Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 105


__ADS_3

Hari ini Asisten Tio berniat untuk ijin kepada Alvin. Dia sudah berdiri di depan ruangan Alvin.


Tok tok


Asisten Tio mengetuk pintu ruangan Alvin. Lalu dia segera masuk ke dalam.


"Maaf jika saya mengganggu, Pak. Saya mau bicara penting." ucap Asisten Tio


"Bicaralah!" pinta Alvin


"Niatnya saya hari ini akan pulang lebih awal, mungkin sekitar jam tiga. Karena saya ada urusan penting."


"Urusan apa?"


"Saya mau menemui Desi," ucap Asisten Tio.


Alvin memaklumi alasan Tio. Karena dia juga merasa kasihan selama ini Tio bekerja tak kenal waktu. Dia sengaja mengambil lembur agar waktu bersantainya sedikit. Itu semua karena dia tidak ingin terus-terusan mengingat Desi. Tapi Asisten Tio tidak bisa melupakan Desi begitu mudah.


"Boleh, saya kasih ijin." kata Alvin.


"Terima kasih, Pak." Asisten Tio merasa senang karena mendapat ijin dari Alvin.


"Sama-sama," ucap Alvin.


Zivana keluar dari toilet yang ada di ruangan itu. Dia melihat Asisten Tio sedang menghadap suaminya.


"Kak Tio, tumben Kakak ngobrol sama Mas Alvin, ada apa nih?"


"Ini loh sayang, Tio ijin pulang lebih awal. Katanya mau ketemu Desi." kata Alvin


"Wah, benarkah?" Zivana merasa senang saat suaminya menyebut nama Desi. "Ajak Kak Desi kesini yah nanti, Kak." ucap Zivana kepada Asisten Tio.


"Baik, Nona. Nanti saya akan bicara sama Desi," ucap Asisten tio.


Setelah selesai bicara, Asisten Tio berpamitan untuk keluar dari ruangan itu.


...


Tak terasa waktu berputar begitu cepat. Saat ini sudah pukul tiga sore. Asisten Tio membereskan meja kerjanya. Lalu dia bersiap-siap untuk pulang.


Kini Asisten Tio sudah berada di parkiran kantor. Dia langsung masuk ke mobilnya dan langsung mengemudikannya menuju ke tempat tinggal Desi.


Asisten Tio mengemudikan mobilnya melewati keramaian ibu kota. Untung saja jalanan tidak macet sehingga dia sampai lebih cepat. Dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia melihat wanita yang di cintainya sedang memulung. Bahkan Desi terlihat kecapean. Asisten Tio yang melihat itu merasa prihatin. Dia keluar dari mobil dan menghampiri Desi.


"Des," ucap Asisten Tio dari arah belakang Desi.


Desi menoleh ke belakang, lagi-lagi Asisten Tio mendatanginya. Desi mengambil karung besar berisi hasil pulung yang tergeletak di atas tanah. Dia hedak melangkah pergi, namun Asisten Tio menghentikan langkahnya.


"Kenapa kamu menghindariku? Apa salahku kepadamu? Maaf jika aku punya salah, tapi kamu jangan seperti ini."


"Aku tidak apa-apa, hanya saja aku sedang sibuk. Aku harus segera setor hasil pulung ini biar dapat uang." ucap Desi


"Ayo aku antar!" ucap Asisten Tio.


"Tidak usah, aku jalan kaki saja," ucap Desi.


"Kenapa menolak?"

__ADS_1


"Aku merasa tidak pantas," ucap Desi.


Asisten Tio mengambil karung berisi hasil pulung itu dari tangan Desi. Lalu dia memasukannya ke dalam bagasi mobilnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Desi hendak mengambil kembali karung miliknya. Namun keburu Asisten Tio menutup lagi bagasi mobilnya.


"Ayo ikut!" Asisten Tio menarik tangan Desi. Lalu menyuruhnya untuk masuk ke mobil.


Asisten Tio langsung mengemudikan mobilnya. Dia menatap Desi yang duduk di sebelahnya.


"Kita mau kemana?" tanya Asisten Tio.


"Belum tahu tujuannya tapi sudah jalan duluan," gumam Desi.


"Takut keburu kamu kabur," ucap Asisten Tio.


"Kita lurus saja, nanti dekat jembatan kita berhenti. Aku biasa jual hasil pulung


di sana."


Asisten Tio kembali fokus mengemudi.


Setelah selesai menjual hasil pulung, Desi menghampiri Asisten Tio yang menunggunya di pinggir jalan.


"Dapat berapa?" tanya Asisten Tio.


"Apanya?"


"Uang hasil penjualan," ucapnya.


"Tujuh ribu? Untuk apa uang segitu?"


