
Satu bulan kemudian
Ternyata sudah satu bulan Zivana dan Aldo saling mengenal. namun Zivana belum juga memberikan jawaban untuk Aldo. tapi niatnya hari ini Zivana akan memberikan jawaban untuk Aldo. ya, walaupun hatinya belum sepenuhnya mencintai Aldo, namun dia akan belajar perlahan untuk mencintai Aldo dan menghapus Alvin dari ingatannya.
Saat ini Zivana sedang berpamitan dengan ke dua orang tuanya.
"Assalamu'alaikum" ucap seseorang dari balik pintu yang ternyata adalah Alvin.
"Waalaikum'salam," jawab Pak Juna dan Bu Rara.
Alvin langsung masuk ke dalam rumah. dia melihat Zivana yang sudah lama tidak dia temui. ternyata Zivana semakin cantik.
Pak Juna melihat Alvin yang terus menatap Zivana. dia tahu jika Alvin sebenarnya mencintai Zivana.
"Ada apa Vin?" Pak Juna bertanya kepada Alvin sehingga Alvin mengalihkan arah pandangnya. dia tak lagi memandang Zivana.
"Mau bicara penting Pah eh Om," ucap Alvin lalu berjalan mendekati Pak Juna. Alvin langsung duduk di depan Pak Juna dan Bu Rara. sedangkan Zivana sudah pergi karena merasa mual menghirup aroma parfum Alvin.
Hoek hoek
Mas Alvin pakai parfum apaan sih, kok baunya menyengat sekali." gumam Zivana sambil menutupi hidungnya. Zivana kembali melanjutkan langkahnya. dia masuk ke dalam mobilnya. niatnya dia akan mengemudi sendiri.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" Pak Juna menunggu Alvin mengatakan perkataannya.
"Begini Om," ucap Alvin namun sejenak dia menghentikan perkataannya.
"Panggil Papah saja," ucap Pak Juna
"Iya Pah, jadi setelah saya selidiki beberapa rekan kerja ayah saya di masa lalu, dari mereka tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Ayah saya." kata Alvin
Pak Juna mulai berfikir kemungkinannya yang terjadi.
"Begini Vin, coba kamu selidiki orang terdekat kamu yang mungkin tidak suka dengan saya atau ayah kamu. mungkin bisa mulai dari mantan kekasih ayahmu, mantan kekasih Ibumu atau Ibu tirimu. ya intinya orang terdekat mereka yang kemungkinan bisa kita jadikan tersangka." ucap Pak Juna
"Bisa juga sih, tapi saya tidak tahu mantan mereka."
"Kalau mantan Ibu tirimu sih itu saya," ucap Pak Juna
"Ekhm ekhm mantan," Bu Rara berekspresi merajuk.
"Mamah jangan cemburu dong, lagian itu masa lalu," Pak Juna memutar wajah Istrinya ke hadapannya sehingga mereka saling tatap.
"Tidak kok," ucap Bu Rara yang memang tadi hanya berpura-pura merajuk.
"Alvin baru tahu kalau Papah ini mantannya Tante Luna," ucap Alvin di sela-sela obrolan suami istri itu.
"Sudah Vin, jangan bahas itu lagi, nanti ada yang tambah cemburu," ucap Pak Juna sambil menoleh menatap Istrinya.
"Tidak kok Pah, teruskan saja ngobrolnya," ucap Bu Rara
__ADS_1
"Ini juga sudah cukup kok, sepertinya Alvin mau langsung pergi saja."
"Kamu baru datang loh," ucap Pak Juna sambil menatap Alvin.
"Iya Pah, tapi Alvin harus segera menyelesaikan permasalahan ini keburu Zivana di miliki orang."
"Ya sudah, semoga kamu bisa mengusut kasus ini sendirian Nak. Papah tidak mau membantumu karena ini menyangkut mantan." ucap Pak Juna sambil menoleh menatap Istrinya.
"Kok lihatinnya ke Mamah sih?"
