
Desi dan Asisten Tio sudah pergi dari rumah Zivana. Tadinya Desi tidak mau pulang bersama Asisten Tio. Namun karena memaksa, akhirnya dia mau. Saat ini keduanya sedang ada di perjalanan.
"Ini mau kemana? Perasaan ini bukan jalan ke rumahku?" Desi bertanya kepada Asisten Tio yang sedang fokus mengemudi.
"Kita akan ke rumahku," ucapnya
"Ngapain? Aku tidak mau, tolong putar balik saja!" ucap Desi.
"Kamu ikut saya untuk malam ini, tapi terserah kalau untuk besok."
Desi kembali merengek untuk putar balik atau di turunkan di pinggir jalan, namun Asisten Tio tidak menghiraukan perkataannya.
Kini mobil yang di kendarai Aisisten Tio sudah sampai di depan rumah mewah. Dia meminta Desi turun dan mengajaknya untuk masuk.
Saat ini mereka berdua sudah berada di ruang keluarga. Asisten Tio bertanya beberapa hal kepada Desi.
"Siapa ayah kandung anak yang kamu kandung? Apa statusmu dengan lelaki itu? Kenapa kamu dulu pamitnya pulang ke kampung, tapi kenapa masih ada di kota? Apa selama ini niat kamu hanya bersembunyi dari kami semua?" tanya Asisten Tio.
Entah Desi mau menjawab pertanyaan yang mana. Yang pasti, kalau urusan ayah dari anak yang di kandungnya, dia sudah tidak mengharapkan lagi jika akan bersatu. Karena mereka beda kasta, dan belum tentu lelaki itu dan keluarganya mau menerima Desi.
Desi menghirup nafasnya dalam-dalam lalu mulai berkata.
"Memang sebelumnya aku di desa, aku menjaga nenek yang sakit-sakitan. Bahkan uang yang di kasih Pak Alvin juga habis untuk biaya berobat Nenek dan bayar hutang kepada rentenir. Pada akhirnya nenek meninggal, dan aku tidak punya sispa-siapa lagi di desa. Namun aku di usir warga karena ketahuan hamil," ucap Desi.
Astaga kok aku bisa keceplosan bicara hamil," batin Desi.
"Siapa ayah anak itu?"
"Itu tidak penting," ucap Desi.
"Apa itu aku?"
"Bukan," Desi terlihat gugup.
"Jangan berbohong! Sekarang ikut aku!" Asisten Tio menarik tangan Desi, sehingga ikut dengannya. Kini keduanya berada di depan kamar.
"Kita ngapai di sini?" tanya Desi, saat mereka sudah berada di dalam kamar.
Asisten Tio tidak menjawab. Dia malah melepaskan satu persatu kancing kemejanya. Desi yang melihat itu merasa takut.
"Aku akan menidurimu jika kamu tidak mau mengaku."
"Bukan, itu bukan anakmu."
Srak
Asisten Tio merobek pakaian yang di kenakan oleh Desi.
"Jangan! Jangan lakukan itu!" air mata Desi menetes begitu saja.
__ADS_1
"Cepat mengaku!"
"Iya, ini anakmu, sekarang puas?" Desi hendak melangkah pergi. Namun Asisten Tio menahannya. Dia memeluk Desi dari belakang sambil menghirup aroma Desi yang lama tidak dia rasakan. Asisten Tio juga mengusapkan tangannya di perut buncit itu.
Sekarang Asisten Tio dan Desi saling berhadapan.
"Terima kasih, aku mencintaimu," ucap Asisten Tio.
Namun Desi masih diam tidak membalas perkataan Asisten Tio.
"Kamu kenapa?"
"Aku merasa tidak pantas berada di sampingmu. Aku hanya anak yatim piatu dari keluarga miskin. Apakah orang tuamu akan menerimaku?"
"Aku juga yatim piatu," ucapnya.
"Maaf," ucap Desi.
