Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_112


__ADS_3

Putri melihat keempat orang berjalan menuju ruangan atasannya. dia yang melihat Rara ingin menyapanya. namun dia urungkan saat dia melihat wanita yang ada disamping Rey.


Pantas saja Kak Rey jatuh hati. wanita itu cantik sekali. bahkan pemampilannya juga seperti Rara. mungkin memang Kak Rey menyukai wanita yang sholehah seperti Rara. tak dapat Rara, dia dapat yang mirip-mirip sepertinya." gumam Putri sambil menatap Ayu.


"Ekhm" deheman seseorang menyadarkan Putri yang masih bergelut dengan pikirannya.


"Eh, Kak Rio, ada apa?" tanya Putri


"Saya hanya mau mengajak kamu makan siang." ucapnya


"Hm, gimana yah" Putri tampak bingung.


"Ya sudah kalau tidak mau. saya tidak memaksa kok." kata Rio sambil menatap lekat wajah Putri. lalu dia membalikan badannya dan hendak melangkah pergi.


"Eh tunggu! aku mau kok." pada akhirnya Putri menerima ajakan Rio.


Dari pada aku disini, nanti yang ada disuruh ke ruangan Bos. aku tidak sanggup jika melihat kebersamaan Kak Rey dan istrinya." batin Putri


Di dalam ruangan


Rara dan Ayu melayani suami mereka dengan baik. bahkan kini mereka saling suap-suapan adu keromantisan.


"Sayang" ucap Juna kepada istrinya.


"Iya, Kenapa Mas?" tanya Rara


"Nanti setelah selesai makan, bagaimana jika kita beristirahat di dalam sana." Juna menunjuk kamar pribadi yang ada di dalam ruangan itu.


"Itu ruangan apa?" tanya Rara


"Itu kamar, sayang" jawabnya


"Isshh, habis makan mau ke kekamar, ngapain?"


"Ya istirahat sayang, memangnya ngapain lagi."


"Yang ada kalau habis makan kita tiduran di kamar, nanti perutnya buncit." ujar Rara


"Hahaha Kak Juna buncit beneran nanti." kata Rey menertawakan Juna


"Hey, seneng banget kamu Rey." Juna menatap tajam adiknya.


"Ada-ada saja sih Kakak, masa habis makan langsung ke kamar."


Rara dan Ayu hanya tersenyum melihat tingkah keduanya. memang tidak heran jika Juna dan Rey sudah biasa seperti itu.


Juna dan Rey mengantarkan istri mereka sampai di parkiran dapan. semua karyawan yang melihat mereka memberikan hormat. mereka juga menyapa sambil menundukan pandangnnya. apalagi kedua resepsionis tadi, mereka yang terkenal ramah dimata Juna, sekarang malu sendiri karena kejadian tadi.


"Hati-hati yah sayang." ucap Juna lalu mengecup kepala istrinya.

__ADS_1


"Iya Mas, Mas juga kerjanya jangan kecapean."


Juna dan Rey kembali ke dalam setelah melihat kepergian istrinya.


Saat ini Bu Farah sedang arisan bersama teman sosialitanya. dia juga mengajak Baby Zie. karena Baby Zie merengek ingin ikut.


"Hallo Jeng" sapa Bu Farah yang baru datang.


"Eh Jeng Farah, lama tidak kelihatan. bagaimana sakitnya sudah sembuh?" tanya salah satu dari mereka.


"Alhamdulilah, sedikit mendingan. oh iya, kenalin ini cucu saya." Bu Farah mengenalkan Baby Zie kepada mereka semua.


"Wah cantik sekali cucunya. pasti Ibunya juga cantik." puji yang lainnya.


"Ngomong-ngomong, menantu Jeng Farah itu anak pengusaha mana? saya kok baru denger anak Jeng Farah menikah dan sudah punya anak sebesar ini." sahut yang lainnya karena merasa kepo.


"Menantu saya dari kalangan biasa." Bu Farah berkata jujur agar mereka tidak kepo dan malah menyelidiki tentang keluarganya.


"Hah, yang benar saja? pantas saja nikahnya sembunyi-sembunyi." ucapnya


"Tidak sembunyi-sembunyi kok, hanya saja belum resepsi."


"Apa jebol duluan makannya tidak di publikasikan?" tanyanya lagi


"Huss, kalau ngomong jangan asal. Ayo kita mulai saja arisannya." sahut yang lainnya karena tidak ingin ada pertengkaran diantara mereka.


Bu Farah hanya diam, memang selalu ada konsekuensinya jika menikah dengan orang yang bukan dari kalangannya. namun dia sudah menerimanya. terserah orang berkata apa, tapi yang penting anak-anaknya bahagia.


°°°


Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. yaitu hari resepsi pernikahan Juna dan Rey. resepsi di lakukan di kediaman Dirgantara. sebenarnya Bu Farah menyarankan agar acara resepsi di gelar di hotel saja. namun Rara dan Ayu menolak. mereka tidak mau acara yang terlalu mewah. cukup yang seerhana dan berkesan saja, itu pintanya.


