Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part.144


__ADS_3

Karena sudah menjelang tengah malam, semua keluarga berpamitan untuk pulang. begitupun dengan Juna dan Rara. namun Baby Zie mereka tinggalkan disana dengan alasan kasihan jika di bangunkan namun itu hanya alasan Juna saja. karena Juna ingin berduaan di rumah. Bu Farah juga tidak mempermasalahkan jika Baby Zie menginap disana. karena dulu sebelum Juna membeli rumah, memang Baby Zie sudah terbiasa tidur bersama Bu Farah.


Juna dan Rara sudah sampai ke rumah mereka. karena jaraknya dekat jadi mereka hanya berjalan kaki saja. Juna langsung mengajak Istrinya istirahat. malam ini mereka langsung tidur karena sudah malam. seperti biasa Juna memeluk Istrinya saat tidur.


Pagi ini keduanya menikmati hari libur mereka. Juna niatnya akan mengajak Rara jalan-jalan hanya berdua saja. Baby Zie tidak ikut karena masih di rumah Bu Farah. dan juga menolak untuk pulang.


Rara sudah bersiap dengan penampilannya yang cantik. jika dulu Rara lebih suka memakai kulot, kali ini dia harus memakai gamis jika akan bepergian.


Rara menghampiri suaminya yang sibuk menyisir rambutnya sambil bercermin.


"Mas ayo cepat kita pergi, Rara sudah tidak sabar pergi jalan-jalan." pinta Rara


"Aduh Istri cantik tidak sabaran sekali sih." ucap Juna lalu menggandeng tangan Istrinya.


Baru juga melangkah Juna mendengar ponsel miliknya berbunyi. Juna merogoh kantong celananya dan melihat panggilan telfon itu dari manager kantor cabang.


"Iya hallo" Juna mengangkat panggilan telfon itu.


"Apa....?" Juna kaget mendengar penuturan dari kepala manager perusahaannya yang menelfon.


Setelah panggilan itu selesai Juna kembali menaruh ponsel miliknya ke dalam saku celananya. Juna bimbang untuk mengatakan ini kepada Istrinya. dia tidak enak jika harus menunda acara jalan-jalannya karena dia harus buru-buru pergi ke luar kota.


"Ada apa Mas?" Rara bertanya kepada Juna saat melihat Juna sudah mengakhiri panggilan telfonnya.


"Maafkan Mas yah sayang, sepertinya kita harus menunda dulu jalan-jalan kita." Juna merasa tak tega mengatakan itu.


"Memangnya kenapa Mas? siapa yang menelfon tadi?"


"Itu dari manager di perusahaan cabang. beliau mengatakan jika ada sedikit masalah di bagian keuangan. jadi Mas harus segera kesana untuk mengeceknya sendiri." jelas Juna kepada Istrinya.


"Kenapa tidak nyuruh Mas Rey saja sih yang pergi?"


"Tidak bisa sayang, Rey dan Putri sedang bahagia-bahagianya karena kehamilan Putri. Mas tidak mau mengganggu momen mereka. maaf yah sayang, apa kamu marah?" Juna meraih kedua tangan Istrinya saat berbicara.


"Tidak" ucap Rara sambil mengalihkan pandangannya.


"Ayolah sayang, secepatnya Mas akan pulang." Juna mencoba untuk membujuk Istrinya agar tidak merajuk.


"Tapi jangan lama-lama Mas." Rara langsung memeluk suaminya dan tiba-tiba saja menangis.


"Loh kenapa kamu menangis sayang?"

__ADS_1


"Nanti kalau Mas Juna tidak ada siapa yang memeluk Rara saat tidur?"


Juna merenggangkan pelukan Istrinya. mereka saling tatap dan cup. satu ciuman mendarat di bibir Istrinya. Juna tersenyum menatap Istrinya dan kembali memeluknya sambil mengelus kepalanya yang tertutup jilbab.


"Kamu ikut saja yah sayang. Mas tidak tega jika Istri Mas ini nangis terus seharian." ucap Juna


"Yey jalan-jalannya lebih jauh dari yang kita rencanakan." Rara senang karena Juna mengajaknya untuk pergi. sebenarnya bisa saja sejak tadi dia mengatakan kepada suaminya itu jika dirinya ingin ikut. namun Rara sedang manja-manjanya dan ingin terus di perhatikan oleh suaminya.


"Iya nanti kalau urusan pekerjaan sudah selesai kita bisa jalan-jalan disana." ucap Juna


"Tapi Baby Zie ikut tidak?"


"Nanti coba kita ajak saja sayang."


"Baiklah"


Juna dan Rara pergi ke rumah Bu Farah untuk mengajak Baby Zie pergi. namun Baby Zie menolak dengan alasan mau main saja sama Baby Al. setelah itu mereka langsung kembali ke rumah mereka untuk menyiapkan pakaian yang akan mereka bawa.


