
Sela mencoba berbicara kepada Eza, jika dirinya ingin beristirahat di kamar. Eza mengantarkan Sela ke kamar. Padahal mereka sedang mengobrol asyik-asyiknya.
Eza kembali keluar kamar. Dia akan kembali ke ruang depan.
Sela menghubungi nomor Lina. Dia meminta Lina untuk membawakan dia makanan. Karena sebelum minum obat, Sela harus makan terlebih dahulu.
Tak lama, Lina membawa nampan berisi makanan untuk Sela. Kebetulan Lina berpapasan dengan Eza yang ingin ke toilet.
"Lin, itu untuk siapa?" tanya Eza sambil menghentikan langkahnya.
"Ini untuk Nona Sela," jawab Lina
"Biar saya yang bawakan, kamu kembali saja ke belakang," pinta Eza
"Baik Kak," Lina memberikan nampan yang sedang dia pegang kepada Eza.
Eza melangkah menuju ke kamar yang di tempati oleh Sela.
Tok tok
Eza mengetuk pintu kamar itu. Lalu dia membuka pintu kamar yang memang tidak terkunci.
Eza melihat Sela sedang tiduran di atas ranjang.
"Sel, nih makanan kamu," Eza mendekati Sela, lalu dia menaruh nampan yang dia bawa di meja kecil dekat ranjang. Eza duduk di pinggiran ranjang.
"Kok kamu yang bawa?"
"Iya, aku ingin melayanimu," jawab Eza
"Tidak usah repot-repot, lagian ada Lina yang mengurusku."
"Aku sama sekali tidak merasa di repotkan kok," ucap Eza, lalu dia beranjak dari duduknya. "Aku mau ke toilet dulu," Eza melangkah menuju ke toilet yang ada di kamar itu.
Sela menatap makanan yang di bawa oleh Eza. Dia mengambil piring yang sudah ada nasi yang tercampur langsung dengan sayur dan lauk. Dia mulai menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya.
Eza sudah keluar dari toilet. Dia menghampiri Sela yang sedang makan.
"Mau aku suapin?" Eza duduk di sebelah Sela.
"Tidak, aku maunya di nikahin," ucap Sela tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Kamu yakin?"
__ADS_1
"Tidak, aku hanya bercanda kok."
Eza masih menatap Sela. Dari raut wajahnya sama sekali tidak terlihat sedang bercanda.
Sela menatap Eza yang sedang berfikir.
"Tidak usah di fikirin, lagian tidak penting," ucap Sela sambil mengambil gelas berisi air putih.
Eza menatap Sela yang sedang minum.
"Bagiku ini penting, karena menyangkut masa depan anak kita," ucap Eza
"Kamu mau?" Sela menatap Eza yang duduk di sebelahnya.
"Tapi bagaimana dengan orang tuaku?"
"Aku tidak apa-apa kok jika kita menikah diam-diam, bahkan hanya secara siri juga tidak apa-apa," kata Sela
Yang penting aku bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya,' ucapnya lagi dalam hati.
"Nanti aku fikirkan lagi," Eza masih harus berfikir untuk mengambil keputusan yang tepat.
"Jangan kelamaan, nanti keburu aku mencari ayah baru untuk anak ini," ucap Sela sambil mengusap perutnya yang sudah terlihat buncit.
Sela merasa senang karena kali ini Eza merespon ucapannya yang mengatakan ingin di nikahi. Ya, walaupun dia belum tahu apa keputusan yang akan di ambil oleh Eza.
°°
°°
Eza masih memikirkan permintaan Sela. Dia juga sudah meminta pendapat Alvin. Sebenarnya Alvin bingung mau mendukung Eza bersatu dengan Sela atau tidak. Apalagi kalau Istrinya tahu, ini bisa jadi masalah untuknya.
Zivana melihat suaminya yang duduk sendirian di ruang keluarga. Alvin terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Mas, kamu kenapa?" Zivana menepuk bahu suaminya.
"Eh, ada apa?" Alvin refleks menoleh ke samping. Dia menatap Istrinya yang sedang berdiri di dekat sofa.
"Kamu memikirkan apa sih Mas? Seperti orang lagi mikir hutang saja," ucap Zivana
"Enak saja, mana mungkin Mas punya hutang. Malu-maluin loh kalau Mas punya hutang."
"Ya kali saja, habisnya Mas Alvin diem terus seperti tadi. Atau jangan-jangan Mas sedang memikirkan selingkuhan?"
__ADS_1
"Enak saja, ngapain selingkuh kalau punya istri sudah cantik seperti ini," Alvin menarik Istrinya sehingga saat ini jatuh ke pangkuannya.
"Aduh, Mas Alvin main tarik-tarik saja sih?"
"Biarin, sayang. Yang penting bukan tarik ulur perasaan," kata Alvin
"Ish ish, kalau Mas Alvin berani mainin perasaan Zie, lihat saja apa yang akan Zie lakukan," Zivana mencoba mengancam suaminya.
"Tidak kok, sayang. Mas selalu setia sama kamu," Alvin memeluk Istrinya yang sedang duduk di pangkuannya.
Tring
Zivana mendengar ada notif pesan masuk dari ponsel suaminya. Zivana hendak mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Namun dia kalah cepat dengan Alvin yang sudah mengambil ponsel miliknya terlebih dahulu.
"Siapa sih yang kirim pesan? Masa Istri sendiri tidak boleh lihat?"
"Ini pesan dari operator kok, tidak penting," ucap Alvin kepada Istrinya.
"Benarkah? Mana coba, aku mau lihat," Zivana mencoba mengambil ponsel yang sedang di pegang oleh suaminya.
"Permisi Nona Zie, ini Rayan rewel," perkataan Desi menghentikan Zivana yang akan mengambil ponsel suaminya.
"Sini sama saya," Zivana berdiri lalu mengambil Baby Rayan yang ada di gendongan Desi.
Aman, selamat nih, untung saja ada Desi.' batin Alvin
Alvin melihat Istrinya pergi bersama Desi. Dia segera membaca pesan masuk yang belum dia buka. Ternyata itu Eza yang mengirim pesan. Eza kembali bertanya pendapat Alvin mengenai hal yang terakhir kali dia tanyakan.
"Kalau itu memang keputusanmu, Kakak hanya bisa mendukungmu. Tapi kalau nantinya kamu menyesal, Kakak tidak akan ikut campur."
Sekiranya seperti itu balasan pesan untuk Eza.
Tring
Eza kembali membalas pesan Alvin.
Eza
"Kakak datang ke Vila sebagai saksi nikah. niatnya akhir minggu depan."
Alvin mengiyakan permintaan Eza. Alvin langsung menghapus semua pesan dari Eza. Dia takut jika Istrinya nanti membuka ponselnya dan membaca pesan itu.
°°°
__ADS_1