Rara dan Ayu sudah di rias oleh perias ternama di kotanya. mereka terlihat sangat cantik. walupun sudah beranak satu, namun pesona Rara masih terlihat. bahkan para tamu pria tak berhenti menatapnya.


"Sayang, kau lihatlah! semua pria disini menatapmu. awas saja yah kamu nanti dapat hukuman karena sudah menggoda mereka." ujar Juna


"Menggoda bagaiman sih, Mas? dari tadi aku diam saja loh." ucap Rara


"Tetap saja nanti kamu dapat hukuman dari Mas. tunggu saja setelah acara ini selesai." ucap Juna sambil menyinggingkan senyumannya.


Semua tamu menikmati hidangan mereka. sambil melihat keluarga Dirgantara yang sedang berfoto. Putri juga datang bersama Rio. mereka memakai pakaian yang senada dan tampak serasi. padahal itu hanya kebetulan saja mereka memakai pakaian dengan warna yang sama.


Setelah selesi berfoto, mereka duduk di pelaminan sambil menunggu tamu yang akan memberikan selamat. sedangkan Bu Farah menyambut tamu yang datang. dari pihak keluarga Rara dan Ayu tidak ada yang datang. karena mereka memang sudah tidak mempunyai keluarga. padahal Rara masih mempunyai Ibu, tapi mereka sudah lama putus hubungan.


Akhirnya acara yang begitu melelahkan telah selesai. Mereka memilih untuk kembali ke kamar masing-masing.


" Zie kenapa menangis?" tanya Bu Farah sambil menggendong Baby Zie menuju kamarnya.


"Zie mau sama Mamah" rengeknya

__ADS_1


"Zie sama Nenek saja yah. biasanya juga tidur bareng Nenek loh." ujar Bu Farah mencoba membujuk cucunya.


Baby Zie hanya menggelengkan kepalanya. Bu Farah sebenarnya tidak mau mengganggu Rara dan Juna yang sedang berduaan. namun ini juga kemauan Baby Zie yang ingin bersama orang tuanya.


Toktok


Bu Farah mengetuk pintu kamar anaknya.


Di dalam kamar Juna mencoba mengabaikan ketukan pintu itu. dia terus fokus dengan kegiatannya. sedangkan Rara sudah menegur suaminya agar menghentikan sejenak kegiatannya.


"Mas, berhenti dulu! itu ada yang ketuk pintu." pinta Rara


"Baru saja mulai sayang." jawab Juna sambil melanjutkan aksinya.


"Tapi ahh Mas, sebentar!" pintanya dengan sedikit suara sexy. karena kebetulan merasa geli dengan kelakuan suaminya.


"Sttt baru juga pemanasan. ya sudah, Mas coba lihat kedepan. kamu rapihkan pakaian kamu dulu." pinta Juna kepada istrinya.


Juna memakai lagi baju atasannya. dan juga, Rara mengancingkan piyamanya yang sudah terbuka semua.


Cklek


Juna melihat Bu Farah dan Baby Zie yang sedang berdiri.


"Ada apa Mah?" tanya Juna


"Begini Nak, Zie rewel ingin bareng kamu dan Rara. tidak apa-apa bukan jika malam ini dia tidur bareng kalian?" tanya Bu Farah


"Tapi--" ucapan Juna terpotong saat Rara terlebih dahulu menimplai perkataan mertuanya.


"Tidak apa-apa kok Mah, biar Baby Zie tidur sama kita."jawab Rara


Juna yang mendengar jawaban istrinya, langsung memandang dengan tatapan memohon.


Hadeuh sayang, sttt gagal deh malam ini enal-enak." Juna menatap Rara sambil menggeleng-gelangan kepalanya.


Setelah mengantar Baby Zie, Bu Farah kembali ke dalam kamarnya.


Hm, Mas Juna seperti kebakaran jenggot jika sedang menahan hasrat seperti itu." batin Rara sambil menatap perubahan raut wajah suaminya.


Rara dan Baby Zie segera merebahkan diri dikasur. Juna menghampiri Rara dan ikut tiduran di samping Baby Zie.


Tengah malam Rara merasakan aneh dalam dirinya. dia merasakan jika ada seseorang yang menyentuh bagian sensitifnya. Rara membuka mata dan melihat suaminya sedang memainkan bagian sensitifnya.


"Mas lagi ngapain?" tanya Rara lirih. karena disampingnya ada anaknya yang sedang tidur.


"Mas sudah tidak tahan sayang." ucap Juna


"Tapi ada Baby Zie disini loh." ujar Rara

__ADS_1


"Kamu tenang saja, kita main cantik."


Juna mengajak Rara untuk duduk di sofa yang ada di kamar itu. mereka melakukannya disana dengan pakaian atas mereka yang tidak dilepas. takutnya jika Baby Zie tiba-tiba terbangun. Rara beberapa kali membekap mulutnya agar suara sexynya tidak terdengar.


__ADS_2