"Tidak kok, mungkin hanya perasaan Mamah saja," jawab Pak Juna
"Kalau begitu Alvin pamit dulu," Alvin beranjak dari duduknya lalu dia bersalaman dengan Pak Juna dan Bu Rara.
°°°
Saat ini Zivana sudah sampai di taman untuk bertemu dengan Aldo. karena memang mereka janjian di taman.
"Jadi, apa yang mau kamu sampaikan?" Aldo bertanya kepada Zivana.
"Mau memberikan jawaban untuk Kak Aldo," ucap Zivana
"Jawaban apa?"
"Jawaban saat Kak Aldo menyatakan perasaan kepadaku," jawab Zivana
"Coba katakan!" Aldo sudah merasa penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh Zivana.
"Kamu kenapa?"
"Entahlah, aku mual sekali," ucap Zivana
"Aku belikan minum dulu yah," ucap Aldo sambil menatap wajah Zivana yang sedikit pucat.
"Aku ikut," Zivana berdiri dari duduknya. baru juga dia melangkah, namun matanya berkunang-kunang, pandangannya gelap dan Zivana langsung tak sadarkan diri. untung saja Aldo meraih tubuhnya sehingga Zivana tidak jatuh ke tanah.
"Zie, kamu kenapa?" Aldo terlihat panik melihat Zivana yang sudah tak sadarkan diri.
Aldo langsung menggendong Zivana dan membawanya menuju ke mobil. Aldo langsung mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.
Saat ini mobil yang di kendarai Aldo sudah sampai di depan rumah sakit harapan mulia.
Aldo langsung turun dari mobil dan menggendong Zivana ke dalam. namun Zivana terbangun di gendongan Aldo.
"Aku dimana ini?"
"Kamu di rumah sakit, tadi kamu pingsan," ucap Aldo
"Terus ini mau kemana?"
__ADS_1
"Mau di periksa Zie, bentar aku panggil perawat dulu," Aldo menurunkan Zivana dan mendudukannya di kursi tunggu. lalu dia memanggil perawat untuk membantunya membawa Zivana.
Aldo datang dengan seorang perawat yang mendorong kursi roda.
"Ayo naik!" ucap Aldo kepada Zivana.
"Aku sudah tidak apa-apa kok."
"Kamu harus di periksa loh," kata Aldo
"Tapi aku tidak mau," Zivana menolak untuk di periksa.
"Kenapa?"
"Aku sudah tidak apa-apa kok, kita pulang saja," ucap Zivana
"Lebih baik Nona di periksa dulu saja," ucap perawat yang saat ini berdiri di depan Zivana.
"Tidak mau, aku tidak apa-apa kok," ucap Zivana
"Maaf yah Kak, teman saya ini sedikit keras kepala. kalau gitu saya pulang saja, mohon maaf sekali lagi." ucap Aldo yang merasa tak enak hati.
"Tidak apa-apa Pak, tapi kalau Nona ini sakit lagi lebih baik di periksa."
"Baik, tapi lain kali," jawab Zivana
Zivana langsung beranjak dari duduknya. dia berjalan keluar dari rumah sakit di bantu oleh Aldo yang memapahnya.
Aldo langsung mengantarkan Zivana pulang. rencana mereka jalan-jalan hari ini gagal karena Zivana pingsan.
Bu Rara melihat Zivana sudah kembali pulang.
"Kok cepat sekali pulangnya?" tanya Bu Rara
"Iya Mah, tidak jadi pergi," jawab Zivana berbohong karena tidak mau Ibunya khawatir.
"Mah," Zivana memanggil Ibunya dan Bu Rara menatapnya.
"Ada apa sayang?"
"Tadi Mas Alvin ngapain ke sini?"
"Cuma ketemu dengan Papahmu kok, biasa urusan para lelaki. kamu tidak usah tahu."
"Oh gitu yah," ucap Zivana
"Iya sayang," jawab Bu Rara
Setelah selesai mengobrol dengan Ibunya, Zivana langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
__ADS_1
°°°