh sekali sih? paling juga itu cangkul sudah diambil orang." ucap Rara


"Mas sih?" Juna tampak tak percaya.


"Belakang rumah kita itu ada jalan setapak yang biasa dilewati petani ke kebun. Rara juga dulu pernah naruh kayu bakar di gubuk yang dekat jalan itu dan belum juga satu hari, kayu bakarnya sudah hilang entah kemana." jelas Rara


"Loh, kok nggak aman sih, padahal ini dikampung." Juna berkata kepada istrinya.


"Iya sih emang di kampung, tapi kadang ada warga yang kesulitan ekonomi memilih untuk mengambil sesuatu yang bukan miliknya."


"Memangnya tidak ada yang melapor ke keamanan setempat?" tanya Juna


"Ya ada sih, tapi cuma masalah sepele dan yang dicuri juga bukan barang mewah jadi tidak ada tindakan lanjutan dari kemanan setempat. paling hanya teguran saja."


"Oh seperti itu, Mas janji deh kedepannya akan lebih berhati-hati dalam menaruh sesuatu. maaf yah sayang, Mas sudah menghilangkan cangkul punyamu."


"Punya Rara? itu bukan punya Rara loh. Rara pinjem ke tetangga."


"Sudah hilang gimana dong?"


"Ya beli lah Mas, kita harus tanggung jawab." ucap Rara


"Berapa puluh juta memangnya? " tanya Juna kepada istrinya.


Rara tertawa mendengar perkataan suaminya.


"Astaga Mas Juna gimana sih. mana ada harga cangkul nyampai jutaan."


Juna hendak menimpali perkataan istrinya. namun terlebih dahulu mendengar ketukan pintu dari luar rumah. Juna mengekor istrinya yang hendak membukakan pintu.


Ceklek


Terlihat wanita paruh baya berdiri di depan pintu. Rara mengajaknya masuk ke dalam.


mereka duduk bertiga di ruang depan.


"Maaf Bu, siapa yang akan saya pijat? Ibu atau anaknya?" tanya wanita paruh baya itu yang merupakan dukun beranak.


"Anak saya Bu, tapi dia masih tidur. sebentar saya bangunkan dulu." Rara beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya.


Rara masuk ke kamarnya meninggalkan mereka berdua. dia akan membangunkan Baby Zie. niatnya Baby Zie akan diurut karena semalan terjatuh dari atas ranjang.


"Huwwwwaaaa atit Mah.... huuuwwaaaaa.." Baby Zie menangis karena masih merasakan sakit pada tubuhnya.


"Cup cup tenang sayang, nanti dipijat yah biar tidak sakit lagi." ucap Rara sambil mengangkat baby Zie dan membawa kedalam gendongannya.


Rara keluar dari kamar menghampiri suami dan tamunya.

__ADS_1


"Ayo Bu kita masuk ke dalam! sekarang saja Baby Zie di pijatnya." pinta Rara


"Baik Bu Rara" jawabnya lalu mengikuti Rara masuk kedalam kamar untuk memijat Baby Zie.


__ADS_2