Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part.138


__ADS_3

Setelah lelah berkeliling di Mall, Baby Zie merengek ingin pulang. padahal Rara lapar sekali. tapi tidak mungkin jika singgah dulu untuk makan.


"Sayang, kamu capek?" Juna bertanya kepada Istrinya yang sedang menggendong Baby Zie.


"Rara lapar Mas" jawab Rara


"Mas belikan kamu roti dulu yah. kalau mau makan disini nanti Baby Zie tambah rewel."


"Iya Mas, Rara tunggu di mobil yah."


"Iya sayang" ucap Juna lalu dia langsung pergi membelikan roti untuk istrinya.


Juna merasa kasihan melihat istrinya terlihat kelaparan. bahkan Rara menghabiskan 3 bungkus roti sekaligus.


"Sayang, kamu lapar sekali yah?"


"Iya nih Mas, Rara akhir-akhir ini sering merasa lapar."


"Masa sih sayang, kayak orang hamil saja sering lapar." ucap Juna


Rara langsung menatap suaminya.


"Mas, aku terakhir kali haid kapan yah?"


"Iish kok tanya sama Mas sih. emm tapi biasanya minggu-minggu ini." ucap Juna


"Tapi bulan ini sudah mau habis Mas. bentar lagi akhir bulan loh."


"Berarti telat dong yang. jangan-jangan kamu hamil."


"Rara tidak tahu Mas"


"Kita mampir dulu yah di Apotek beli tespack. sekalian mau beli cemilan apa nih mumpung kita masih di luar. biasanya orang hamil banyak keinginannya." ucap Juna


"Belum tentu Rara hamil loh Mas. tapi kita coba dulu di cek." ucap Rara


"Cemilannya tidak ada yang diinginkan?" tanya


"Tidak ada Mas, Rara tidak ingin apa-apa." jawab Rara


"Ya sudah sayang, tapi kalau ingin apa-apa ngomong yah sama Mas."


"Iya Mas"


Makasih yah Mas kamu begitu perhatian. semoga saja aku beneran hamil. dan aku ingin di kehamilanku yang kedua ini bisa mendapatkan kasih sayang penuh darimu." batin Rara


Rara kembali mengingat saat dulu dia hamil Baby Zie. Rara berjuang sendirian. dengan ekonomi yang pas-pasan bahkan kurang. jika bukan karena bantuan Bu Susi, mungkin hidupnya akan lebih menyedihkan.


Juna menghentikan mobilnya saat dia melihat Apotek di pinggir jalan.


"Sayang, kamu tunggu di mobil saja yah. biar Mas yang beli tespack."


"Makasih Mas" ucap Rara


"Sama-sama sayang" lalu Juna membuka pintu mobilnya.


Juna kembali membawa beberapa tespack yang dia beli.


"Kok banyak sekali sih Mas belinya?"


"Takut nggak sesuai kayak di film-film."


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Harusnya munculnya garis dua malah garis satu. dan sebaliknya seperti itu."


"Iisshh Mas korban sinetron." ujar Rara


"Ya siapa tahu seperti itu." ucap Juna


Mereka sudah sampai di kediaman Dirgantara. Juna menggandeng Istrinya masuk ke dalam. sedangkan tangan satunya menggendong Baby Zie.


"Sayang" Juna memanggil Istrinya.


"Iya Mas" Jawab Rara


"Mas tagih janjimu nanti malam awas loh yah kalau kamu kabur-kaburan." ancam Juna


"Oke Mas, Rara nggak mungkin kabur kok."


"Eh, kamu tidak mencoba tespack dulu?" tanya Juna


"Besok pagi saja Mas setelah bangun tidur. biar lebih akurat hasilnya." timpal Rara


"Baiklah sayang, oh iya kamu masih lapar tidak?" tanya Rara


"Sedikit sih"


"Mau makan apa biar Mas ambilin." Juna tampak perhatian kepada Istrinya.


"Mau makan nasi goreng buatan Mas." Rara mengutarakan keinginannya.


"Tapi Mas tidak bisa masak loh sayang." Juna bingung karena tidak bisa masak.


"Nggak mau tahu" Rara tidak mau ada penolakan.


