Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 79


__ADS_3

"Kak Aldo? Jadi Kak Aldo yang menculik Rayan?" Zivana tidak menyangka jika yang menculik anaknya itu Aldo. Karena yang dia tahu jika Aldo itu lelaki yang baik.


Aldo melangkah mendekati Zivana. Lalu dia melemparkan sebuah map kepada Zivana.


"Apa ini?" Zivana mengambil Map yang terjatuh di dekat kakinya.


Zivana membuka Map itu. ternyata di dalam isinya surat perjanjian.


"Apa-apaan ini? Kenapa Zie harus berpisah sama Mas Alvin segala?"


"Itu syaratnya agar kamu bisa mengambil anak kamu. Aku berjanji, aku akan menjadikan kamu istriku dan kita hidup bahagia." ucap Aldo


"Tidak akan pernah! Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah meninggalkan Mas Alvin demi Kak Aldo," Zivana mendekati anaknya dan hendak menggendongnya. Namun dia kalah cepat, karena dua body guard Aldo sudah memegang kedua tangannya.


"Lepas," Zivana memberontak namun dia tidak bisa melepaskan diri.


Aldo mendekati Zivana. Dia berdiri dengan jarak yang sangat dekat. Aldo membisikan sesuatu ke telinga Zivana.


"Hanya satu tanda tangan, sayang. Ayolah tanda tangani surat perjanjian ini," bisik Aldo sambil sedikit menghirup aroma harum dari rambut Zivana.


Zivana menjauhkan wajahnya dari Aldo.


"Jangan dekat-dekat!" Zivana menginjak kaki Aldo.


"Aww... Ternyata kamu galak juga, sayang." Aldo sedikit meringis karena merasa sakit.


"Bos, kita apakan dia?" tanya salah satu body guard yang sedang memegang tangan Zivana.


"Jangan apa-apain dia, jangan sampai lecet. Karena saya tidak suka wanitaku lecet sedikitpun." ucap Aldo


"Baik Bos," ucapnya.


Cuih


Zivana meludah di depan Aldo.


"Kamu sangatlah keras kepala, sayang." ucap Aldo lalu dia menatap kedua body guardnya. "Lepaskan dia! Ambil tasnya dan kalian keluar dari ruangan ini! Termasuk kamu," ucap Aldo sambil menatap wanita muda yang sedang menjaga Baby Rayan.


Kini kedua body guard dan wanita itu sudah keluar dari ruangan. Begitu juga dengan Baby Rayan yang sudah ikut keluar.


Aldo mengunci pintu, lalu dia kembali mendekati Zivana.

__ADS_1


"Jika kamu tidak mau menurut juga, terpaksa aku akan memaksamu, sayang." Aldo membelai rambut panjang Zivana.


Zivana masih diam sambil menatap ke samping. Dia tidak mau menatap Aldo yang kini ada di depannya.


Aldo mendekatkan wajahnya, namun Zivana langsung menampar pipinya.


"Aww, kamu semakin berani saja. Jangan salahkan aku jika aku memaksamu, sayang. Aldo mendorong Zivana sehingga dia terjatuh ke tempat yang tadi di duduki oleh Baby Rayan.


"Jangan sentuh aku!" Zivana berteriak kepada Aldo.


Aldo sudah berhasil mengunci pergerakan Zivana. Dia mendekatkan wajahnya lalu berbisik di telinga Zivana.


"Aku tahu jika kamu bukanlah wanita virgin, tapi aku tidak perduli. Yang pasti aku akan memilikimu seutuhnya.


"Jangan," Zivana berteriak sangat keras saat Aldo menyingkap dres yang di pakai olehnya.


Aldo mendaratkan tangannya di paha mulus itu. Baru juga akan berbuat lebih, mereka mendengar pintu yang di dobrak dari luar.


Brak


Alvin masuk ke dalam dan melihat Istrinya sedang di lecehkan.


Bugh bugh


Alvin memukul Aldo beberapa kali. Aldo mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


"Alvin, hanya suami yang bodoh. Ah sayang sekali kamu datang sekarang. Padahal tadi baru juga aku akan menikmati Istrimu." ucap Aldo


Plak


Alvin menampar sebelah pipi Aldo.


"Sekali lagi kamu berbicara seperti itu, aku lempar kamu dari atas gedung ini." ucap Alvin


Alvin mendekati Istrinya lalu menggandeng tangannya dan mengajaknya keluar dari ruangan itu.


"Sayang, kamu jangan menangis lagi. Mas sudah ada disini," Alvin menghapus air mata yang keluar dari sudut mata Istrinya.


Zivana masih trauma, dia tidak menyangka jika dia hampir saja di lecehkan. Alvin masih memeluk Istrinya dan mencoba untuk menenangkannya.


"Kak, jangan menangis lagi dong. Memangnya tidak malu nih di lihatin Rayan." ucap Eza yang kini sedang menggedong Baby Rayan.

__ADS_1


Zivana melepaskan diri dari pelukan suaminya. Dia menoleh ke belakang dan melihat anaknya bersama Eza.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Zivana mengambil Baby Rayan yang ada di gendongan Eza.


Zivana men*ciumi anaknya dan memeluknya erat.


"Mamah takut sekali jika harus kehilangan kamu, sayang." ucap Zivana


"Loh, mereka kabur," Alvin menatap ke tempat dimana dia berhasil menghajar anak buah Aldo.


"Biarkan saja, nanti kita bisa melaporkannya ke polisi," ucap Alvin.


"Tapi kita tidak punya bukti apa pun loh," ucap Eza.


"Sudah biarkan saja, lebih baik sekarang kita pergi dari sini," ucap Zivana.


Alvin menatap Eza yang berdiri tak jauh darinya.


"Za, kamu gendong Rayan yah. Kakak mau membantu memapah Zie." kata Alvin


"Baik Kak," Eza mengambil Rayan yang berada di gendongan Zivana.


Mereka segera pergi dari sana. Eza hanya menggendong Rayan sampai di dekat mobil. Dia memberikannya lagi kepada Zivana lalu dia segera masuk ke dalam mobilnya.


Alvin menatap Istrinya yang terlihat diam sambil menatap ke luar mobil.


"Sayang, kamu jangan takut lagi yah." Alvin mengusap punggung tangan istrinya.


Zivana menatap suaminya yang juga sedang menatapnya.


"Aku hampir di lecehkan, Mas." Zivana meneteskan air matanya.


Alvin menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia memeluk Istrinya yang sedang menangis. Dia mengusap punggung Istrinya dan mencoba untuk menenangkannya.


"Sudah sayang, jangan menangis lagi. Kasihan nih anak kamu ikut nangis." Alvin melepaskan pelukan dari istrinya. Lalu dia mengambil anaknya yang ada di pangkuan Istrinya.


"Cup cup sayang, jangan ikut menangis dong." Alvin mencoba menenangkan anaknya yang menangis.


"Biar aku saja, Mas." Zivana mengusap air matanya yang menetes di sudut matanya. Lalu dia menenangkan anaknya agar tidak menangis lagi.


°°°°

__ADS_1


__ADS_2