Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 45


__ADS_3

Bu Rara sudah di beritahu jika saat ini anak dan menantunya berada di rumah sakit. Bu Rara segera pergi ke rumah sakit di antar oleh supirnya. namun terlebih dahulu Bu Rara pergi ke rumah Alvin untuk mengambil pakaian untuk Alvin, Zivana, dan pakaian bayi untuk cucunya.


Saat ini Bu Rara sudah berada di depan rumah Alvin.


Tok tok


Kebetulan Bi Salma yang membukakan pintunya.


"Eh Bu Rara, silahkan masuk!"


"Terima kasih Bi, oh iya Bi, tolong bantu saya untuk menyiapkan pakaian Zie, Alvin, dan pakaian bayi karena Zie hari ini lahiran."


"Wah lahiran? saya baru tahu loh Bu, tapi bukannya kandungan Neng Zie masih tujuh bulan?"


"Iya Bu, ada sedikit musibah yang membuatnya melahirkan lebih awal. tapi ada berita buruknya Bi, Alvin keadaannya kritis karena kena tembak saat menyelamatkan Zivana.


"Astagfirullah'aladzim, semoga keadaan Tuan Alvin baik-baik saja," ucap Bi Salma


"Iya Bi, mudah-mudahan," ucap Bu Rara


Hanya sebentar mereka mengobrol. kini keduanya langsung ke kamar yang di tempati Alvin dan Zivana untuk menyiapkan pakaian yang akan di bawa ke rumah sakit.


Bi Salma juga ikut ke rumah sakit bersama Bu Rara.


Kini keduanya sudah sampai di rumah sakit.


mereka langsung menuju ke tempat dimana Zivana di rawat.


Tok tok


Bu Rara mengetuk pintu ruangan itu. kebetulan suaminya yang membukakan pintunya.


"Assalamu'alaikum, Pah," ucap Bu Rara


"Waalaikum'salam, ayo masuk!" ajak Pak Juna.


Kini Bu Rara dan Bi Salma masuk ke dalam ruangan itu.


"Pah, Zie tidur?"


"Zie masih belum sadar Mah," jawab Pak Juna


"Kalau Alvin dimana?"


Pak Juna mendekati Istrinya lalu berbisik.


"Ada di ruangan sebelah," bisik Pak Juna karena tak mau jika Zivana mendengar. walaupun belum sadar, tapi bisa saja tetap mendengarnya.


"Papah kenapa pakai bisik segala?"

__ADS_1


"Nanti takut kalau Zie dengar Mah."


"Oh iya,kalau cucu kita dimana?"


"Di ruang bayi Mah," jawab Pak Juna


Hanya sebentar Bu Rara disana. dia pamit kepada suaminya untuk menengok Alvin dan cucunya. Bi Salma juga ikut bersama Bu Rara.


Bu Rara meminta Farizki dan Pak Juna untuk pulang. sedangkan Eza tetap disana.


Bu Rara kembali ke ruangan Zivana. namun Bi Salma tetap di ruangan Alvin karena tidak ada yang menjaga Alvin.


Tok tok


Bi Salma mendengar ketukan pintu dari luar ruangan. Bi Salma membukakan pintu itu. ternyata yang datang Bu Luna dan Sela.


"Silahkan masuk Bu!"


"Terima kasih Bi," ucap Bu Luna


"Sama-sama Bu," jawab Bi Salma


Sejak pertama masuk, Sela langsung mendekati Alvin yang sedang terbaring di atas ranjang.


Ini kesempatan aku untuk menunjukan rasa cintaku ke Kak Alvin. aku akan merawatnya hingga Kak Alvin sembuh. pasti Kak Alvin akan senang dan bersimpati kepadaku." batin Sela sambil terus membelai wajah tampan Alvin.


Hm, sepertinya uler keket mulai beraksi." batin Bi Salma sambil menatap tingkah Sela.


Bi Salma memang kurang menyukai Sela. beberapa kali Alvin pernah membawanya ke rumah. bahkan Sela pernah menginap di rumah Alvin.


°°°


Zivana sudah sadar dan hal pertama yang dia lihat adalah ruangan rumah sakit yang saat ini dia tempati. Zivana melihat ke perutnya yang ternyata sudah tidak buncit lagi.


"Mah, dimana anakku?"


"Kamu sudah sadar Nak?" Bu Rara yang sedang mengobrol bersama Eza, sejenak menghentikan obrolan mereka saat mendengar suara Zivana.


Bu Rara dan Eza mendekati ranjang Zivana.


"Biar Eza panggilkan Dokter," ucap Eza


"Iya Za," Bu Rara menatap Eza yang sedang melangkah keluar dari ruangan itu.


"Mah, anakku dimana?" Zivana kembali bertanya kepada Ibunya.


"Ada di ruang bayi Nak, karena anak kamu lahir prematur jadi harus di hangatkan di Inkubator.


"Tapi tidak apa-apa kan anakku?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa Nak, anak kamu sehat kok."


"Laki-laki atau perempuan Mah?"


"Laki-laki Nak," jawab Bu Rara


"Alhamdulilah," Zivana merasa senang karena anaknya sedang dalam keadaan baik-baik saja.


"Yang lain kemana Mah? Mas Alvin mana?"


"Ayahmu dan Farizki sudah pulang Nak, kalau Alvin--" Bu Rara tampak terdiam memikirkan alasan yang pas agar Zivana tidak curiga. Bu Rara tidak mau Zivana mengetahui Jika Alvin sedang terbaring keritis.


"Sedang di luar kota Kak," sahut Eza yang kini sudah kembali ke ruangan itu.


"Benarkah? kok jahat sekali sih Mas Alvin, eh tunggu-tunggu kok sepertinya Zie ingat sesuatu yah."


Bu Rara khawatir jika Zivana mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.


"Sudah Nak, tidak usah di ingat-ingat," ucap Bu Rara


"Tapi Zie ingat jika Mas Alvin terkena tembakan Mah, setelah itu Zie tidak ingat apa-apa lagi."


Bu Rara mencoba merubah raut wajahnya agar Zivana tak curiga.


"Tidak apa-apa kok Nak, Alvin pingsan karena kaget. pelurunya tidak kena Alvin kok."


"Benarkah?" Zivana mencoba mengingat-ingat lagi namun tidak tidak mengingat


apa pun. karena saat Alvin pingsan, dia juga ikut pingsan.


"Iya Nak, sudahlah jangan mengingat


apa pun lagi, lagian itu semua tidak terjadi kok. lebih baik sekarang di periksa dulu sama Dokter." Bu Rara melihat Bu dokter yang berdiri di sebelah Eza.


Dokter itu mendekat ke arah Zivana. dan Zivana di tanya beberapa pertanyaan. Zivana juga di minta untuk menjaga pola makannya. dan menghindari beberapa makanan.


"Dok, apa saya sudah bisa melihat anak saya?" tanya Zivana


"Boleh, tapi harus pakai kursi roda. nanti saya suruh perawat untuk membawa kursi roda ke ruangan ini. sekalian saya permisi dulu." ucap Bu Dokter


"Baik Dok," ucap Zivana


Bu Dokter keluar dari ruangan itu dan menyuruh salah satu perawat membawakan kursi roda untuk Zivana.


Kini Zivana dan Ibunya keluar dari ruangan itu. mereka akan ke ruang bayi untuk melihat anak Zivana.


Zivana sudah tak sabar ingin melihat ketampanan anak pertamanya.


°°°

__ADS_1


__ADS_2