
Saat ini di kediaman Bu Luna sangat rame. Banyak yang datang untuk berbela sungkawa. Eza dan keluarganya juga ada disana. Mereka ikut juga ke makam tempat Sela akan di kebumikan. Karena jaranya dekat, mereka berjalan kaki. Bu Luna masih menangis di pelukan Lina.
Prosesi pemakaman jenazah sudah selesai. Bu Luna tetap berjongkok disana sambil menatap foto anaknya yang di taruh di atas makam.
"Za, Mamah sama Papah pergi dulu yah," ucap Bu Rara kepada anaknya.
"Iya, Mah. Kalian duluan saja. Mungkin Eza nanti ikut ke rumah Bu Luna dulu."
Setelah berpamitan, Bu Rara dan yang lainnya langsung pulang.
Eza masih disana untuk menemani Bu Luna. Begitu juga dengan Lina yang masih berada disana.
"Bu, kita pulang yuk, lagian kasihan Alana di rumah sakit tidak ada yang menjaga," ucap Eza
"Kamu saja yang ke rumah sakit, Za. Ibu mau di rumah dulu untuk mengurus acara kirim doa nanti malam," ucap Bu Luna
"Baiklah," jawab Eza lalu dia menatap Lina. "Lin, kamu temani Bu Luna dulu. Untuk sekarang tugas kamu hanya menemani Bu Luna dan menjaga Alana. Jadi kamu tidak usah bekerja di Vila lagi."
"Tapi bagaimana dengan Ibuku?"
"Nanti di pindah kerja ke rumahku. Untuk yang bekerja di Vila, nanti bisa cari lagi penggantinya." ucap Eza
"Terima kasih, Kak Eza."
"Sama-sama," jawab Eza
__ADS_1
Mereka bertiga memutuskan untuk pergi. Terlebih dahulu Eza mengantar Bu Luna dan Lina pulang. Setelah itu, barulah dia pergi ke rumah sakit.
°°°
Zivana dan Alvin pergi ke kediaman Dirgantara. Saat ini mereka sudah sampai disana.
Zivana dan keluarganya saat ini sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Mamah kasihan sama Sela, walaupun dia itu anaknya Luna, tapi Mamah rasa dia anak yang baik." ucap Bu Rara
"Zie juga tidak menyangka jika Sela lebih mempertaruhkan hidupnya demi anaknya," sahut Zivana.
"Semua Ibu juga pasti akan melakukan itu, Zie." ucap Bu Rara
"Tapi Zie masih heran deh, itu Apartemen yang katanya di tempati oleh Sela. Itu Apartemen mewah loh, apa mungkin Eza yang menyewanya?"
"Benar juga, mana mungkin Eza punya uang, kecuali...." Zivana menatap Alvin yang duduk di sebelahnya.
"Kok lihatin Mas sih?"
"Bukan Mas Alvin kan yang meminjamkan uang ke Eza untuk menyewa Apartemen? Akhir-akhir ini Mas Alvin dekat loh sama Eza," ucap Zivana
Mungkin ini saatnya aku bicara jujur.' batin Alvin
"Sebenarnya itu Apartemen milik Mas," ucap Alvin
__ADS_1
"Apa? Jadi Mas Alvin membelikan Apartemen itu untuk Sela?" Zivana mengalihkan arah pandangnya. Dia tak lagi menatap suaminya.
"Bukan seperti itu, sayang. Mas hanya meminjamkannya. Kasihan loh Mas lihat Eza harus bolak-balik ke puncak untuk menemui Eza. Ya sudah Mas beli saja Apartemen yang lumayan dekat dari kantor." jelas Alvin
"Biar Mas lebih mudah ketemu," ucap Zivana
"Sayang, jangan ngambek dong. Ya, Sela itu memang masalalu Mas, tapi Mas sudah tidak punya rasa lagi sama dia. Mas hanya mencintaimu." Alvin memegang tangan kanan istrinya. Dia mengecup singkat punggung tangan istrinya.
"Baiklah, sekarang jual saja Apartemen itu. Lagian sudah tidak ada yang menempati."
"Jangan dong, sayang. Lebih baik untuk kita tempati saja. Lagian masih baru loh."
"Ya sudah kalau tidak mau, nanti Zie tinggal disini lagi sama Mamah," ucap Zivana.
"Hm, baiklah. Jangan ngambek dong, nanti Mas akan menjual lagi Apartemen itu," Alvin memeluk istrinya dari samping.
"Makasih, Mas." Zivana menghadap ke suaminya. Dia membalas pelukan suaminya.
"Sama-sama, sayang. Kalau untuk kamu, apa pun akan Mas lakukan."
"Ekhm, dunia serasa milik berdua," ucap Pak Juna
"Biarin, Pah. Papah kalau mau peluk Mamah, tinggal pelukan saja." ucap Zivana
"Tidak deh, sudah tua malu pelukan di tempat umum." ucap Pak Juna
__ADS_1
Hanya sebentar Zivana dan Alvin bertamu. Kini keduanya akan segera pulang karena mereka meninggalkan Rayan di rumah bersama Desi.
°°°°