"Lumayan untuk beli makan besok pagi. Kan lumayan nanti beli nasinya agak banyakan biar cukup untuk sore juga."


Asisten Tio tak menduga jika ternyata untuk makan saja, Desi kekurangan.


"Ayo masuk! Kita akan ke suatu tempat," ucap Asisten Tio.


"Kemana?"


"Ke rumah Pak Alvin, kebetulan Nona Zie sedang hamil besar. Apa kamu tidak mau menemuinya?"


"Mau, tapi..." Desi menatap pakaiannya yang terlihat lusuh apalagi jauh dari kata layak.


"Nanti aku belikan kamu pakaian dulu, sekalian kita mampir ke rumahku. Kamu harus mandi dulu."


"Biar aku ganti di rumahku saja," ucap Desi.


"Rumah mana? Rumah kardus," ucap Asisten Tio.


"Dari mana kamu tahu?"


"Itu tidak penting."


Kini keduanya sudah sampai di depan butik mewah. Asisten Tio mengajak Desi untuk turun, namun dia tidak mau karena malu. Akhirnya Asisten Tio turun sendirian. Dia akan membelikan pakaian untuk Desi.


Desi melihat Asisten Tio sudah kembali masuk ke mobil. Dia memberikan paper bag berisi baju kepada Desi. Lalu kembali mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya.

__ADS_1


°°°°


Kini Asisten Tio dan Desi sudah berada di perjalanan menuju ke kediaman Dirgantara. Sejak tadi Asisten Tio curi-curi pandang kepada Desi. Karena menurutnya Desi terlihat lebih cantik. Sedangkan Desi tampak memikirkan sesuatu. Dia harus mencari alasan jika Nanti dia di tanya siapa ayah dari anaknya.


Setelah cukup lama di perjalanan, akhirnya mereka berdua sudah sampai di depan kediaman Dirgantara. Keduanya segera keluar dari dalam mobil. Mereka melangkah mendekati pintu masuk.


Tok Tok


Desi mengetuk pintu rumah itu. Kebetulan yang membukakan pintunya Bu Rara.


Bu Rara menyuruh keduanya untuk masuk.


Kini mereka berdua duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.


"Mau ketemu Alvin sama Zie yah, sebentar Ibu panggil mereka dulu," Bu Rara pergi dari sana.


Kok Bu Rara seperti tidak mengenaliku, dulu kalau lihat aku pasti langsung menyapa," batin Desi.


Alvin dan Zivana mengikuti Bu Rara menuju ke ruang keluarga. Mereka melihat Tio duduk bersama dengan wanita hamil.


"Kak Desi," Zivana melihat mantan Baby sister anaknya sedang duduk di sebelah Asisten Tio. Memang penampilannya sedikit berbeda, tidak seperti dulu. Apalagi kulitnya terlihat lebih gelap.


"Desi? Memangnya dia Desi?" Bu Rara bertanya kepada anaknya.


"Iya, Mah. Memangnya Mamah tidak mengenali?"


"Tidak Zie, beda loh sama Desi yang sebelumnya. Apalagi sekarang sedang hamil." ucap Zivana


"Benarkan kamu Desi?" kini Bu Rara bertanya kepada Desi.


"Iya, Bu. Saya ini Desi," ucapnya.


Bu Rara menghampiri Desi lalu memeluknya.


"Lama yah kita tidak bertemu, Des."


"Iya, Bu." Desi merasa tenang berada di pelukan Bu Rara. Sudah sejak lama dia merindukan pelukan seorang ibu yang tidak pernah dia dapatkan dari ibunya. Sejak kecil dia hanya hidup bersama Neneknya.


Kini keduanya sudah tidak saling berpelukan.


"Kak Desi, Kakak sudah menikah dan hamil, tapi kok tidak undang Zie?" Zivana berekspresi merajuk di depan Desi.


"Maaf Nona," Desi hanya tersenyum sambil menatap Zivana.


"Sudah, kita jangan bahas ini! Lebih baik kita ngobrol-ngobrol saja," ucap Asisten Tio yang tidak mau melihat Desi sedih.


Alvin melihat jika ada sesuatu yang di sembunyikan dari raut wajah Tio. Namun dia akan bertanya nanti saja jika tidak sedang banyak orang seperti ini.


"Baiklah, Zie senang deh karena Ka Desi sedang hamil juga. Nanti anak kita harus di sekolahkan di sekolah yang sama nih," ucap Zivana.


"Boleh juga," ucap Desi.


Mereka melanjutkan lagi obrolannya. Desi merasa senang karena dia bisa bertemu lagi dengan Zivana.


Alvin mengajak Asisten Tio ke ruang kerjanya. Dia akan bertanya mengenai Desi.


°°°°

__ADS_1


__ADS_2