"Baiklah sayang" Juna berlalu pergi meninggalkan Rara yang masih disana. Juna akan meminta diajari oleh Bu Farah untuk membuat nasi goreng.


"Mah, ajarin Juna bikin nasi goreng dong." ucap Juna meminta tolong kepada Bu Farah.


"Ada angin apa ini? tumben sekali mau masak." ucap Bu Farah merasa heran.


"Rara yang memintanya Mah. sepertinya keinginan dedek bayi."


"Rara hamil?" Bu Farah terkejut sekaligus bahagia mendengar berita ini.


"Belum di tes Mah, mudah-mudahan sih hamil beneran."


"Kenapa kalian tidak langsung ke Rumah Sakit untuk periksa?"


"Besok saja Mah setelah Rara di tes pakai tespack. lagian tadi Rara sudah kelaparan sekali saat di Mall."


"Terus kalian cari makan atau tidak?"


"Tidak Mah, Baby Zie rewel ingin cepet-cepet pulang." ucap Juna


"Kasihan sekali menantu Mamah kelaparan. ya sudah ayo kita ke dapur." ajak Bu Farah


Bu Farah menyiapkan bahan-bahan untuk membuat Nasi goreng.


"Nah sekarang kamu ulek semua bumbu ini sampai halus." Bu Farah meminta Juna untuk emngulek bumbu yang sudah di siapkannya.


"Oke Mah" Juna mulai mengulek bumbu itu.


"Sudah Mah, terus gimana lagi?"


"Panaskan minyak di atas wajan." pinta Bu Farah

__ADS_1


Juna menuruti perintah Ibunya.


"Eh itu kebanyakan." Bu Farah mehat Kuna menuangkan minyak cukup banyak. Bu Farah mengambil lagi minyak itu agar takarannya pas.


Juna sudah memasukan semua bumbu. namun karena apinya terlalu besar, semua bumbu itu gosong.


Bu Farah yang habis cuci tangan mencium bau gosong. lalu dia menghampiri Juna.


"Kenapa jadi seperti ini?"


"Juna tidak tahu Mah." ucap Juna sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Bu Farah segera mengecilkan apinya. lalu memasukan telur ke dalam wajan.


"Eh jangan dulu" Bu Farah melarang Juna saat hendak memasukan nasi.


"Kenapa Mah?" tanya Juna yang tidak tahu.


"Itu telurnya juga baru di masukin. kalau nasinya langsung di masukin juga nanti bau amis." ujar Bu Farah


Juna hanya menurut perkataan Ibunya.


"Ternyata masak susah juga." gumam Juna


Nasi goreng buatan Juna sudah matang. Juna mencicipi dan rasanya hambar.


"iishh nggak enak" gumam Juna


"Mas nasi gorengnya mana?" Rara menghampiri suaminya karena menurut Rara, suaminya itu sudah cukup lama di dapur.


"Ini sayang"


Rara langsung merampas piring berisi nasi goreng yang sedang di pegang suaminya.


"Eh tunggu Ra" Juna akan mengatakan jika rasanya tidak enak. tapi Rara terlebih dahulu melangkah pergi.


Juna melihat Rara tampak lahap menikmati masakannya.


"Ra, itu nggak enak loh. kok kamu lahap sekali memakan masakan kayak gitu."


"Ini enak kok, seperti nasi goreng yang di jual di restoran." Rara mengacungkan satu jempolnya.


Aneh sekali." batin Juna


Rey dan Putri baru keluar dari kamar mereka.


"Wih jam segini sudah basah saja itu rambut." sindir Juna


"Iya dong, lagi proses." jawab Rey


"Oh iya Kak, aku sama Putri rencananya mau bulan madu." ucap Rey


"Wah asyik tuh, kalau gitu Mas juga mau ikut." ujar Juna


"Tapi Baby Al sama Inara juga ikut." sahut Putri


"Lah itu namanya liburan keluarga dong bukan bulan madu." ucap Juna


"Ya bisa di bilang bulan madu ala mantan duda." kata Rey


"Hahahahahaha" semua yang ada disana menertawakan Rey.


Akhirnya mereka semua memilih untuk ikut dengan Rey dan Putri. sekalian liburan keluarga juga.

__ADS_1


__ADS_2