Sore harinya mereka berangkat. sepanjang perjalanan Rara hanya tidur saja.


Kini mereka sudah sampai di tempat tujuan. Juna membangunkan Istrinya saat sampai di depan hotel mewah.


"Sayang ayo bangun, kita sudah sampai." Juna menepuk pelan bahu Istrinya.


"Kita dimana ini Mas?" Rara yang kesadarannya baru saja terkumpul langsung bertanya kepada suaminya.


"Kita di parkiran hotel, kita akan menginap di hotel ini karena jaraknya dekat dengan perusahaan." ucap Juna


"Sekalian bulan madu ya Mas."


"Mana ada bulan madu perutnya sudah buncit."


"Memangnya cuma pengantin baru saja yang boleh bulan madu. justru wanita hamil lebih berpengalaman."


"Iya deh Mas percaya, saking berpengalamannya sampai-sampai di dalam perut ada dua kehidupan."


"Iya dong" jawab Rara penuh percaya diri.


"Tapi tetap aja kalau Mas tidak ikut adil pasti ini perut tidak buncit." ucap Juna sambil mengelus pelan perut Istrinya.


"Kita jadi masuk tidak Mas?"

__ADS_1


"Eh iya malah asyik mengobrol disini. ayo sayang kamu turun duluan." Juna meminta Istrinya terlebih dahulu turun dari mobil.


Mereka berjalan memasuki hotel untuk cek in. Juna menarik koper besar berisi baju miliknya dan baju Istrinya.


Setelah cek in mereka langsung menuju ke kamar yang akan mereka tempati. karena sudah lelah keduanya memutuskan untuk tidur.


Pagi harinya Juna sudah bersiap untuk ke kantor. Rara yang merengek untuk ikut ahirnya di perbolehkan. tadinya Juna memintanya untuk menunggunya saja di kamat hotel. tapi Rara pasti merasa bosan jika hanya sendirian disana. akhirnya dia memutuskan untuk ikut bersama suaminya.


Juna memasuki perusahaannya dengan setia menggandeng Istrinya. banyak pasang mata yang kagum dengan pasangan ini yang terlihat romantis.


Juna sudah sampai di ruangan kepala Manager yang kemarin menelponnya.


"Selamat pagi Tuan Juna, Nyonya--" lelaki itu tidak tahu nama istri bosnya jadi menggantung perkataannya.


"Namanya Rara" ucap Juna


"Nyonya Rara, iya maaf saya tidak tahu."


Rara hanya tersenyum menatapnya.


Juna mulai mengecek berkas data pengeluaran uang dan data pemasukan perusahaan. disana tampak tidak ada hal yang mencurigakan karena tidak ada transaksi yang sengaja dilakukan secara pribadi.


"Apa Mas sudah menemukan titik terangnya?" Rara yang sejak tadi hanya memandang Juna kini angkat bicara.


"Belum sayang, Mas masih mengecek."


Rara ikut melihat berkas yang sedang dibaca oleh suaminya.


"Memang semua produk disini harganya semahal ini yah?" tanya Rara


"Karena ini perusahaan yang membuat barang-barang kualitas ori jadi harganya sedikit lebih mahal." jawab Juna


"Lihatlah Mas, ini Mah bukan mahal lagi tapi mahal banget. jangan-jangan ini data palsu." ucap Rara


"Maksudnya di manipulasi gitu."


"Iya Mas, kayak di sinetron-sinetron."


Juna kembali memikirkan perkataan Istrinya. bisa saja benar yang di katakan oleh Istrinya. data pengeluaran uang sengaja di manipulasi agar tidak ketahuan pengeluaran pribadi yang di lakukan secara kesengajaan.


"Baiklah, Mas tahu apa yang harus Mas lakukan."Juna tampak menyunggingkan senyumannya.

__ADS_1


Hanya seharian saja semua titik terang dan bukti-bukti sudah Juna ketahui. ternyata salah satu karyawannya ada yg korupsi untuk kepentingan sendiri. bahkan rincian data asli yang sesungguhnya di sembunyikan di tempat yang susah di jangkau karyawan lainnya. Juna langsung memecat karyawannya yang korupsi itu. Juna tidak meminta uang itu kembali dan tidak membawanya ke jalur hukum. itu semua karena dia berbaik hati. apalagi yang korupsi ini karyawannya yang berasal dari kalangan bawah.


Juna dan Rara sudah kembali ke hotel. mereka berniat untuk istirahat saja di kamar. dan rencana jalan-jalan mereka di tunda besok saja. besok seharian Juna akan menyenangkan Istrinya dengan pergi ke tempat pariwisata yang ada di kota itu.


__ADS_2