Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_20


__ADS_3

Rara tampak gelisah setelah kepergian suaminya. bahkan dirinya belum bisa tidur. tapi baru saja dia akan memejamkan matanya, ada suara seseorang yang membuka pintu.


Sebuah senyuman tersungging di bibir manisnya. Rara langsung beranjak dari ranjang dan melangkah keluar kamar. dan benar saja suami yang dia rindukan akhirnya pulang juga.


"Mas" Rara berjalan menghampiri Juna yang sedang mengunci kembali pintu depan.


Mungkin karena saking senangnya sampai-sampai Rara tidak melihat penampilannya sekarang ini yang hanya menggunakan hotpants dan tanktop saja dan juga rambut panjangnya di gerai sehingga terlihat indah.


Juna menatap Rara tanpa berkedip. sungguh berutung bisa memiliki istri secantik dan sesabar Rara. tapi dia mencoba menepis semua pemikiran itu. karena niat awal bukan mencintai namun menyakiti.


"Ngapain keluar?" tanya Juna sinis


"Kangen sama kamu Mas, mau langsung mandi atau tidak Mas biar Rara siapin air hangatnya."


"Tidak usah, saya sudah mandi." lalu pergi melewati Rara begitu saja.


Sebenarnya ada banyak pertanyaan di benak Rara. dia penasaran suaminya itu kerjanya apa. kenapa bisa pulang sesuka hatinya. terus kalau dia tidak pulang ke kontrakan, suaminya itu menginap dimana dan masih banyak lagi hal yang belum Rara ketahui.


Selama ini dia hanya mengira jika suaminya bekerja jadi tukang sayur atau sejenisnya seperti dulu di kampung. sebenarnya dia penasaran tapi bukannya tidak mau bertanya tapi dia takut jika bertanya malah kena omelan.


Rara segera kembali ke kamarnya, walaupun Juna tampak cuek tapi Rara tetap bersyukur setidaknya suaminya itu mau pulang ke kontrakan. sekarang dia bisa tidur dengan tenang.


°°°°°°°°


Pagi sekali Rara sudah rapih dengan penampilannya. walaupun berpenampilan sederhana tanpa make up tapi masih tetap terlihat cantik.


Juna yang baru bangun lalu keluar kamar mendapati Rara sedang memakai sepatu kets miliknya.


"Mau kemana?" tanya Juna


"Aku mau cari pekerjaan Mas, oh iya kalau Mas lapar tadi aku sudah masak nasi goreng. Mas buka saja tutup saji yang ada di atas meja makan." Raina berbicara dengan sangat ramah kepada suaminya.

__ADS_1


"Oh ya sudah pergilah!" lalu Juna berbalik dan menuju ke dapur.


Rara yang melihat suaminya mau makan masakannya untuk yang kedua kalinya merasa sangat senang. Rara meninggalkan kontrakannya dengan suasana hati yang tenang.


Rara yang sedang berjalan kaki melewati mini market tidak sengaja melihat Rey yang baru keluar dari mini market itu.


"Mas Rey" Rara menyapa Rey yang baru keluar.


"Eh Rara kok ada disini? habis dari mana?" tanya Rey


"Habis keliling cari pekerjaan." lalu mereka duduk di kursi depan minimarket.


Rey yang melihat Rara tampak kelelahan merasa kasihan.


"Ini minumlah" sambil menyodorkan aqua dingin miliknya.


"Terimakasih" Rara menerima aqua dingin itu.


"Saya masih ada lagi." sambil memperlihatkan kantong kresek berisi cemilan miliknya.


"Oh iya jadi bagaimana pekerjaannya? apakah sudah dapat?" tanya Rey


"Belum Mas" Rara tetap tersenyum di hadapan Rey.


"Sebenarnya sih Mas ada info lowongan kerja. tapi kira-kira kamunya mau atau tidak?" ucap Rey


"Kalau Rara sih yang penting pekerjaan itu halal. Insya'allah Rara akan terima."


"Baiklah kalau begitu Mas minta surat lamaran pekerjaan kamu. harus lengkap tentunya, kebetulan di perusahaan tempat mas bekerja sedang ada lowongan bagian Office girl."


"Eh sebentar Mas!" Rara mengambil amplop coklat di tas miliknya.

__ADS_1


"Ini kebetulan Rara sudah bawa." lalu memberikannya kepada Rey.


"Kamu tunggu saja cantik, Mas jamin kamu langsung di terima kerja."


"Terimakasih ya Mas atas bantuannya."


"Sama-sama cantik" lalu Rey berpamitan untuk pulang karena ada urusan lain.


Rara kembali pulang ke kontrakan. tidak lupa dia mampir ke warung membeli bahan makanan untuk dimasaknya nanti sore.


Tidak seperti biasanya, kedatangan rara disambut oleh suaminya.


"Sudah pulang?" tanya Juna


"Sudah Mas, Mas tidak pergi kerja?" tanya Rara


"Tidak, hari ini dan besok Mas memilih libur. Mas mau menikmati kebersamaan kita berdua."


Rara yang mendengar itu tampak tak percaya, bahkan dia menepuk pipinya karena ini seperti mimpi.


"Aw" rintih Rara setelah menepuk pipinya.


"Kamu kenapa kok aneh sih?" tanya Juna


"Rara kira ini mimpi mas" ucapnya


"Ini bukan mimpi" Juna menempelkan tangannya ke pipi istrinya.


Sungguh ini nyata, Mas Juna akhirnya mau melihat keberadaanku." batin Rara sambil tersenyum menatap suaminya.


Maafkan aku Ra, setidaknya sebelum kita berpisah. aku bisa membuatmu tersenyum walaupun hanya sekali." batin Juna menatap wajah cantik istrinya.

__ADS_1


__ADS_2