
Zivana dan Alvin sudah datang ke kediaman Dirgantara. Mereka di sambut hangat oleh Bu Rara.
"Selamat datang anak-anak Mamah," ucap Bu Rara.
"Mamah sama siapa nih di rumah?"
"Tuh ada Eza yang baru datang juga sama istri dan anaknya. Ayo kita kesana!" ajak Bu Rara.
Alvin dan Zivana mengikuti Bu Rara menuju ke ruang keluarga. Mereka duduk di hadapan Eza dan Lina.
"Wah ada si cantik Alana, hallo cantik," ucap Zivana menirukan suara anak kecil.
"Hallo juga Mamah Rayan," ucap Lina sambil tersenyum menatap Zivana dan Rayan secara bergantian.
"Kak, coba saja kita bukan Kakak adik, pasti Rayan sama Alana sudah di jodohkan," ucap Eza.
"Ih, Kakak si ogah, masa dapat besan tengil seperti kamu."
"Ih Kakak Mah gitu amat sama Eza."
"Hahaha Kakak bercanda kok," ucap Zivana.
"Sebenarnya kita datang kesini karena ada berita bahagia loh," ucap Alvin.
Semuanya menatap ke arah Eza.
"Apa Za? Kamu mau bagi-bagi thr yah?" tanya Zivana.
"Enak saja thr, hutang saja masih belum lunas. Jadi Eza itu mau memberitahukan jika saat ini Lina sedang hamil."
Bu Rara terlihat bahagia karena dia akan menambah cucu lagi.
"Wah, Mamah senang sekali Lin. Nanti bakalan rame nih rumah Mamah. Kalau kalian pada main semua kesini."
"Selamat Bro, hebat juga ternyata." ucap Alvin kepada Eza.
"Hebat dong, Kak. Kan Kak Alvin yang ngajarin," ucap Eza.
__ADS_1
"Hus kalian jangan baca seperti itu. Nanti tidak dapat jatah loh dari istri kalian." ucap Bu Rara.
"Memang tidak dapat jatah, Mah. Puasa panjang karena Zie hamil." ucap Alvin
Mereka masih lanjut mengobrol. Eza dan Lina juga lumayan lama berada di sana.
°°°
Setelah Eza dan Lina pulang, Zivana memilih untuk membereskan baju dan barang-barang lainnya. Dia di bantu oleh suaminya. Sedangkan Baby Rayan bersama Bu Rara.
"Ah capeknya," gumam Zivana sambil merenggangkan otot-otot tangannya.
"Mas pijit yah, sayang." Alvin mendekati istrinya lalu memijat bahunya.
"Terima kasih, Papah dedeh."
"Sama-sama, sayang." ucap Alvin
Setelah selesai di pijat, Zivana memilih beralih tiduran di atas tempat tidur. Alvin juga menemani istrinya.
Tok tok
"Mas, ada yang ketuk pintu tuh," ucap Zivana.
"Iya, Mas juga dengar. Mas mau bukain pintu dulu yah." Alvin beranjak dari atas tempat tidur.
Alvin membuka pintu kamarnya. Ternyata yang datang itu Bu Rara dengan menggendong Rayan.
"Ada apa, Mah? Rayan rewel yah?" tanya Alvin.
"Tidak kok, Rayan tidak rewel. Mamah cuma mau kasih tahu kamu kalau karyawan kamu datang tuh cariin kamu."
"Siapa?"
"Tio," ucap Bu Rara.
"Ya sudah, nanti Alvin temuin."
__ADS_1
"Kalau begitu Mamah pergin dulu," Bu Rara kembali pergi dari hadapan Alvin.
Alvin bicara dulu kepada istrinya jika dia akan menemui Asisten Tio yang datang ke rumahnya. Zivana membiarkan suaminya pergi. Sedangkan dia akan segera tidur.
Alvin duduk di hadapan Asisten Tio.
"Ada apa Tio? Tumben kamu datang?" tanya Alvin.
"Saya mau tanya sesuatu sama Pak Alvin," ucap Asisten Tio.
"Apa itu?"
"Apa Pak Alvin tahu dimana alamat rumah Desi?"
"Desi? Memangnya kamu tidak tahu alamat rumahnya? Bukannya kalian dekat, bisa dong tanya lewat WA atau telfon," ucap Alvin.
"Saya tidak punya nomornya," ucap Asiten Tio.
"Astaga, kirain sudah pacaran loh. Tapi malah tidak punya nomor telfonnya. Kalau begitu aku tanya sama Zie dulu," Alvin kembali beranjak dari duduknya.
Alvin melihat istrinya yang sudah tertidur. Dia mau membangunkannya tapi tidak tega. Karena ini hanya untuk sekedar bertanya. Dia memilih untuk mengambil ponsel milik istrinya dan mencari nomor Desi. Dia langsung mengirimkan nomor itu kepada Asisten Tio.
Alvin kembali menemui Asisten Tio.
"Bagaimana Tio? Apa pesan yang saya kirim sudah di baca?"
"Sudah, Pak. Terima kasih banyak." Asisten Tio terlihat senang.
"Sama-sama," jawab Alvin.
"Kalau begitu saya pergi dulu, Pak. Maaf sudah mengganggu waktu istirahatnya."
"Silahkan, tidak mengganggu kok."
Asisten Tio segera pergi setelah dia berpamitan.
Sepertinya Tio mulai bucin," batin Alvin, lalu dia kembali lagi ke kamarnya.
__ADS_1
°°°