
Tak terasa hari sudah malam. Juna dan Rara sudah masuk ke dalam kamar mereka. kebetulan Baby Zie ikut tidur bersama Inara. Baby Zie punya keinginan tidur menemani Al untuk malam ini.
Juna menagih janjinya kepada Rara.
"Sayang, Mas mau menengok dedek bayi."
"Silahkan Mas" Rara yang sudah berjanji dari siang langsung memberi ijin kepada suaminya.
Juna langsung memulai aksinya. tak bisa di pungkiri jika Rara juga menyukai itu.
"Mas pelan-pelan, perut Rara sakit." ucap Rara merengek
Juna langsung menghentikan aksinya.
"Maaf yah sayang" Juna mengusap perut rata istrinya lalu menciuminya.
"Mau Mas panggilkan dokter?" Juna merasa khawatir kepada Istrinya.
"Tidak usah Mas, besok saja kita periksa." jawab Rara
"Ya sudah, sekarang kita tidur saja." Juna langsung memposisikan diri tiduran di samping istrinya sambil memeluknya.
"Maaf yah Mas cuma sebentar." Rara merasa tak tega karena mereka hanya melakukannya cuma sebentar. tidak sampai berjam-jam seperti biasanya.
"Tidak apa-apa sayang, Mas mengerti kok. besok kita konsultasi ke dokter." Juna mengecup kening Istrinya sekilas.
Mereka tidur dengan posisi saling berpelukan.
Tak terasa hari sudah pagi. Rara terbangun karena mendengar adzan subuh berkumandang. Rara segera bersiap untuk membersihakan diri. Rara mengambil testpack yang dia beli sebelum memasuki kamar mandi.
Rara keluar dari kamar mandi dengan raut wajah yang bahagia. ternyata benar yang dua duga jika saat ini dia sedang hamil.
"Mas bangun dong Mas" Rara mencoba membangunkan suaminya.
"Emm masih ngantuk sekali sayang." guma Juna yang masih menutup kedua matanya.
"Mas, aku hamil" ucap Rara langsung pada intinya.
"Hamil?" spontan Juna langsung membuka kedua matanya.
"Kamu beneran hamil sayang?"
"Iya Mas, nih lihat sendiri garis 2." Rara memperlihatkan testpack yang dia pegang kepada suaminya.
"Terima kasih sayang" Juna menciumi wajah Istrinya. dia sangat bahagia mendengar kehamilan Istrinya.
"Mas mandi dulu yang sayang." Juna mengecup kening Istrinya lalu dia bangkit dari ranjang.
"Iya Mas, tapi jangan lama-lama yah. Rara nungguin Mas untuk shalat berjama'ah loh."
"Iya sayang, Mas tidak akan lama kok." ucapna lalu segera berjalan menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Juna dan Rara sudah bersiap akan ke Rumah Sakit untuk periksa kandungan. Juna juga menunda meeting penting hari ini demi menemani Istrinya ke Rumah Sakit.
Kini keduanya sudah sampai di Rumah Sakit. setelah mendaftar, Rara duduk mengantri bersama Ibu-ibu yang juga sedang menunggu pemeriksaan.
Akhirnya sekarang giliran Rara untuk di periksa. Rara berbaring dan Dokter mulai memeriksa.
"Dok, apa itu anak saya?" Juna bertanya saat di monitor terlihat titik kecil sebesar biji kacang.
"Iya Pak, coba perhatikan lagi itu ada dua janin di dalam perut istri anda."
"Dua janin Dok?" Juna terkejut begitupun Rara tak kalah terkejutnya.
"Benar Pak, Istri anda hamil kembar."
"Wah yang benar saja Dok, tapi saya tidak ada keturunan kembar Dok."
"Rara ada Mas, dulu Nenek Rara itu punya saudara kembar juga." sahut Rara
"Selamat Pak, Bu, dan selama kehamilan mohon di jaga. apalagi usia kandungan Ibu Mutiara masih 5 minggu."
"Siap Dok, saya akan menjaga Istri saya." Juna merengkuh Rara ke dalam pelukannya.
"Mas, Rara malu nih ada Dokter." ucap Rara sambil menatap Pak Dokter yang sejak tadi tersenyum menatap mereka.
Juna langsung melepaskan pelukannya. dia menggandeng Istrinya dan sekarang mereka duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Dokter.