"Tidak apa-apa kok. Oh iya, aku akan menikahimu secepatnya."
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Aku mau kita menikah setelah anak ini lahir, karena kalau menikah di saat hamil itu tidak sah."
"Aku tidak mau merepotkanmu," ucap Desi.
"Ini sudah kewajibanku untuk memberikan tempat tinggal yang layak untuk kamu."
"Baiklah," akhirnya Desi mau untuk tinggal di rumah itu.
°°°
Pagi ini Asisten Tio terlihat bahagia. Dia melangkah memasuki kantor dengan mengembangkan senyumannya. Bahkan dia menyapa semua karyawan yang berpapasan dengannya. Mereka yang melihat itu merasa bingung. Karena Asisten Tio yg sedikit cuek, kali ini terlihat berbeda.
Alvin dan Zivana melangkah memasuki kantor. Mereka mendengar bisik-bisik karyawannya.
"Ini ada apa yah?" tanya Alvin yang kini sudah menghentikan langkahnya di belakang karyawaran yang sedang bergosip.
"Eh Pak Alvin, Bu Zivana, ini kita lagi membicarakan Asisten Tio. Pagi ini dia terlihat berbeda.
"Benarkah?"
"Iya Pak" jawabnya. "Ya sudah Pak, saya permisi dulu," Mereka pergi dari hadapan Alvin dan Zivana.
"Kira-kira ada apa yah dengan Kak Tio," gumam Zivana.
"Kita akan tahu kalau kita sudah bertemu dengannya, sayang." ucap Alvin
__ADS_1
Kini keduanya melanjutkan langkah mereka menuju ke lantai paling atas.
Alvin dan Zivana memilih untuk menghampiri Asisten Tio di ruangannya. Alvin sengaja masuk tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Keduanya melihat Asisten Tio sedang duduk sambil senyum-senyum sendiri. Bahkan dia tidak menyadari kedatangan Alvin dan Zivana.
"Mas, ada apa dengan Kak Tio?" tanya Zivana dengan sedikit berbisik di telinga suaminya.
"Mas juga tidak tahu, sayang." ucap Alvin
"Ekhm," Alvin berdehem di depan Asisten Tio.
"Desi," spontan Asisten Tio menyebut nama Desi karena dia terkejut.
"Oh, jadi Kak Tio sedang melamunkan Desi?" ucap Zivana sambil menatap Asisten Tio.
"Eh, sejak kapan Pak Alvin dan Nona Zie ada disini?"
"Sejak kamu senyum-senyum sendiri," kata Alvin.
Asisten Tio hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Apa yang kamu pikirkan? Coba cerita sama kami?" Kini Alvin duduk di kursi depan meja kerja Asisten Tio. Begitu juga dengan Zivana yang ikut mendudukan dirinya di sebelah suaminya.
"Kak Tio naksir istri orang sih?" tanya Zivana.
"Desi belum menikah," ucap Asisten Tio.
"Lalu itu anak siapa?" tanya Zivana.
"Anakku, dan aku baru tahu kemarin." jawab Asisten Tio.
"Astaga, ternyata kalian selama ini sudah di luar batas," kata Alvin. "Oh iya, bagaimana rasanya? katanya kalau janda lebih berpengalaman?" tanya Alvin.
Asisten Tio mengacungkan jempolnya.
Zivana menepuk pelan tangan suaminya.
"Mas Alvin mau cari janda?"
"Tidak mau, kan sudah ada kamu," ucap Alvin lalu memeluk istrinya.
"Ekhm ekhm," Asisten Tio berdehem.
"Mas, kasihan tuh Kak Tio mau peluk tidak ada pasangannya," ucap Zivana.
"Kita pergi dulu mau enak-enak, kamu kalau mau, tinggal panggil Desi kesini," kata Alvin lalu dia dan istrinya keluar dari ruangan itu.
Benar juga kata Pak Alvin, tapi aku dan Desi belum menikah," gumam Asisten Tio.
°°°°
__ADS_1