Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_47


__ADS_3

Luna pulang ke rumah suaminya dengan memakai taxi online. dia segera melangkah masuk ke dalam rumah itu. Bu Farah sedang di dapur membantu pembantunya memasak. dia melihat kedatangan menantunya.


"Baru pulang Lun?" tanya Bu Farah yang melihat menantunya hendak menaiki tangga menuju ke lantai atas.


"Iya Mah, ya sudah Luna ke atas dulu." lalu Luna terus menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Beberapa saat setelah kepulangan Luna, terlihat Juna yang baru datang memasuki rumahnya. Juna segera berjalan ke arah kamarnya.


Cklek ( Juna membuka pintu kamarnya.)


Dia melihat istrinya sedang duduk di pinggir ranjang sambil senyum-senyum melihat layar ponselnya.


"Kamu tersenyum melihat apa sayang?" tanya Juna kepada istrinya.


"Eh" Luna kaget mendengar suara suaminya.


Luna cepat-cepat menghapus isi pesan di ponselnya sebelum suaminya melihatnya. lalu dia segera mencari tayangan stand up komedi di youtube.


"Coba Mas lihat" Juna mengambil ponsel istrinya. ternyata istrinya sedang melihat stand up komedi di youtube.


"Mas kirain lihatin apaan, habisnya senyum-senyum sendiri dari tadi." lalu Juna kembali mengembalikan ponsel milik istrinya.


Luna membantu melepaskan dasi dan kemeja yang di kenakan suaminya. setelah itu Juna langsung beranjak untuk membersihkan diri.


Malam hari


Juna bersama istri dan ibunya akan makan malam bersama. Juna menarik kursi untuk di diduduki istrinya.

__ADS_1


seperti biasa, Luna mengambilkan suaminya nasi dan lauknya. tidak lupa dia menuangkan air minum untuk suaminya. lalu dia juga mengambil nasi dan lauk untuk dirinya.


Hoek hoek


Luna tiba-tiba merasa mual saat memakan kuah santan. dia merasa aneh karena tidak biasanya seperti itu. dia segera berlari menuju kamar mandi terdekat untuk memuntahkan makanannya.


"Juna,Cepat susul istrimu." Bu Farah menyuruh anaknya menyusul istrinya.


Juna melihat Luna yang masih memuntahkan isi perutnya. lalu dia membantu memijat dan mengoleskan minyak kayu putih di tengkuk istrinya.


"Kamu kenapa sayang? kok tumben muntah-muntah, apa kamu masuk angin?" tanya Juna kepada istrinya.


"Luna juga tidak tahu Mas, mungkin saja Luna memang masuk angin." ucap Luna sambil mengelap sudut bibirnya dengan tisu.


"Ya sudah ayo istirahat saja, Kamu mau makan pakai apa? biar nanti Mas bilangin ke bibi untuk memasakan untukmu." tanya Juna kepada istrinya.


"Ya sudah biar nanti Mas bicara sama bibi, ayo kita ke kamar." Juna mengajak istrinya ke kamar. Juna mengantarkan istrinya sampai ke kamar lalu dia berjalan ke arah dapur untuk meminta bibi memasakan nasi goreng permintaan istrinya.


Juna berniat kembali ke kamar dan membawa makanan miliknya. dia akan makan sambil menemani istrinya.


"Loh kamu mau kemana?" tanya Bu Farah yang sedang makan.


"Juna mau lanjut makan di kamar saja mah. kasihan Luna kalau tidak ada yang menemani." ucapnya sambil mengambil piring miliknya yang masih berisi makanan cukup banyak.


"Ya sudah, jangan lupa hubungi dokter keluarga untuk memeriksa istrimu." pinta Bu Farah kepada anaknya.


"Baik mah, kalau begitu Juna ke atas dulu."

__ADS_1


Juna langsung melangkah pergi menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, Juna kembali menyelesaikan makan malamnya yang sempat tertunda. beberapa saat kemudian bibi membawa nasi goreng yang di minta Luna. karena Juna sudah selesai makan, dia membantu menyuapi istrinya. setelah selesai menyuapi istrinya, Juna berniat untuk menghubungi dokter keluarganya untuk memeriksa Luna. tapi Luna menolak dengan alasan dia hanya kecapaian saja.


°°°°


Bu Susan berniat mengajak Neneknya ke kota. dia ingin jika neneknya itu mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit. sedangkan kalau hanya melakukan pengobatan di kampung tidak memungkinkan. karena di kampung hanya ada Klinik kecil. sedangkan Rumah Sakit jaraknya sangat jauh dari sana.


"Ra, saya berniat mengajak Nenek ke kota. saya ingin Nenek mendapatkan pengobatan di Rumah Sakit." Bu Susan membicarakan niatnya kepada Rara.


"Baiklah kalau itu niat Ibu, saya juga berharap agar Nenek cepat sembuh dari sakitnya." Rara juga merasa prihatin melihat Nenek yang sakit-sakitan.


"Kenapa tidak berobat disini saja Bu?" tanya Putri kepada Bu Susan.


"Disini Rumah Sakit sangat jauh Put. jika Nenek di rawat di Rumah Sakit, siapa yang akan menemaninya disana? sedangkan kalian juga punya kesibukan sendiri." Bu Susan tidak ingin jika terus membebani Rara dan Putri. sudah cukup mereka membantu merawatnya beberapa bulan terakhir ini.


"Baiklah jika itu keputusan Ibu, saya ikut mendukungnya." akhirnya Putri menyetujui niat Bu Susan.


"Kalian mau ikut saya ke kota apa tidak?" Bu Susan berniat mengajak Rara dan Putri.


"Saya akan menunggu usia Baby Zie satu tahun bu, baru saya akan mengajaknya pergi." Rara memang tidak tega jika harus membawa bayi mungilnya bepergian.


"Baiklah jika itu maumu, lalu kamu bagimana Put?" Bu Susan langsung bertanya juga kepada Putri.


"Putri ikut Rara saja Bu, tidak mungkin Putri membiarkannya sendirian disini." Putri merasa tidak tega jika harus meninggalkan Rara hanya berdua dengan anaknya.


Keesokan harinya Bu Susan langsung berangkat ke kota bersama Suami dan Neneknya.

__ADS_1


°°°°


__ADS_2