"Sebentar, saya mau menuliskan resep vitamin untuk Ibu." Dokter tampak sibuk menulis beberapa macam vitamin yang harus di tebus oleh Rara di Apotek Rumah Sakit.
Setelah selesai menuliskan resep itu, Dokter memberikannya kepada Juna.
"Tidak Dok" jawab Rara
"Saya ada Dok" sahut Juna
"Silahkan Pak" ucap Dokter untuk mempersilahkan Juna bertanya.
"Begini Dok, tadi malam saya melakukan hubungan dengan Istri saya. tapi tiba-tiba Istri saya merasakan sakit di perutnya. apa itu berpengaruh dengan janinnya."
"Benar Pak, tapi untung saja janinnya baik-baik saja ketika tadi saya meneriksanya. tapi tolong Pak untuk di perhatikan. sebaiknya di usia kandungan yang masih muda jangan dulu melakukan hubungan suami istri. karena usia kandungan Bu Rara masih rentan. kalau mau melakukannya nunggu kehamilan Bu Rara menginjak usia 16 minggu ke atas." jelas Dokter
"Terima kasih Dok" jawab Juna
Sedangkan Rara tampak malu karena suaminya membahas urusan ranjang.
Juna dan Rara segera keluar dari ruangan itu setelah selesai pemeriksaan dan selesai bertanya berbagai pertanyaan kepada Dokter.
Juna dan Rara sudah berada di dalam mobil untuk pulang.
"Sayang, sebentar lagi rumah kita bakalan rame." ucap Juna membuka suara.
"Sekarang juga sudah rame Mas."
__ADS_1
"Tapi nanti akan lebih rame kalau kamu sudah melahirkan loh. apalagi nanti Putri juga pasti cepet hamilnya. secara tiap malam di gempur terus."
"Kayak kamu yah Mas"
"Apapan, Mas jarang tidur bareng kamu loh saat Al belum punya Baby Sister."
"Tapi sekarang sudah bisa kan Mas."
"Iya sayang, nanti setelah melahirkan kamu mau hamil lagi tidak?"
"Mas tidak kasihan jika aku hamil lagi?"
"Kasihan sih sayang, tapi Mas masih semangat untuk menghamilimu."
"iishh Mas mah yang di bahas itu terus."
"Hehehe namanya juga kebutuhan suami."
"Denger tuh kata Dokter kalau Mas jangan melakukannya dulu."
"Iya sayang, Mas akan menunggu kok walaupun sedikit tak sabar."
Mereka berbincang di sepanjang perjalannan. hingga tak menyadari jika kini sudah sampai di kediaman Dirgantara.
"Ahh apa yang Mas lakukan." Rara kaget saat Juna tiba-tiba menggendongnya saat Rara baru keluar dari mobil.
"Mas mau menggendong kalian bertiga. kasihan nanti anak kita kecapean." ucap Juna lalu melanjutkan langkahnya.
Putri dan Bu Farah yang sedang berada di rua keluarga heran karena tiba-tiba Juna datang dengan menggendong Rara.
"Juna, ada apa dengan Rara? apa dia sedang sakit?" tanya Bu Farah
"Tidak Mah, Juna hanya tidak mau jika mereka bertiga kelelahan."
"Siapa mereka bertiga?" tanya Bu Farah
"Rara dan anak kembarku." jawab Juna
"Wah selamat yah sayang, akhirnya kamu hamil lagi." ucap Bu Farah
"Selamat yah Ra, semoga kehamilanmu selalu sehat." sahut Putri ikut senang.
"Terima kasih Mah, Put." ucap Rara
Semoga saja aku juga cepat hamil agar Kak Rey tambah mencintaiku." batin Putri
"Sayang, kamu duduk disini yah sama mereka. Mas mau siap-siap ke kantor dulu. soalnya ada meeting penting yang terpaksa Mas tunda. dan kali ini tidak bisa di tunda lagi." ucap Juna
"Iya Mas, hati-hati yah."
"Iya sayang, oh iya Baby Zie dimana yah? kok Juna tidak melihatnya."
__ADS_1
"Di kamar sama Inara, katanya mau nemenin Al." jawab Bu Farah
"Ya sudah, Juna mau nengok Baby Zie dulu. sekalian mau langsung ke kamar." Juna berlalu pergi dari hadapan mereka.