Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_49


__ADS_3

Juna keluar dari mobil dengan menggendong istrinya. baru juga akan masuk ke dalam rumah, Luna sudah terbangun duluan.


"Sayang, kok aku digendong sih?" tanya Luna yang baru membuka kedua matanya.


"Tadi aku ke tokomu tapi kamu lagi tidur sayang. sepertinya kamu kecapean deh." ucap Juna kepada istrinya.


"Mas turunin dong, aku sudah bangun loh." Luna meminta Juna menurunkan dia dari gendongannya.


"Nanggung sayang, Mas gendong kamu sampai dalam saja yah." Juna mengabaikan perkataan Luna yang memintanya untuk di turunkan.


Juna sudah sampai ke dalam ruang keluarga. disana ada Bu Farah yang sedang duduk sambil membaca sebuah majalah. Bu Farah melihat anak dan menantunya yang tampak romantis.


"Aduh anak-anak mamah romantis sekali." Bu Farah ikut bahagia melihat kedekatan anak dan menantunya.


"Iya dong Mah, kita itu memang selalu romantis." ucap Juna menimpali perkataan ibunya.


Juna mendudukan Luna di sofa ruang keluarga. mereka bergabung dengan Bu Farah yang sedang membaca majalah.


"Juna, kamu bawa istrimu lagi ke dokter yah. bukankah bulan ini Luna belum melakukan pemeriksaan." Bu Farah memang menyuruh menantunya untuk konsultasi dengan dokter kandungan setiap bulannya.


"Iya Mah besok Juna antarkan Luna periksa." Juna berniat mengajak istrinya periksa besok.


"Tapi Luna takut mengecewakan Mamah." ucap Luna kepada Bu Farah. jujur saja Luna takut jika dirinya belum hamil. biasanya setelah periksa dari dokter dia selalu tertekan dan kepikiran semua hal yang diinginkan ibu mertuanya itu.


"Tidak usah cemaskan itu sayang, yang penting kita sudah berusaha." Juna mencoba menenangkan istrinya.

__ADS_1


" Iya sayang, Baiklah besok aku mau kok pergi periksa." Luna sudah memantapkan hatinya jika besok dia akan pergi periksa.


"Ya sudah cepat kalian ke kamar." Bu Farah menyuruh anak dan menantunya untuk ke kamar mereka.


Juna dan istrinya beranjak pergi dari hadapan Bu Farah. mereka berjalan menuju kamarnya.


Keesokan harinya, Juna dan istrinya sudah bersiap untuk pergi ke dokter kandungan. Luna tampak cemas jika hasilnya tetap mengecewakan. dia tidak mau pusing lagi mendengar ocehan mertuanya yang sudah tidak sabar menginginkan cucu.


Juna dan Istrinya sudah berada di dalam mobil. Juna mengendarai mobilnya sendiri. dia memang belum punya supir pribadi kecuali Rio. tapi Rio juga hanya mengantarnya untuk urusan pekerjaan. karena Rio Asistennya di perusahaan bukan sebagai supir. Juna juga merasa tidak enak jika kemana-mana harus diantar oleh Rio.


"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Juna yang melihat istrinya tampak cemas.


"Tidak sayang, aku baik-baik saja kok." ucap Luna menjawab perkataan suaminya.


Beberapa puluh menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit yang biasa mereka kunjungi untuk periksa.


"Kamu yakin ingin masuk sendiri?" Juna bertanya kepada Luna yang bersikukuh tidak mau ditemani masuk.


"Iya sayang, aku masuk sendiri saja. biar kamu disini saja yah." Luna menyuruh suaminya untuk menunggunya saja diluar.


"Baiklah sayang, tapi ingat apapun hasilnya kamu tidak boleh sedih yah." Juna mencoba memberi semangat kepada istrinya walaupun Juna sendiri juga ikut pusing memikirkan perkataan ibunya.


Luna yang sudah masuk ke dalam ruangan disambut ramah oleh dokter. mereka memang sudah saling mengenal sebelumnya. karena mereka dulunya pernah bersekolah di SMA yang sama.


Luna di suruh untuk tiduran dan dokter Rani memulai pemeriksaan.

__ADS_1


Luna tampak senang ketika dokter Rani memberitahukan jika dirinya hamil. itu berarti ibu mertuanya sudah tidak lagi menekannya. tapi dia takut karena sepertinya yang dia kandung adalah anak Devan bukan anak dari Juna suaminya. dan dia juga mengingat waktu berhubungan dengan Devan saat beberapa hari setelah selesai datang bulan. sedangkan saat itu suaminya sedang berada di luar kota. dan Juna pulang dua minggu kemudian.


Luna yang baru keluar dari ruangan pemeriksaan segera menghampiri suaminya yang sedang duduk menunggunya.


"Sayang" Luna memanggil suaminya dengan senyum mengembang.


"Ada apa sayang? kenapa kamu tampak bahagia?" Juba bertanya kepada istrinya karena dia melihat ekspresi istrinya yang tampak bahagia.


"Aku hamil Mas, akhirnya aku hamil." Luna langsung memeluk suaminya.


"Terima kasih sayang akhirnya kamu bisa memenuhi keinginan Mamah." Juna mengecup singkat kening istrinya.


Mereka segera beranjak pergi sambil bergandengan tangan. dan senyum dari keduanya tampak mengembang. itu terlihat dari rona wajah mereka yang menampakan kebahagiaan.


Di sisi lain Bu Susan sedang berjalan di lorong rumah sakit. dia habis dari ruangan Neneknya yang sedang di rawat di rumah sakit yang sama dengan Luna melakukan pemeriksaan.


tanpa sengaja dia mendengar pembicaraan suami istri itu. Bu Susan mengingat Rara yang hidup penuh perjuangan. apalagi sekarang ada anak yang harus dia urus dan dia penuhi kebutuhannya. dia tak habis pikir melihat Juna masih bisa tersenyum bahagia seperti itu. sedangkan Rara istri pertama sekaligus istri yang tidak dianggap berjuang hidup sendirian untuk memenuhi semua kebutuhannya dan kebutuhan anaknya.


Kasihan sekali nasibmu Ra." gumam Bu Susan sambil melihat sepasang kekasih yang baru beranjak pergi.


Bu Susan sempat berfikir apakah ada lelaki lain yang akan mau dengan Rara setelah mengetahui status Rara yang tidak jelas. apalagi jika Rara mengatakan pernah menikah siri. pasti orang beranggapan jika dia hanya beralasan saja untuk menutupi dirinya yang hamil di luar nikah.


°°°°


Happy reading

__ADS_1


VOTE LIKE KOMEN.nya saya tunggu🤗🤗


__ADS_2